Keimanan Tak Cukup dengan Kata-Kata

Keimanan Tak Cukup dengan Kata-Kata

khazanahalquran.com – Keimanan seseorang tidak cukup hanya diungkapkan dengan lisan. Dibalik pengakuan tentang keimanan seseorang ada tanggung jawab dan konsekuensi yang harus ia laksanakan.

Ketika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka kalimat ini memiliki konsekuensi bahwa :

Seluruh pola kehidupan kita harus sesuai dengan kalimat syahadat yang telah kita ucapkan.

Karena itu dalam surat An-Nisa’ Allah swt berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.An-Nisa’:65)

Ayat ini ingin menjelaskan bahwa belum beriman seseorang sebelum ia menyesuaikan pola hidupnya dengan cara-cara Islami dan patuh terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa keterpaksaan.

Apabila manusia hidup dengan mengaku sebagai mukmin lalu hidupnya jauh dari ketentuan Islam dan lebih memilih pola hidup yang tidak Islami, maka ia belum pantas disebut sebagai seorang mukmin sejati.

Rasulullah saw adalah sentral yang dapat membuktikan keimanan seseorang. Karenanya pada ayat diatas disebutkan bahwa ada tiga syarat seseorang disebut beriman, yaitu :

1. Mengembalikan semua permasalahan kepada Rasulullah saw.

2. Menerima semua keputusan dan ketentuan Nabi tanpa berkeberatan.

3. Pasrah terhadap semua yang ditetapkan oleh Rasulullah saw.

Iman memerlukan bukti dan sentral untuk pembuktian keimana itu adalah menghadirkan Rasulullah saw dalam hidup kita.

Bila kita perhatikan, pada ayat sebelumnya juga ada tiga hal yang perlu kita perhatikan untuk menjaga keimanan dalam hati kita. Dan tiga hal ini juga menjadikan Rasulullah saw sebagai penentu keimananan dan keselamatan seorang hamba.

1. Datang kepada Rasulullah saw

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ إِذ ظَّلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ جَآءُوكَ

“Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzhalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad).”

2. Memohon ampunan kepada Allah.

فَٱسۡتَغۡفَرُواْ ٱللَّهَ

“Lalu memohon ampunan kepada Allah.”

3. Dimohonkan ampunan oleh Rasulullah saw.

وَٱسۡتَغۡفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ

“Dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka.”

Maka hasil yang akan didapat adalah :

لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّابٗا رَّحِيمٗا

“Niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS.An-Nisa’:64)

Dalam ayat lainnya Allah swt berfirman,

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujurat:14)

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang hanya pandai mengucapkan iman dengan lisan tanpa ada tanggung jawab untuk melaksanakan semua konsekuensi dari keimanan tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 170 pelanggan lain