Jangan Menjadikan Musuhmu Menertawakanmu !

Jangan Menjadikan Musuhmu Menertawakanmu !

khazanahalquran.com – Kali ini kita akan mengambil pelajaran penting dari kisah Nabi Musa dan Nabi Harun as. Ketika Nabi Musa as akan pergi, beliau menitipkan umatnya kepada Nabi Harun as, saudara beliau.

Namun ketika Nabi Musa kembali, umat beliau telah berpaling dan melakukan perbuatan yang keji. Beliau pun marah melihat hal ini sampai menarik kepala saudaranya untuk menanyakan apa yang terjadi.

Kemudian Nabi Harun as menjawab seperti dalam ayat berikut ini,

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh bersorak gembira melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zhalim.” (QS.Al-A’raf:150)

Dari penjelasan Nabi Harun ini, ada sebuah pernyataan yang amat penting untuk kita perhatikan. Terutama di hari-hari ini ketika sesama saudara saling mencaci didepan khalayak umum.

فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ

“Sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh bersorak gembira melihat kemalanganku.”

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika kita menyikapi sebuah permasalahan dari golongan atau komunitas kita maka hendaknya kita menyelesaikan hal itu didalam dan jangan sampai terdengar oleh telinga musuh. Karena hal itu pasti akan membuat mereka gembira dan menertawakan kita. Sungguh mereka begitu gembira melihat kelompok kita bermasalah, bertengkar dan ribut sendiri.

Hari-hari ini kita melihat di sekeliling kita, khususnya di media sosial, maraknya kritikan yang diumbar didepan publik. Ketika ada saudara kita yang bersalah, harusnya kita mendatanginya untuk menegur atau mengingatkan bukan menyerangnya di depan khalayak umum. Hingga akhirnya masalah pribadi, masalah rumah tangga dan masalah dalam komunitas kita dapat dibaca oleh semua orang dan menjadi komsumsi publik. Sementara musuh sedang tertawa dan bersorak-sorai melihat permasalahan yang sedang kita hadapi.

Inilah bencana yang paling dahsyat. Ketika musuh menertawakan kita karena masalah dalam rumah kita terbongkar dihadapan mereka.

“Sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh bersorak gembira.”

Setelah mendengar kalimat ini, Nabi Musa  memohon ampun dan berdoa.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.” (QS.Al-A’raf:151)

Kemarahan Nabi Musa as dalam kejadian ini sangat berdalil dan memang harus ditampakkan didepan umum agar Bani Israel tahu bahwa perbuatan mereka sangat keji dan melampaui batas, dengan menjadikan anak lembu sebagai Tuhan.

Dan renungan kali ini akan kita tutup dengan sebuah doa yang penting untuk sering kita baca agar terjaga dari musuh.

((اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ، وَشَمَاتَةِ الأعْدَاءِ))

“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari terlilit hutang, terkalahkan oleh musuh dan kegembiraan musuh atas (masalahku).”

Semoga bermanfaat…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 143 pelanggan lain