Bagaimana Al-Qur’an Menggambarkan Hubungan Manusia dengan Dirinya ?

Bagaimana Al-Qur’an Menggambarkan Hubungan Manusia dengan Dirinya ?

khazanahalquran.com – Salah satu keindahan yang dapat kita saksikan dari Al-Qur’an adalah ketika ayat-ayat suci itu menggambarkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Selain menekankan pentingnya menjalin hubungan dengan Allah swt, dengan Rasulullah saw dan dengan sesama manusia, Al-Qur’an juga sangat memperhatikan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Karena apabila manusia bisa membangun kedamaian di dalam dirinya, maka sikap yang keluar kepada orang lain adalah sikap yang penuh kedamaian dan keindahan.

Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan hubungan manusia dengan dirinya?

(1) Hubungan dengan diri sendiri yang penuh kedamaian.

Seringkali kedamaian itu ditampilkan dengan kalimat “Salam” dalam Al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh Nabi Isa as.

وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS.Maryam:33)

(2) Hubungan yang penuh kedzaliman dengan diri sendiri.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menyebut manusia sedang mendzalimi dirinya. Salah satunya adalah :

وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ

“Dan Kami tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS.Hud:101)

(3) Hubungan dengan diri dengan merenungkan dahsyatnya ciptaan Allah yang terkandung dalam dirinya sebagai manusia.

Allah swt berfirman,

أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِم

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?” (QS.Ar-Rum:8)

(4) Hubungan yang dibangun dengan selalu mendidik diri agar ingat kepada Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS.Al-Ma’idah:105)

(5) Hubungan yang tidak pernah dibangun hingga seseorang melupakan dan menyia-nyiakan dirinya sendiri.

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri.” (QS.Al-Baqarah:44)

(6) Hubungan tarik menarik antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS.Yusuf:53)

(7) Hubungan yang tentram dan aman karena selalu mengingat Allah serta mengikuti fitrah dan nalurinya.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ra’d:28)

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ – ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّة

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS.Al-Fajr:27-28)

Dan masih banyak lagi gambaran Al-Qur’an tentang hubungan manusia dengan dirinya. Namun sebelum kita akhiri, ada hubungan antara manusia dengan dirinya yang sangat berbahaya. Yaitu ketika diri itu terjangkit penyakit ujub.

Bangga dengan kehebatan dirinya..

Bangga dengan amal-amal yang ia lakukan..

Bangga dengan prestasi yang telah ia dapatkan..

Hingga ia melihat yang ada hanya dirinya dan yang lain berada dibawahnya.

Apabila manusia memiliki hubungan semacam ini dengan dirinya, maka ada bahaya besar yang sedang menantinya. Karena sebenarnya ia tidak sedang menuhankan Allah tapi ia menuhankan dirinya sendiri.

Ia beramal bukan untuk merendahkan diri dihadapan Allah, namun ia beramal untuk membanggakan diri dihadapan Allah.

Imam Ja’far As-Shodiq (Guru dari Imam Madzhab Maliki dan Hanafi) pernah berkata :

مَن دَخَلَهُ العُجُب هَلَكَ

“Siapa yang sifat ujub itu masuk kedalam dirinya maka ia akan binasa.”

Mari kita bangun hubungan dengan diri kita, hubungan yang penuh kedamaian dan ketentraman sehingga kita akan lebih dekat dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 187 pelanggan lain