Beragama Hanya Di Tepi Tidak Akan Menyelamatkanmu

Beragama Hanya Di Tepi Tidak Akan Menyelamatkanmu

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS.Al-Hajj:11)

Tidak sedikit manusia yang menyembah Allah hanya dengan retorika lisannya saja, padahal sebenarnya imannya sangat lemah. Bahkan keimanan itu belum merasuk dalam hatinya, hanya berhenti di lisannya saja.

Bahasa Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang semacam ini “hanya berdiri di tepian” saja. Dengan kata lain, ia hanya beriman dalam kata-kata dan cahaya iman belum menerangi hatinya kecuali hanya sedikit saja.

Kalimat “beriman hanya di tepian” ini juga bisa bermakna bahwa kelompok ini hanya mencicipi Iman dan Islam sementara mereka tidak mau masuk kedalamnya

Maka tentu seorang yang berdiri di tepi tidak akan bisa bertahan lama. Ketika ada sesuatu yang menggoyahkannya maka ia akan terjatuh. Begitulah analogi lemahnya iman dari kelompok manusia yang satu ini.

Pada pertengahan ayat disebutkan,

“Maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas (tenang)…”

Orang-orang semacam ini tampak beriman ketika nasib sedang berpihak kepadanya dan hidupnya sedang tentram.

Namun ketika masalah datang dan ketentraman hidupnya terancam maka dengan mudah ia akan berpaling dan meninggalkan keimanan.

“Dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang.”

Agama dan keimanan bagi mereka hanya jalan untuk mendapat keuntungan duniawi. Ketika ia mendapat apa yang ia inginkan, maka agama ini benar. Namun jika yang terjadi malah sebaliknya, maka agama ini salah !

Karena itu, apabila kita beragama dengan dasar seperti ini maka kita telah memilih kerugian yang nyata. Kerugian dan kecelakaan di dunia dan akhirat sekaligus.

Sayyidina Husain bin Ali pernah berpesan,

الدِّيْنُ لَعِقَ عَلَى أَلْسِنَتِهِمْ وَإِذَا مُحِصُوا بِالْبَلَاءِ قَلَّ الدَّيَّانُوْن

“Agama itu adalah buah bibir dari lisan-lisan mereka. Bila diuji dengan musibah maka sedikit sekali orang yang beragama.”

Lalu tanyalah pada hati kita masing-masing, bagaimana posisi agama dalam hati kita?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 142 pelanggan lain