Kemuliaan Yang Sama Dalam Kondisi Yang Berbeda

Kemuliaan Yang Sama Dalam Kondisi Yang Berbeda

khazanahalquran.com – Al-Qur’an adalah samudera yang begitu luas. Semakin dalam kita mengarunginya maka akan semakin bermunculan keindahan-keindahan didalamnya. Kali ini kita akan menyimak salah satu keindahan Al-Qur’an yang memberikan pelajaran berharga didalamnya.

Allah swt memberikan pujian yang sama kepada dua hamba yang kondisinya jauh berbeda. Pujian itu diabadikan dalam firman-Nya,

وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

“Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS.Shad:30)

إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS.Shad:44)

Disana ada Nabiyullah Sulaiman as dan Nabiyullah Ayyub as. Keduanya sama-sama mendapat ujian kehidupan dari Allah swt. Nabi Sulaiman as di uji dengan kekuasaan dan kenikmatan yang luar biasa, sementara Nabi Ayyub as di uji dengan penyakit dan kesulitan hidup yang dahsyat pula.

Uniknya, kedua Nabi ini mendapat pujian yang sama walaupun kondisi mereka jauh berbeda. Nabi Sulaiman mendapat pujian ini karena besarnya rasa syukur kepada Allah sementara Nabi Ayyub as mendapatkan kemuliaan ini karena dahsyatnya kesabaran yang beliau miliki.

نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ

“Dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).”

Dua kondisi yang berbeda mendapatkan kemuliaan yang sama karena ketaatan mereka kepada Allah swt. Dari dua kisah ini kita mendapatkan pelajaran yang sangat indah bahwa :

Pelajaran pertama

Bagaimanapun kondisimu, apakah engkau sedang dalam puncak kenikmatan atau sedang terhimpit kejamnya kehidupan, ingatlah bahwa Tidak ada alasan untuk meninggalkan ketaatan kepada Allah swt.

Terkadang manusia lupa ketika ia telah memiliki segalanya. Aturan-aturan Allah tak lagi diindahkan. Perintah dan larangan-Nya tak lagi dihiraukan. Bila engkau berada dalam kondisi semacam ini, ingatlah Nabiyullah Sulaiman yang tidak pernah meninggalkan ketaatan kepada Allah walaupun berada di puncak kenikmatan ! Ingatlah selalu bahwa semua kenikmatan itu bisa hilang dalam sekejap bila Sang Pemilik Sejati ingin mengambilnya darimu !

Dan apabila engkau mulai berpikir untuk melanggar perintah-Nya disaat berbagai masalah dan musibah sedang menghimpitmu, maka ingatlah besarnya ujian yang menimpa Nabi Ayyub as. Musibah yang menimpamu tidak sebanding dengan apa yang menimpa Nabi Ayyub, sementara beliau tidak sekalipun meninggalkan ketaatannya kepada Allah swt.

Intinya, bagaimanapun kondisimu tetaplah menjadi hamba yang taat kepada Allah swt !

Pelajaran kedua

Kehidupan manusia tidak lepas dari dua kondisi, apakah ia sedang berada dalam kenikmatan sehingga ia harus bersyukur. Atau ia sedang berada dalam musibah sehingga ia harus bersabar.

Karena itu Allah menggandengkan kata صَبَّار dan شَكُور dalam empat ayat dalam Al-Qur’an.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS.Ibrahim:5)

Semoga bermanfaat…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 177 pelanggan lain