Perhatikan Caramu dalam Berdakwah !

Perhatikan Caramu dalam Berdakwah !

khazanahalquran.com – Masih dalam seri 5 menit lebih dekat bersama Rasulullah saw di bulan kelahiran beliau.

Seri kesembilan adalah bimbingan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw tentang cara berdakwah.

Allah swt berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl:125)

Dakwah adalah salah satu tugas terpenting Nabi. Semua nabi sebelumnya pun diutus oleh Allah untuk berdakwah.

Tidak hanya itu, Allah juga memberi bimbingan tentang cara berdakwah yang benar dan tepat.

Bila kita simak dengan teliti, ayat diatas memberi pesan-pesan penting sebagai berikut :

1. Ajaklah manusia menuju jalan Tuhanmu.

Tidak ada tujuan lain selain Allah swt. Jangan ada yang berdakwah untuk dirinya, kelompoknya, komunitasnya dan tujuan-tujuan lain. Tujuannya hanya satu yaitu menuju Allah swt.

2. Dakwah harus disertai dengan hikmah.

Artinya ketika kita mengajak orang lain, jangan asal menyampaikan. Harus disertai dengan dalil dan argumentasi yang jelas.

3. Dakwah juga harus dibarengi dengan Mauidhotul Hasanah.

Artinya sampaikan sesuatu yang indah dan menyentuh hati. Sehingga kata-kata kita bisa masuk dan diterima oleh manusia yang hatinya terbuka untuk mendengar dan menerima kebenaran.

4. Bila harus berdebat, gunakan cara yang terbaik !

Ketika berdakwah gunakan cara yang baik, namun ketika berdebat kita dibimbing untuk menggunakan cara yang “terbaik”.

Mengapa?

Agar tidak ada hati yang tersinggung, agar tidak ada hati yang tersakiti.

5. Ayat ini juga menegaskan bahwa tugas seorang Rasul hanyalah menyampaikan kebenaran dengan seluruh argumen dan dalilnya. Kemudian apakah orang yang didakwahi menerima atau tidak bukanlah urusan yang menyampaikan.

Tidak boleh ada paksaan dan tekanan. Tugas kita hanyalah menyampaikan !

Karena itu Allah akhiri ayat-Nya dengan kalimat :

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Poinnya, setiap orang yang ingin meneruskan perjuangan dakwah Nabi harus memperhatikan hal-hal diatas. Gunakan cara yang baik, jangan ada caci mencaci dan kata-kata kasar yang menyinggung hati orang lain.

Sampaikan dengan argumentasi yang anda miliki, lalu orang lain menerima atau tidak bukan urusan anda.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.” (QS.Al-Ghasyiyah:21)

Karena Allah hanya akan menanyakan, “Sudahkah engkau sampaikan?”

Dan Allah tidak akan bertanya, “Apakah orang yang mendengar dakwahmu menerima atau tidak?”

Semoga bermanfaat..

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 145 pelanggan lain