Kesabaran Adalah Jembatan Menuju Masa Depan yang Cerah !

Kesabaran Adalah Jembatan Menuju Masa Depan yang Cerah !

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah:153)

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS.Al-Mu’minun:111)

Dan masih banyak ayat yang mendorong manusia untuk bersabar. Allah swt memposisikan kesabaran itu begitu mahal hingga Allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi hamba yang bersabar.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah :

“Bagaimana cara menanamkan kesabaran itu dalam diri kita?

Bagaimana kita bisa menghadapi semua masalah dan rintangan hidup dengan kesabaran?

Lalu apakah Al-Qur’an memberi petunjuk tentang cara agar kita mampu bersabar?”

Perlu kita renungkan bahwa alasan seseorang bersabar adalah menghadapi masalah yang terjadi hari ini dengan berharap akan ada kebaikan di hari-hari selanjutnya.

Namun seorang mukmin memiliki pandangan yang lebih jauh. Dia yakin bahwa masa di dunia ini amatlah singkat sementara kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat.

Pada saatnya setiap orang akan kembali, lantas mengapa ia harus meratapi nasib dan membuang kesabaran dalam hatinya? Bukankah dengan ia bersabar maka kebahagiaan di akhirat akan menantinya?

Karena itulah ketika musibah datang, mereka hanya berucap :

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS.Al-Baqarah:156)

Seorang mukmin yakin bahwa :

1. Setiap manusia akan kembali kepada Tuhannya.

2. Segala sesuatu yang ia miliki sebenarnya adalah titipan dan pemilik sebenarnya adalah Allah swt.

3. Maka dua keyakinan diatas akan memberi ketenangan di hatinya. Ketika mendapatkan sesuatu ia tidak terlalu bahagia dan ketika kehilangan ia tidak terlalu bersedih.

Mungkinkah seseorang akan meratapi hidup hanya karena “barang titipan” yang diambil oleh pemiliknya?

Mungkinkah seseorang akan berputus asa ketika kesabarannya akan digantikan dengan pahala Allah yang tanpa batas?

Semoga bermanfaat…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 142 pelanggan lain