Manusia Sungguh Terlalu

Manusia Sungguh Terlalu

khazanahalquran.com – Manusia adalah makhluk yang unik. Sebagai ciptaan yang paling mulia Allah memberikan anugerah akal yang begitu besar nilainya. Tiada satu pun makhluk yang diberi kemuliaan ini selain manusia.

Namun tak banyak dari mereka yang benar-benar menggunakan akal dengan sebaik-baiknya. Manusia lebih banyak meliburkan akalnya dan memilih hawa nafsu sebagai penunjuk jalan.

Al-Qur’an beberapa kali merekam sikap-sikap manusia yang “tak masuk di akal”. Dihadapan dua pilihan yang sangat menentukan, sebagian dari mereka justru memilih sesuatu yang membinasakan dirinya. Seakan mereka tak memiliki akal untuk berpikir.

Maka jangan heran bila Al-Qur’an seringkali mengulang pertanyaan yang sama,

أَفَلَا تَعۡقِلُون

“Tidakkah kamu berpikir?” (QS.Al-Baqarah:44)

Nah kali ini kita akan menyebutkan beberapa fenomena unik yang diabadikan oleh Al-Qur’an tentang sikap manusia yang melampaui batas bahkan untuk keselamatan dirinya sendiri.

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ

“Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS.Ibrahim:34)

1. Anak Nabi Nuh as diajak untuk menyelamatkan diri oleh ayahnya, namun ia memilih untuk lari menuju kebinasaan.

قَالَ سَـَٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ

Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” (QS.Hud:43)

2. Kisah pemilik dua kebun yang congkak.

Allah swt telah menganugerahinya dua kebun yang sangat subur dan selalu menghasilkan. Bahkan kebun itu disifati oleh Al-Qur’an dengan sifat “tidak pernah mendzalimi pemiliknya”.

كِلۡتَا ٱلۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِم مِّنۡهُ شَيۡـٔٗاۚ وَفَجَّرۡنَا خِلَٰلَهُمَا نَهَرٗا

“Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun, dan di celah-celah kedua kebun itu Kami alirkan sungai.” (QS.Al-Kahfi:33)

Namun begitulah sifat dzalim manusia. Dengan semua kenikmatan yang ia miliki, tidak ada sedikitpun rasa syukur dalam hati. Ia memasuki kebunnya dengan penuh keangkuhan dan kedzaliman seakan ia adalah pemilik sejati.

وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدٗا

“Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap mendzalimi (merugikan) dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur); dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS.Al-Kahfi:35)

Kebun itu tak pernah mendzalimi pemiliknya, namun pemilik kebun itu terus berbuat dzalim.

“Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Semoga bermanfaat…

Komentar

Comments 1

  1. Anonim says:

    Ijin share ustds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 177 pelanggan lain