Khazanahalquran.com – Sebelumnya kita telah sedikit melihat bagaimana Al-Qur’an memuliakan wanita. Sekarang, kita akan lebih dalam menguak bagaimana sebenarnya sikap Islam kepada wanita yang terangkum dalam Al-Qur’an.

Sebelum datangnya Islam, wanita dilarang melakukan hal-hal sosial diluar rumah. Para lelaki memenjarakan mereka di rumah karena mereka dianggap sebagai budak lelaki. Para wanita dilarang untuk mengenal dunia luar sama sekali.

Islam datang dalam rangka mendobrak tradisi perendahan terhadap wanita. Islam datang untuk memberikan hak wanita sesuai porsinya. Dalam urusan sosial diluar rumah, Allah juga memberi hak dan kewajiban bagi wanita untuk dia hidup bersama masyarakat dan saling mengajak kepada kebaikan dan menegur jika ada yang berbuat kesalahan. Dalam Ayat-Nya, Allah menggandengkan antara lelaki dan wanita dalam urusan sosial seperti amar ma’ruf nahi munkar. Allah berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ -٧١-

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”

(At-Taubah 71)

Berbagai tuduhan tentang Hak Asasi Manusia selalu ingin meruntuhkan kemuliaan Islam. Khususnya tentang Hak Wanita. Padahal, Islam datang untuk memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Tanpa melihat itu lelaki atau wanita.

Kita semua tau bahwa Hak kebebasan wanita ini adalah hal yang baru dibesar-besarkan. Sebelumnya mereka adalah yang paling rajin menindas wanita. Lihat lah Inggris, awalnya negara ini tidak mengizinkan wanita memiliki sesuatu karena wanita adalah milik lelaki. Baru di tahun 1850, wanita dibolehkan untuk memiliki sesuatu. Jerman menyusul di tahun 1900. Dan kemudian Italia di tahun 1911.

Dunia barat adalah orang-orang baru yang menyuarakan kebebasan wanita. Sementara Islam, sejak 1400 tahun yang lalu telah memberikan hak bagi wanita untuk memiliki sesuatu secara pribadi.

لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ-٣٢-

“Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”

(An-Nisa’ 32)

Berbagai macam tuduhan terus menyerang Islam. Agama ini dianggap sebagai agama yangmenindas wanita. Banyak orang muslim sendiri terbawa oleh isu yang selalu dimunculkan oleh dunia barat ini. Mereka mulai terpengaruh untuk anti terhadap Islam karena adanya beberapa perbedaan hak antara lelaki dan wanita.

Sementara Allah mengatur kehidupan manusia dengan Keadilan-Nya. Adil bukan berarti harus memberi yang sama. Adil adalah memberikan hak sesuai porsinya masing-masing. Apakah memberi uang jajan yang sama antara anak TK dengan anak Sma adalah sebuah keadilan?

Wanita tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarga. Semua kewajiban tentang nafkah ada dipundak suami. Walaupun si istri adalah orang kaya sementara suaminya hanya buruh pabrik, tetaplah kewajiban itu adalah milik suami. Karena itu, jangan heran jika dalam menerima warisan, anak lelaki mendapatkan porsi lebih banyak dari anak perempuan.Semua aturan syariat ini diatur oleh Yang Maha Adil. Hanya saja, kacamata keadilan manusia terlalu kecil sehingga memandang ketentuan Allah itu tidak pernah adil.

Belum lagi Islam dituduh menjadikan wanita sebagai budak suami. Wanita diciptakan hanya untuk berkhidmat kepada suaminya.

Bagaiman Al-Qur’an menjawab tuduhan ini?

 

 

 

Untuk menjadikan dunia ini tentram dan makmur, Allah ciptakan lelaki dan wanita selalu saling membutuhkan satu sama lain. Islam tidak pernah menunjuk wanita sebagi budak lelaki. Islam juga tidak pernah mengizinkan adanya penindasan suami atas istrinya. Dengan jelas Allah berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ -١٨٧-

“Mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

(Al-Baqarah 187)

Kenapa Allah memilih kata pakaian? Karena layaknya pakaian itubisa melindungi, menutupi aib pasangannya dan bisa dijadikan untuk berhias diri. Suami istri saling membutuhkan sebagai pakaian masing-masing. Tidak ada sedikitpun pandangan Al-Qur’an yang menyebutkan Istri sebagai budak Suami.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضاً سُخْرِيّاً -٣٢-

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan-mu? Kami-lah yang Menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah Meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.

(Az-Zukhruf 32)

Belum lagi Islam diserang karena adanya riwayat-riwayat yang seakan merendahkan wanita. Seperti wanita disebut sebagai sumber bencana dan lain sebagainya.

Ketika membaca sebuah riwayat, kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan dari riwayat tersebut. Pertama kita harus mengecek sanad dari riwayat itu. Kedua, kita tidak bisa begitu saja menilai sebuah riwayat karena kita belum tentu tau apa maksud yang tersirat dari sabda itu. Kita juga tidak tau apakah riwayat-riwayat yang mencela keburukan wanita itu ditujukan untuk orang tertentu atau untuk seluruh wanita? Memang perlu pembahasan yang detail jika kita membahas suatu riwayat dan tidak mungkin dapat kita jelaskan dalam kajian singkat ini. Yang jelas, kita akan menolak riwayat apapun yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

Salah satu isu yang dihembuskan adalah tentang ibu kita Hawa. Awalnya dia lah yang tergoda oleh setan kemudian membujuk Adam untuk memakan buah terlarang itu. Dari cerita ini maka muncul isu tentang wanita sebagai sumber bencana.

Kisah ini perlu di cek kembali sanad maupun kandungannya. Tapi jika kita membaca di dalam Al-Qur’an, dengan jelas Allah ceritakan bahwa setan saat itu menggoda keduanya bukan hanya menggoda Hawa.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ-٢٠-

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka berdua

(Al-A’raf 20)

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ -٢١-

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,”

(Al-A’raf 21)

فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ -٢٢-

“dia (setan) membujuk keduanya dengan tipu daya.”

(Al-A’raf 22)

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ -٢٢-

Tuhan Menyeru mereka, “Bukankah Aku telah Melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah Mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

(Al-A’raf 22)

Saat dikatakan wanita itu sumber bencana, bukankah wanita adalah ciptaan Allah? Pernahkah Allah menciptakan sesuatu yang buruk pada aslinya?

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ -٨٨-

“(Itulah) ciptaan Allah yang Mencipta dengan sempurna segala sesuatu.”

(An-Naml 88)

Bukankah Rasulullah pun dengan jelas pernah bersabda:

”Aku menyukai 3 hal dari dunia kalian yaitu wewangian, wanita dan dijadikan solat sebagai cahaya mata.”

Akankah Rasulullah akan menyukai sesuatu yang disebut sumber bencana? Mustahil!

Selain itu, Islam sering menekankan untuk mendahulukan perempuan dari pada lelaki. Imam Ja’far As-Shodiq pernah mengajarkan kepada para ayah, ketika datang dari jauh membawa oleh-oleh maka dahulukan memberi anak perempuan daripada anak laki-laki.

Anak perempuan itu, ketika kecil bisa membukakan pintu Surga bagi ayahnya. Ketika dewasa, ia mampu menyempurnakan separuh agama suaminya. Dan ketika menjadi ibu, dia menjadikan surga dibawah telapak kakinya.

Adakah yang lebih mengagungkan wanita melebihi Islam?

Bukankah Rasulullah saw pernah ditanya tentang siapa orang pertama yang harus dipenuhi haknya. Rasul menjawab:

“Ibumu !”

kemudian siapa wahai Rasulullah?

“Ibumu !”

Kemudian siapa Wahai Rasulullah?

“Ibumu !”

Kemudian siapa?

“Ayahmu !”

 

Saat kita ingin mengetahui bagaimana kehidupan wanita dalam Islam, kepada siapa lagi kita akan belajar jika bukan kepada Fatimah putri tercinta Rasulullah saw. Fatimah adalah wanita yang sempurna. Di didik langsung oleh ayahnya. Ketika kita ingin melihat bagaimana Islam memuliakan wanita, lihatlah bagaimana Rasulullah memuliakan putrinya. Ketika kita ingin belajar bagaimana menjadi wanita sempurna menurut Islam, belajarlah kepada Fatimah yang disebut ayahnya sebagai Pemimpin wanita ahli surga.

Harusnya, siapapun bisa mencapai kesempurnaan di sisi Allah. Kesempurnaan itu bisa diperoleh jika dia benar-benar mengenal jati dirinya. Seorang yang tidak mengenali dirinya, dia tidak akan tau cara menghargai dirinya. Dia akan berpenampilan yang tidak layak seperti badut yang tidak menampilkan wajah aslinya. Sementara bagi seorang wanita yang mengenal jati dirinya, dia akan bisa menghargai dirinya. Menjaga penampilannya, sikap dan akhlaknya. Karena dia tau, ada kemuliaan yang dititipkan Allah kepadanya yang harus selalu dia jaga.

Untuk mengakhiri kajian ini, kita akan belajar dari Fatimah Az-Zahra tentang bagaimana seorang wanita sempurna menjalani kehidupan.

Sayyidah Fatimah menghabiskan hidupnya dalam 3 hal penting, yaitu:

Pertama, beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Fatimah selalu rutin beribadah hingga malaikat langit tersinari oleh cahayanya ketika didalam Mihrob. Bukankah ketika Rasulullah rindu kepada harum surga, beliau akan mencium putrinya?

Selain beribadah, Fatimah juga tidak pernah meninggalkan tugas rumah tangganya. Bahkan ketika di akhir hayatnya pun, ia masih memasak dan mencuci pakaian anak-anaknya. Fatimah mencontohkan pada seluruh wanita bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah ibadah.

Akhir-akhir ini, rumah tangga hanya di lalui dengan tuntutan hak dan kewajiban dari suami ataupun istri. Suami berkata, “yang penting saya telah menyelesaikan kewajiban dan memberikan hakmu”. Si istri tak mau kalah dengan berkata yang sama.

Islam tidaklah membangun rumah tangga hanya dengan yang penting kewajiban dan hak sudah disampaikan. Islam membangun rumah tangan dengan mawaddah wa rahmah. Cinta dan kasih sayang adalah pondasi rumah tangga islami. Hasilnya, suami istri akan berebut untuk memberikan yang terbaik.

Setelah 3 hari perkawinan Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah, Rasulullah datang menjenguk pengantin. Rasul bertanya kepada Imam Ali, “Bagaimana kau mendapati istrimu Fatimah?” Imam Ali menjawab, “Sebaik-baik penolong dalam ketaatan kepada Allah.”

Bukan hanya beribadah dan mengurus rumah tangga, Sayyidah Fatimah juga melakukan tugas-tugas sosial. Beliau sering berkeliling untuk menyampaikan ilmu Rasulullah kepada para wanita. Beliau juga tak lupa ber-amar ma’ruf dan nahi munkar di masyarakat.

Karenanya, mari kita belajar mengatur kehidupan bersama Fatimah putri Rasulullah. Hubungannya dengan Tuhan selalu terjaga. Urusan rumah tangga pun tak pernah terabaikan. Hubungan dengan masyarakat sosial juga tidak ditinggalkan. Itulah Fatimah, pemimpin wanita seluruh alam.

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY