Tidak Ada Alasan bagi Kesesatan Kita !

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا

“Barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri.” (QS.Yunus:108)

Ayat ini dan banyak ayat yang senada dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika orang memilih jalan yang sesat maka dia bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Sebagaimana siapa yang memilih kebaikan tentu manfaatnya untuk dirinya sendiri.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS.Al-Isra’:7)

Tapi ada pelajaran dari ayat pertama tadi bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk berkata “saya ini korban.. saya disesatkan.. atau saya dipengaruhi oleh si fulan..”

Ya memang yang menyesatkan memiliki dosa tersendiri namun kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab karena menganggap diri kita sebagai korban pengaruh orang lain. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri.

Ada contoh menarik dari surat Thaha, ketika Nabi Musa as kembali kepada kaumnya dari munajatnya di tempat yang jauh, beliau mendapati kaumnya telah berpaling dari kebenaran dengan menyembah anak sapi. Ketika melihat kesesatan ini, Musa tidak pergi ke Samiri (sebagai provokator yang menyesatkan umat), tapi beliau langsung menyalahkan umat terlebih dahulu.

Simak urutan surat Thaha berikut ini,

Nabi Musa as mempertanyakan mengapa mereka mengikuti jalan yang sesat ini,

فَرَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik?”

-Surat Tha-Ha, Ayat 86
Nabi Musa menanyakan masalahnya kepada Harun,

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا

Dia (Musa) berkata, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat, (QS.Tha-Ha:92)

Baru kemudian beliau mendatangi Samiri sebagai sumber masalah yang menyesatkan ummat untuk menyembah anak lembu,

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ

Dia (Musa) berkata, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?” (QS.Tha-Ha:95)

Kisah ini memberi pelajaran bahwa :

1. Manusia bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing.

2. Ketika ada masalah dalam suatu masyarakat atau individu, datangi langsung kepada yang bersangkutan atau titik masalahnya. Jangan membesarkan masalah ditempat lain sementara kita tidak menyelesaikan langsung ke sumbernya.

Bahkan dalam ayat lain Allah menyebutkan bahwa janganlah kita sibuk dengan orang lain, sibuklah dengan diri kita sendiri. Memang ada perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar, tapi jangan sampai mempengaruhi kehidupan kita, jangan sampai kita menjadi sesat karena orang lain.

Jagalah hidup kita, karena kita bertanggung jawab atas diri sendiri. Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS.Al-Ma’idah:105)

Semoga bermanfaat…

Komentar

LEAVE A REPLY