Berwisata Menuju Allah Swt !

Berwisata Menuju Allah Swt !

khazanahalquran.com – Traveling atau pergi berwisata sudah menjadi kebutuhan bagi manusia di zaman ini. Tempat-tempat wisata tumbuh subur dan selalu dipenuhi masyarakat di hari-hari libur mereka.

Apa yang dicari seseorang dalam berwisata?

Tentunya mereka ingin melepas kepenatan dan kejenuhan yang mereka jalani dalam rutinitas sehari-hari, lalu mencari ketenangan dan kesenangan untuk merefresh otak dan jiwa mereka.

Namun seringkali manusia fokus kepada wisata yang memberi efek “kebahagiaan” yang sementara, padahal ada pula wisata yang memberi pengaruh dan “kenikmatan” yang panjang.

Wisata apakah itu?

Yaitu wisata seorang hamba menuju Tuhannya. Juga sering disebut perjalanan atau hijrah menuju Allah swt.

Dalam sebuah ayat  Nabi Ibrahim as menyebutkan,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS.Ash-Shaffat:99)

وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berhijrah menuju Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS.Al-Ankabut:26)

Tiada wisata yang lebih indah dari wisata ruh untuk terus mendekat kepada Allah swt. Sebuah perjalanan yang tidak hanya memberi kesenangan sesaat, tapi memberi kebahagiaan yang abadi.

Berhijrah menuju Allah artinya pergi dan menjauh dari semua larangan-Nya. Setiap kali seorang hamba semakin mendekat dan mendekat kepada Allah maka ia akan menemukan hidup yang penuh dengan ketentraman, bagaimanapun kondisi yang ia hadapi.

Bila seorang yang mendekat kepada Allah namun tidak menemukan ketenangan dihatinya maka pasti ia sedang salah jalan.

Karena ketika hati telah dekat kepada Allah, maka semua rasa lelah, gelisah dan kesedihan dalam hati akan sirna.

Maka sungguh mengherankan bila seorang hamba berhenti dari mendekat kepada Allah bahkan malah menjauhinya dengan menerjang dosa-dosa. Bagaimana ia rela meninggalkan jalan kebahagiaan yang sebenarnya dan memilih kesenangan-kesenangan sesaat yang mengantarkan pada kesengsaraan abadi?

Semoga bermanfaat….

Komentar

Comments 5

  1. Anonim says:

    Bagus!!! Lanjut sebelum gempa meruntuhkan kita, sebelum tsunami menyapu kita, sebelum lumpur dan lahar menimbun kita, sebelum banjir bandang menghanyutkan kita, MARI KITA BERLINDUNG DAN MINTA TOLONG DAN MENDEKAT PADA NYA. AAAMIIN.

  2. Kamsiri sobirin says:

    Bagus!!! Lanjut sebelum gempa meruntuhkan kita, sebelum tsunami menyapu kita, sebelum lumpur dan lahar menimbun kita, sebelum banjir bandang menghanyutkan kita, MARI KITA BERLINDUNG DAN MINTA TOLONG DAN MENDEKAT PADA NYA. AAAMIIN.

  3. Anonim says:

    Hukum imam sholat baca mushab?

  4. Wuryasih says:

    Hijrah harus istiqomah. . Sampai merasakan begitu dekatnya kita kepadaNya..dengan tawakal. .kita tidak akan merasa terzalimi oleh keadaan dan tidak bersedih hati…

  5. BAIDAWI says:

    Sungguh nenarik tentang hijrah ini,
    Jika tulisan di atas sedikit menjelaskan tentang hijrahnya Nabi Ibrahim (‘Alaihis Salam), maka puncak dalam perjalanan hijrahnya adalah keyaqinan yg sangat kuat disertai rasa cinta yg sangat mendalam kepada Allah (Azza Wa Jalla). Diasingkannya Sayyidah Hajar (‘Alaihas Salam), sang Istri tercintanya yg telah melahirkan sang putra pertama idamannya (Isma’il), ketika putra idamannya ini msh kecil. Keluarga tercintanya ini diasingkan di tengah-tengah padang tandus kering gunung bebatuan. Demikian dilakukan karena demi menunaikan perintah Tuhan Sang Pencipta Alam.
    Sungguh pengasingan di daerah tandus kering yg secara logika, keluarga tercinta ini tidak mungkin bisa bertahan hidup. Namun, dari peristiwa ini ternyata Sang Pencipta bermaksud memperlihatkan sejatinya cinta bahwa Ia lah Sang Cinta. Justru, keluarga tercinta ini dibelai dg rahmat cinta, yakni ketika keluarga tercinta ini sekarat kehausan dan kelaparan setelah mondar – mandir tujuh kali kebingungan mencari air di bawah panasnya sengatan terik matahari di tengah-tengah bentangan luas pegunungan pasir bebatuan yg tandus dan kering, kemudian di tengah – tengah itu pula air zam-zam disemburkan dari tanah tandus tersebut oleh Allah hingga menjadi sumur zam-zam yg kemudian di sekitar sumur ini banyak ditempati pemukiman warga.
    Tidak hanya sampai di sini saja, riwayat hijrah Nabi Ibrahim pun dilanjutkan. Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan tidak mendengar kabar keluarga tercintanya yang diasingkan tersebut, Sang Nabi yang dengan ajaran al-Hanif ini pun diperintahkan oleh Allah (Azza Wa Jaalla) untuk mencari dan mendatangi keluarga tercintanya ini serta diperintahkan untuk menyembelih putra pertama tercintanya (Ismail) yg sudah berusia 25 tahun. Sungguh, perintah Tuhan ini mengecamuk antara rasa cinta kepada-Nya dan kepada anak/ keluarga yang memang sangat dicintainya. Singkatnya, Nabi Ibrahim pun merelakan dan memasrahkan diri kepada-Nya serta Perintah pun dilaksanakan. Meski akhirnya ketika hampir disembelih, ketika nabi Ismail merelakan dan memasrahkan diri kepada Nabi Ibrahim, sang Ayahanda tercintanya, semata-mata karena Allah (Sang Pencipta Alam). Begitu pula Nabi Ibrahim, hingga ketika sebilah pisau sudah diarahkan sampai di tenggorokan leher Nabi Ismail, kemudian diperintahkan oleh Allah supaya penyembelihan tidak perlu diteruskan namun digantikan melalui menyembelih kambing yang sudah berada di sebelah Nabi Ismail.
    Peristiwa pertama tersebut inilah yang kemudian diabadikan oleh Baginda Nabi Rasulullah Muhammad (Sallâhu ‘Alaihi Wa Âlihi Wa Bâraka Wa Sallam) melalui ritual Sa’i dalam pelaksanaan ibadah Haji sebagai kesempurnaan dalam rukun Islam. Adapun peristiwa kedua, penyembelihan sang putra tercinta, diabadikan dalam bentuk Ibadah Pelaksanaan Qurban pada Hari Raya Idul Adha / Hari Raya Qurban. Dua peristiwa ajaran al-Hanif riwayat Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il yang diabadikan oleh Baginda Nabi Rasulullah ini dalam ajaran hukum Islam dikenal dengan kaidah (as-Syar’u Man Qablana).
    Sungguh riwayat hijrah yang diliputi pergumulan rasa cinta kepada Sang Cinta Yang Maha Cinta. Jika demikian riwayat hijrah Nabi Ibrahim, bagaimanakah riwayat hijrah Penutup Para Nabi, Baginda Rasulullah Muhammad (صلى الله عليه وآله وبارك وسلم) ???
    #baid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 145 pelanggan lain