Khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS.Thaha:114)

Ayat ini sedang berkhitob kepada Rasulullah saw untuk menyeru beliau agar senantiasa menuntut ilmu. Padahal kita semua tau bahwa Rasulullah telah mencapai derajat keilmuan yang tertinggi hingga tidak ada seorang pun yang mampu menandingi beliau.

Ayat ini memberi pelajaran bahwa jangan pernah merasa cukup dengan jenjang keilmuan yang telah kita lalui. Karena mencari ilmu itu tidak berbatas dan tidak ada titik akhirnya.

Begitujuga nabi Musa as. Seorang nabi ulul azmi, yang telah diberi ilmu langsung dari Allah swt

ولَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى‏ آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً
“Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.” (QS.al-Qashas:14)

Dengan ketinggian ilmu yang beliau miliki, nabi Musa tunduk dihadapan nabi Khidir untuk belajar seperti seorang murid.

قَالَ لَهُ مُوسى‏ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى‏ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمّا عُلِّمْتَ رُشْداً
Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu su­paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS.al-kahfi:66)

Oleh karena itu, ayat-ayat diatas menunjukkan betapa pentingnya mencari ilmu dan tak pernah merasa cukup dalam mencarinya.

Jika para nabi masih terus meminta tambahan ilmu, alangkah sombongnya orang yang merasa cukup dengan ilmunya. Ia tidak mau mendengar atau menambah ilmu dari orang lain. Maka orang semacam ini, sadar atau tidak ia telah menganggap dirinya diatas para nabi.

Akankah kita merasa lebih pintar dari nabi?

Komentar

LEAVE A REPLY