Kekejian Para Pembohong dalam Al-Qur’an

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. (QS.An-Nahl:105)

Ayat ini membahas tentang buruknya kebohongan dengan perumpamaan yang keras. Para pembohong disetarakan dengan derajat orang-orang kafir dan mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah.

Walaupun tema ayat ini sedang membahas mereka yang mengada-adakan sesuatu tentang Allah, namun ayat ini juga menyebut tentang buruknya kebohongan secara umum.

Karena itu tidak heran jika Islam sangat-sangat memperhatikan masalah kejujuran dan anti pada kebohongan.

Contohnya :

Kejujuran dan amanat adalah tanda-tanda keimanan dan kesempurnaan manusia. Hingga  tanda keimanan seseorang lebih diukur dari kejujurannya ketimbang solatnya.
Imam Ja’far As-Shodiq (Guru dari Imam Madzhab Maliki dan Hanbali) berpesan,

“Jangan melihat pada lamanya rukuk dan sujud seseorang, karena hal itu adalah kebiasaannya dan jika ia meninggalkannya ia pun merasa gersang. Tapi lihatlah pada kejujuran perkataan dan amanahnya.”

Kejujuran dan sifat amanat adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak lah kejujuran kecuali menyampaikan amanat dalam berkata, dan tidaklah menyampaikan amanat kecuali jujur dalam berbuat.

Komentar

LEAVE A REPLY