Di waktu Mi’raj, Rasulullah saw bertanya kepada Allah swt, “Ya Rob, amalan apakah yang paling utama?” Kemudian Allah swt menjawab,

“Wahai Ahmad, tidak ada yang lebih utama dari tawakal kepada-Ku dan rela dengan apa yang telah Aku berikan.”

Tawakal adalah solusi bagi manusia yang mendambakan ketenangan hidup. Namun orang-orang malas mulai menemukan alasan baru. Mereka tidak mau bergerak, tidak mau capek bekerja dengan alasan tawakal kepada Allah.

Hidup manusia tak lepas dari 4 tujuan. Apakah dia ingin memperoleh sesuatu yang belum dimilikinya. Atau dia ingin menjaga sesuatu yang sudah dimilikinya. Kemudian dia ingin mencegah keburukan yang belum menimpanya atau ingin menghilangkan bencana yang sudah menimpanya.

Ke-empat tujuan ini memerlukan usaha. Tanpa bergerak maju, dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan. Tanpa usaha dia tidak akan bisa mencegah keburukan yang akan menimpanya.

Teringat ketika Imam Ali bin Abi tholib masuk ke masjid. Beliau melihat ada segerombolan orang yang masih sehat, muda dan kuat duduk di pojok masjid. Akhirnya Imam Ali bertanya,

“Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal.”

Mendengar itu Imam Ali bertanya lagi, “Tidak, kalian bukanlah orang yang bertawakal. Jika kalian memang orang yang bertawakal maka buktikanlah tawakal kalian !”

Mereka berkata, “Jika kami mendapatkan sesuatu, kami makan. Jika tidak mendapatkan sesuatu, kami bersabar.”

Imam Ali menjawab, “Begitulah anjing di tempat kami.”

Kemudian mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Seperti yang kami lakukan.” Kata imam.

“Apa yang engkau lakukan?” Tanya mereka.

“Ketika kami mendapatkan sesuatu, kami memberikannya (kepada orang lain). Dan ketika kami tidak mendapat sesuatu kami bersyukur.” Jawab Imam Ali.

Tawakal yang sebenarnya bukanlah pasrah dengan duduk menunggu pemberian dari langit. Tawakal yang diinginkan oleh Allah adalah usaha menjalankan semua syarat keberhasilan tanpa membuang peran Allah disitu. Kita tidak hanya mengandalkan usaha kita karena ada syarat yang terpenting untuk kita sukses yaitu restu dari Allah swt.

Coba kita lihat bagaimana Allah mengajari kita tentang tawakal yang benar melalui cerita-cerita hikmah dalam Al-Qur’an.

Lihatlah Nabi Ya’qub as ketika anak-anaknya meminta izin untuk pergi ke Mesir. Karena Nabi Ya’qub telah kehilangan putranya yaitu Yusuf as, beliau tidak mau kehilangan putranya yang lain. Akhirnya beliau berusaha untuk menyelamatkan anak-anaknya dengan menyuruh mereka untuk masuk kota Mesir melalui pintu yang berbeda. Jangan bergerombol masuk dalam satu pintu.

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ -٦٧-

Dan dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.”
(Yusuf 67)

Nabi Ya’qub berusaha dengan kemampuannya untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun pada akhir ayat itu kita temukan bahwa beliau tetap pasrah kepada Allah dengan apa yang akan terjadi pada anak-anaknya. “Namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah.”

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa tawakal itu harus dimulai dengan usaha. Setelah seluruh kemampuan kita telah dikeluarkan maka pasrahkan hasilnya kepada Allah swt. Jangan pernah berharap kepada selain-Nya. Bagaimana seorang akan terlantar jika penjamin-Nya adalah Allah swt. Dan Dia hanya menjamin orang-orang yang bertawakal.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ -٣-

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Melaksanakan urusan-Nya.”
(Ath-Thalaq 3)

Begitu juga yang terjadi dengan Maryam as. Ketika dia dikucilkan karena kehamilan tanpa suami. Ketika kondisinya semakin lemah karena mendekati waktu kelahiran, Allah meyuruhnya untuk berteduh dibawah pohon kurma dan menggoyangkan pohon itu agar buahnya jatuh dan bisa dimakan.

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيّاً -٢٥-

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”(Maryam 25)

Kita tau bahwa Allah sangat mampu untuk menurunkan kurma untuk Maryam yang akan melahirkan. Hal itu sangat mudah bagi Allah. Namun dibalik itu, Allah ingin mengajarkan kepada manusia bahwa tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Tawakal bukanlah hanya berdoa tapi harus disertai usaha.

Seperti yang terjadi pada Nabi Luth as. Ketika Allah akan menghancurkan kaumnya karena kebejatan mereka, Allah menyuruh Nabi-Nya untuk pergi dimalam hari sebelum desa itu dihancurkan. Sebenarnya Allah mampu menghancurkan seluruh desa dan menyisakan rumah Nabi Luth agar tidak hancur. Hal itu sangat mudah bagi Allah. Tapi sekali lagi, Allah ingin mendidik hamba-Nya untuk bertahan hidup dengan usaha. Bukan hanya dengan tawakal palsu tanpa bergerak maju.

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلاَ يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ وَامْضُواْ حَيْثُ تُؤْمَرُونَ -٦٥-

“Maka pergilah kamu pada akhir malam beserta keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang. Jangan ada di antara kamu yang menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.”
(Al-Hijr 65)

Karena itu, ketika ada seorang sahabat yang masuk ke masjid dan meninggalkan untanya tanpa di ikat. Rasulullah menegurnya dan dia berkata. “Aku bertawakal kepada Allah”. Dia belum mengerti makna tawakal. Rasulullah menjawabnya, “Ikatlah baru engkau bertawakal !”. Mengikat unta adalah bentuk usaha dan setelahnya pasrahkan kepada Allah swt.

 

   Tingkatan Tawakal

Seperti halnya solat, tawakal juga memiliki tingkatan. Mungkin banyak orang yang solat tapi pengaruh solatnya berbeda. Gerakannya sama tapi kualitas solatnya berbeda. Jelas kita akan melihat perbedaan antara solatnya anak kecil dengan solatnya seorang ulama’ yang dekat dengan Allah swt.

Begitupula dengan tawakal, setidaknya menurut ulama’ ada 3 tingkatan tawakal.

  1. Orang bertawakal dengan percaya bahwa Allah akan menyelesaikan urusannya.

Pada tingkatan ini, seorang bisa disebut tawakal tapi masih pada level rendah. Karena dia berharap Allah akan membantunya menyelesaikan urusannya tapi dia juga masih berharap kepada orang lain. Belum murni hanya berharap kepada Allah swt.

 

  1. Bagaikan seorang anak kecil yang bergantung pada ibunya.

Tahukah anda bagaimana kebergantungan seorang anak kecil kepada ibunya? Dia merasa bahwa satu-satunya yang bisa menyelesaikan masalahnya adalah ibu. Dia tidak mau berpisah dengan sang ibu. Jika dia tidak melihat ibunya maka dia mencari kesana-kemari karena dia yakin jika ada ibu maka semua masalah akan selesai.

Seorang Arif pernah melihat segerombolan anak kecil sedang bermain. Lalu ada seorang pengemis yang datang kepada seorang anak dan meminta uang darinya. Spontan anak kecil ini menjawab, “Jika kau mau meminta, mintalah pada ibuku.”

Melihat ini seorang Arif itu langsung terhenyak dan berpikir, “Seandainya aku pasrah kepada Allah seperti anak kecil ini pasrah dengan ibunya maka semua masalahku akan terselesaikan.”

 

  1. Seperti jenazah di tengah orang yang memandikannya.

Inilah tingkatan tawakal yang paling tinggi. Seorang jenazah pasrah penuh dengan orang yang memandikannya. Dibolak balik, disiram air dan diperlakukan seperti apapun dia tetap diam dan pasrah. Karena memang dia sudah tidak memiliki tubuhnya lagi.

Begitulah tingkat tawakal tertinggi, ketika seorang merasa tidak memiliki dirinya lagi. Dia tidak ada dihadapan Allah. Dia tidak bergerak kecuali karena Allah swt. Jika seorang telah mencapai posisi ini, dia sudah tidak akan bergantung kepada siapapun selainnya. Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang ingin menjadi orang yang paling kuat. Maka bertawakkal lah kepada Allah.”

Dia sudah tidak lagi bisa dipengaruhi, disuap atau dirayu karena dia hanya berharap kepada Allah. Tidak pada selain-Nya. Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda,

“Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya (tawakal) maka Dia akan memberi rizki kepada kalian seperti burung yang keluar (dari sangkarnya) dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”

Sebenarnya Allah swt menyuruh kita untuk hanya berharap kepada-Nya agar kita menjadi orang yang bebas. Menjadi orang yang mulia dihadapan semua makhluk. Jangan pernah berharap pada seorang yang tidak kekal kekayaannya, akan segera habis masa jabatannya dan akan segera hilang semua kekuatannya. Allah mengajak kita untuk berharap pada Dzat yang tidak pernah terkalahkan. Tidak pernah akan mati dan selalu memiliki kekuasaan.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ -٥٨-

“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati.”
(Al-Furqon 58)

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY