Khazanahalquran.com – Ketika berbicara tentang keburukan, bahasa Al-Qur’an tidak pernah menisbatkannya kepada Allah swt. Begitu juga dengan kata-kata para Nabi, mereka tidak pernah sekalipun menghubungkan keburukan dengan Allah swt.

Berikut ini adalah beberapa ayat yang menggambarkan kebaikan selalu dari Allah dan keburukan adalah hasil dari manusia sendiri.

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ -٧٨- وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ -٧٩- وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ -٨٠-

“(yaitu) Yang telah Menciptakan aku, maka Dia yang Memberi petunjuk kepadaku, dan Yang Memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dia-lah yang Menyembuhkan aku.” (Asy-Syuara 78-80)

Di saat Nabi Ibrahim mengenalkan Tuhannya, semua kebaikan dinisbatkan kepada Allah. Namun ketika sampai pada sesuatu yang “buruk”, beliau tidak menyebut “Allah Membuatku Sakit” tapi “apabila aku sakit”.

 

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْباً -٧٩-

“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.” (Al-Kahfi 79)

فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْراً مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْماً -٨١-

“Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka Menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” (Al-Kahfi 81)

Ketika Nabi Khidir hendak merusak perahu, beliau menyebutkan dirinya sebagai pelakunya. Namun ketika berkaitan dengan kebaikan, Al-Qur’an menjadikan “Tuhan mereka” sebagai subjeknya.

 

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَداً -١٠-

“Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui (adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya.” (Al-Jinn 10)

Dalam ayat ini, ketika jin berbicara tentang keburukan, ia menggunakan kalimat dengan bentuk majhul. Yakni, tidak jelas pelakunya. Namun ketika berbicara tentang kebaikan, dengan jelas dia menyebutkan bahwa subjeknya adalah Allah swt.

Begitulah adab Al-Qur’an ketika membicarakan keburukan, tidak pernah sekalipun menisbatkannya kepada Allah swt.

Komentar

LEAVE A REPLY