8 Pertanyaan dan Satu Jawaban !

khazanahalquran.com – Mengapa Ibrahim as tidak takut ketika dilemparkan kedalam api?

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ

Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuknya (membakar Ibrahim); lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS.Ash-Shaffat:97)

Mengapa Ya’qub as tidak berputus asa dalam menanti Yusuf?

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS.Yusuf:18)

Mengapa Yunus as tidak putus harapan ketika masuk ke dalam perut ikan?

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS.Al-Anbiya’:87)

Mengapa Ayub as mampu bersabar menghadapi penyakitnya?

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.” (QS.Shad:41)

Mengapa Ibu Musa rela menghanyutkan bayinya ke sungai?

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ

Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil).” (QS.Al-Qashash:7)

Mengapa Musa as tidak gentar ketika dikejar oleh pasukan Fir’aun?

قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ – قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.” Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS.Asy-Syu’ara:61-62)

Mengapa Maryam as memilih untuk membawa bayi tanpa ayah itu kehadapan masyarakat?

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS.Maryam:29)

Mengapa Nabi Muhammad saw tidak takut dan bersedih hati ketika didalam gua sementara musuh-musuh Allah sedang mengejar beliau?

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Ketika itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS.At-Taubah:40)

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas hanyalah satu. Yaitu karena mereka berbaik sangka kepada Allah swt. Para nabi dan oran-orang soleh yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka sendirian.

Rasa takut, sedih dan gelisah muncul dari keraguan kita kepada Allah swt. Kita selalu berburuk sangka kepada-Nya. Padahal Allah mencintai hamba-Nya melebihi apapun. Dan karenanya Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Berbaik sangka lah kepada Allah, maka semua kesedihan kita akan berakhir dengan senyuman.

Komentar

LEAVE A REPLY