6 Budaya Islam yang Hampir Hilang dari Kaum Muslimin

6 Budaya Islam yang Hampir Hilang dari Kaum Muslimin

khazanahalquran.com – Melihat perkembangan dunia akhir-akhir ini tentunya membuat hati kita merasa miris, sedih dan heran. Sedih karena budaya Islami semakin luntur ditengah kaum muslimin dan heran karena justru mereka yang non-muslim lebih dekat dengan budaya-budaya Islam.

Kali ini kita akan mengangkat beberapa budaya Islami yang mulai luntur dari kaum muslimin.

(1) Budaya mengakui kesalahan.

Islam selalu mengajarkan untuk mengakui kesalahan yang kita perbuat. Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, namun justru orang yang berani mengakui kesalahannya adalah pintu awal untuk perubahan.

Seorang yang mau mengakui kesalahannya akan menyesali perbuatan tersebut, kemudian bertaubat dan bertekad untuk berubah lebih baik. Bila mengakui saja tidak mau, apalagi mau berubah?

وَءَاخَرُونَ ٱعۡتَرَفُواْ بِذُنُوبِهِمۡ خَلَطُواْ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَءَاخَرَ سَيِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.At-Taubah:102)

(2) Budaya memberi maaf.

Al-Qur’an sangat identik dengan budaya memaafkan. Tapi anehnya, semakin hari kita semakin enggan mendengar alasan seseorang. Kita terlalu cepat emosi dan marah tanpa memberi kesempatan si pelaku untuk menjelaskan.

Bukankah Allah swt berfirman,

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُور رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.An-Nur:22)

Bukankah kisah Nabi Sulaiman as dan burung Hudhud telah memberikan pelajaran yang luar biasa untuk mendengar terlebih dahulu alasan yang diberikan oleh pihak yang bersalah?

لَأُعَذِّبَنَّهُۥ عَذَابٗا شَدِيدًا أَوۡ لَأَاْذۡبَحَنَّهُۥٓ أَوۡ لَيَأۡتِيَنِّي بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ

“Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, *kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”* (QS.An-Naml:21)

Budaya memaafkan dan mau mendengar alasan ini mulai hilang, kita terlalu cepat bereaksi ketika mendengar satu berita atau kesalahan dari seseorang.

(3). Budaya bersyukur.

Hari ini manusia lebih condong kepada pola hidup “menerima” daripada “memberi”. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, tapi mereka tak pernah peduli untuk memberi dan berbagi.

Padahal Islam mengajarkan untuk selalu bersyukur dan berterima kasih. Dan salah satu wujud syukur yang terbesar adalah berbagi kebaikan dan kebahagiaan dengan orang lain sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada Allah swt. Sementara kita tidak akan mampu bersyukur kepada Allah sebelum kita mampu berterima kasih kepada sesama manusia.

(4) Budaya toleransi dan saling menghargai.

Budaya ini benar-benar telah luntur ditengah kita. Padahal wajah asli Islam digambarkan dengan budaya yang luar biasa ini.

Tiba-tiba ajaran Islam yang penuh toleransi ditampilkan dengan wajah yang seram dan galak. Selain kelompoknya dianggap kafir, selain golongannya dianggap sesat.

Padahal budaya Islam adalah menghargai pilihan orang lain, menghormati keyakinan orang lain, melihat sisi baik yang dimiliki orang lain dan mengutamakan untuk berbaik sangka dengan orang lain.

Mengapa semuanya kini berbalik?

Bukankah puncak akhlak dalam Islam adalah :

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raf:199)

Jadilah pemaaf dan mudah memaklumi orang lain. Jangan sampai agama menjadikan kita kaku dan keras terhadap orang lain !

(5) Budaya menerima perbedaan.

Perbedaan adalah hukum Alam yang tak bisa ditentang. Merebaknya budaya radikalisme membuat seakan-akan semua manusia harus sama, tidak ada yang boleh berbeda. Jika memaksa berbeda artinya dimusuhi atau mati !

Apa ini? Melawan perbedaan adalah melawan Sunnatullah !

Menerima perbedaan memang menbutuhkan hati yang lapang. Bila kita telah terbiasa menerima perbedaan maka empat hal sebelumnya akan terasa mudah. Kita akan mudah mengakui kesalahan, mudah memaafkan, mudah berterima kasih dan mudah bertoleransi.

Terkadang tanpa terasa kita menjadi orang yang paling egois.

“Bila kita boleh memilih sebuah keyakinan, mengapa orang lain tidak boleh?”

(6) Budaya tabayun.

Dahsyatnya arus informasi membuat kita dengan mudah meyakini bahkan menyebarkan sebuah berita ataupun informasi. Padahal berita itu belum tentu benar bahkan mungkin sengaja dibuat untuk semakin mengeruhkan suasana.

Budaya Islam adalah budaya tabayun. Jangan mudah percaya bila mendengar informasi, cek kebenarannya terlebih dahulu !

Bukankah Allah swt berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS.Al-Hujurat:6)

Lalu kemana budaya tabayun ini?

Satu berita yang belum jelas mudah sekali menjadi viral dan diyakini, padahal belum ada tabayun sama sekali. Budaya ini telah benar-benar luntur ditengah kaum muslimin sendiri.

Bukankah kisah Nabi Sulaiman as juga mengajarkan tentang tabayun sehingga informasi dari burung Hudhud segera dikonfirmasi dengan mengirim surat kepada Balqis?

Budaya-budaya Islami ini semakin luntur ditengah kaum muslimin. Mari kita kuatkan kembali budaya ini dimulai dari diri kita sendiri !

Semoga bermanfaat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 179 pelanggan lain