Jangan Pernah Menawar Ketentuan Allah !

Jangan Pernah Menawar Ketentuan Allah !

khazanahalquran.com – Allah swt mengabadikan percakapan antara Nabi Nuh as dan putranya pada detik-detik terakhir sebelum banjir dahsyat itu terjadi. Banjir yang menelan seluruh penduduk bumi selain segelintir orang yang menaiki perahu Nuh as.

Inilah isi percakapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman :

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS.Hud:42)

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!”

قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ

(Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.”

وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

(QS.Hud:43)

Kisah ini memberi pelajaran yang begitu indah…

Disaat seseorang lebih mengandalkan akalnya yang terbatas dibanding peringatan Allah maka ia akan tenggalam dalam lautan kesalahan.

Putra Nuh menganggap buah pikirannya bisa menyelamatkannya dari kebinasaan. Ia menolak perintah Allah untuk menaiki kapal dan lebih memilih untuk naik ke atas bukit. Lalu apa yang terjadi? Akhirnya ia pun ditelan oleh air bah yang menenggelamkan bumi.

Disaat seseorang lebih memilih hasil pikirannya sendiri dan melawan ketentuan syariat, itu artinya tidak ada keimanan dalam hatinya.

Ya, syariat memang selalu sejalan dengan akal. Tapi tidak semua ketentuan Allah mampu dicerna oleh akal manusia yang terbatas. Karena manusia pun memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam berpikir.

Karena itu jadikan akalmu mengikuti syariat dan ketentuan Allah, bukan sebaliknya.

Yakini terlebih dahulu, beriman lah terlebih dahulu, baru setelah itu silahkan mencari hikmah dan rahasia dibalik suatu perintah atau larangan. Maka dengan itu kita akan beriman kepada seluruh perintah dan larangan Allah disaat kita mengetahui alasan dibaliknya, ataupun disaat kita tidak tau apa hikmah dibaliknya.

Semoga bermanfaat…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 142 pelanggan lain