Mungkinkah Kedamaian itu Terwujud?

Mungkinkah Kedamaian itu Terwujud?

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan Allah menyeru (manusia) ke rumah kedamaian (surga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).” (QS.Yunus:25)

Kedamaian dan keamanan adalah cita-cita terbesar manusia. Setiap bayi yang lahir punya harapan untuk hidup tenang, aman dan damai. Namun mungkinkah kedamaian itu terwujud?

Jika mungkin, bagaimana mewujudkan kehidupan dan lingkungan yang aman dan damai?

Jawabannya adalah kedamaian itu sangat mungkin untuk terwujud !

Karena Allah lah yang pertama kali menyeru kita untuk menuju kedamaian di dunia dan kedamaian di akhirat. Damai dengan diri sendiri dan damai dengan masyarakat dan lingkungan. Maka mustahil bila Allah menyeru kepada sesuatu yang mustahil dapat diwujudkan.

Kedamaian itu seperti pohon. Bibitnya berada didalam hati namun batangnya (hasilnya) tampak dalam kehidupan manusia. Itulah yang disebut dalam bahasa Al-Qur’an sebagai “Kalimah Toyyibah”, yang akarnya kuat sementara batangnya menjulang ke langit dan selalu memberi manfaat dari buah-buahnya.

Kedamaian adalah ketenangan hati dan jiwa. Lalu bagaimana cara mewujudkan kedamaian itu?

Pertama

Kedamaian adalah lawan dari rasa dengki, fanatisme, kebencian dan kebiasaan-kebiasan jahiliyah. Bila ingin kedamaian terwujud, semua harus dimulai dari hati.

Ketika hati telah dipenuhi dengan rasa ingin damai dan aman, maka seseorang akan berusaha mencari cara untuk memperbaiki diri dan mencari ketenangan hati. Dan semua itu akan diraih ketika kita mampu melawan sifat-sifat buruk diatas.

Kedua

Ketika hati telah dipenuhi dengan kedamaian, ia akan berusaha menjadi yang terbaik bagi sekitarnya. Menjadi anak terbaik bagi orang tuanya, suami terbaik bagi istrinya, ayah terbaik bagi anaknya dan menjadi yang terbaik bagi sekitarnya. Semua itu dia lakukan dengan hati yang damai, yang bersih dari kesombongan dan perbuatan dzalim.

Ketiga

Ketika dua step diatas telah dijalani. Maka tahapan ketiga adalah menjadi agen-agen perdamaian. Tak cukup dengan membangun kedamaian dalam diri, kita juga harus menyebarkan kedamaian ini kepada semua orang, dengan ucapan dan juga perbuatan.

Salah satu nama Allah adalah As-Salam. Dia lah sumber kedamaian di alam semesta. Ketika seorang mukmin menyembah dan mencintai Tuhannya, dia akan merasakan fase kedamaian yang tertinggi. Dimana ia merasakan kedamaian bersama Allah dan seluruh ciptaan-Nya. Sehingga hidupnya dipenuhi cinta dan damai. Dan setiap hal yang muncul dari dirinya adalah hal-hal yang positif.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh bagi orang-orang mukmin. Seluruh sisi dari ajaran Islam mengantarkan kepada cinta dan kedamaian. Tapi yang mengherankan dan sangat-sangat aneh, mengapa banyak dari kaum muslimin yang menghabiskan hidupnya dalam kebencian, peperangan dan permusuhan?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 142 pelanggan lain