Khazanahalquran.com – Suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk di masjid. Kemudian beliau melihat ada seorang sahabat yang datang menaiki unta. Sesampainya didepan masjid, dia turun dan langsung masuk ke dalam masjid tanpa mengikat untanya. Melihat itu Rasulullah menegurnya untuk mengikat untanya terlebih dahulu. Namun dia menjawab, “Tidak wahai Rasulullah, aku bertawakkal kepada Allah.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah tau bahwa dia tidak mengerti arti tawakal yang sebenarnya. Beliau bersabda, “Ikat lah baru engkau bertawakkal!”

Memang tidak semua orang mengerti arti tawakkal. Ada kelompok yang anti dengan kata “tawakal” karena baginya keberhasilan itu adalah murni dari hasil usaha seseorang. Semakin dia berusaha semakin dia mendapat hasil lebih.

Ada lagi yang duduk manis dengan mengangkat tangan berharap rezeki allah dari langit, mereka mengklaim sebagi orang-orang paling tawakal. Sebenarnya apa arti tawakal itu?

Semakin tahun semakin banyak orang frustasi dan kebingungan. Mereka putus asa ketika rencana yang sudah disiapkan dengan matang, ternyata gagal total. Mereka linglung ketika harapannya tak terwujud. Mereka stres dan menyalahkan sana sini. Dan tak jarang yang berteriak menyalahkan Tuhan.

Penyebab utama dari kegelisahan itu adalah karena dia terlalu berharap kepada selain Allah. Dia berharap kepada dirinya untuk bisa mengatasi semua masalah hingga mencapai keberhasilan. Atau dia terlalu berharap kepada orang lain yang akan membantunya meraih harapan. Namun setelah gagal, dia kecewa berat. Menyalahkan sana sini termasuk menyalahkan Tuhannya, padahal selama ini dia berharap kepada selain-Nya.

Allah swt cemburu saat ada hamba yang berharap dan meminta kepada selain-Nya. Dia cemburu melihat hamba-Nya mengetuk pintu orang-orang kaya, para pejabat dan orang-orang kuat untuk mencari bantuan. Sementara dia tidak pernah mengetuk pintu Tuhan yang memiliki semesta Alam.

Ketika Rasulullah saw berdialog dengan Jibril, beliau memintanya untuk menjelaskan arti tawakal yang sebenarnya. “Apa arti tawakal kepada Allah itu?” Jibril menjawab, “Pengetahuan bahwa makhluk itu tidak bisa membahayakan atau memberi manfaat sedikitpun dan mereka juga tidak bisa memberi ataupun menahan.”

Kemudian Jibril melanjutkan bahwa tawakal yang sebenarnya adalah “putus asa dari makhluk”. Membuang jauh rasa berharap kepada manusia, dia hanya berharap kepada Allah semata. Jika seorang hamba masih saja berharap kepada selain-Nya, maka Allah akan membiarkannya bersama orang yang dia harapkan. Padahal tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa campur tangan Allah didalamnya.

“Jika seorang hamba melalukan hal itu (tawakal) maka dia tidak akan berbuat apapun kecuali karena Allah. Dia tidak berharap dan takut kecuali hanya kepada Allah. Dan dia tidak akan puas kecuali karena Allah. Itulah tawakal yang sebenarnya.” Begitulah dialog Jibril dengan Rasulullah saw.

Orang-orang yang dekat dengan Allah menyebut tawakal adalah “Percaya bahwa penyelesaian masalahnya hanya dari Allah dan berputus asa dengan apa yang ada ditangan manusia.”

Karenanya, Allah swt menyebut Dirinya Al-Wakil yang bermakna bahwa Dia-lah yang memenuhi semua kebutuhan hamba-Nya dan mencukupi kebutuhan semua makhluk-Nya.

أَلاَّ تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلاً -٢-

“Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.”
(Al-Isra’ 2)

  Apa Manfaat Bertawakal?

Tawakal adalah memutus harapan kecuali hanya pada Allah. Jika hal ini kita lakukan, apa manfaat yang akan didapat.

   Pertama, orang yang bertawakal adalah orang yang dicintai Allah swt.

Menjadi Habibullah (kekasih Allah) adalah dambaan semua hamba. Mungkinkah seorang kekasih meninggalkan kekasihnya? Mungkinkah dia berdiam diri saat melihat kekasihnya sedang dalam kesulitan?

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ -١٥٩-

“Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal.”
(Ali Imran 159)

Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka tidak ada sesuatu yang akan diberikan kepada seorang kekasih kecuali yang terbaik dan terindah.

   Kedua, Allah akan menyelesaikan semua urusannya.

Semua manusia berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi siapa yang bisa menjamin keinginannya akan terwujud?

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ -٣-

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Melaksanakan urusan-Nya.”
(Ath-Thalaq 3)

Selain mencintai orang yang bertawakal, Allah swt juga menjamin akan menyelesaikan semua urusan mereka. Jika Allah yang menjadi penjamin, mungkinkah masalah akan terkatung-katung? Adakah yang bisa menghalangi apa yang sudah Dia tentukan?

لاَ مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ -٤١-

“Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.”
(Ar-Ra’d 41)

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ -٨٢-

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia Menghendaki sesuatu Dia hanya Berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

(Yasin 82)

Selain itu, tawakal juga termasuk Syiar para Anbiya’. Bukankah mereka selalu berkata,

حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ -١٧٣-

“Cukuplah Allah (menjadi Penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
(Ali Imran 173)

Allah swt menyuruh Rasulullah untuk berperang melawan kekufuran walaupun beliau seorang diri. Dengan jelas Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّهُ-٦٤-

“Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu.”
(Al-Anfal 64)

  Mengapa kita harus bertawakal?

Coba kita bayangkan, Allah swt telah memberi berbagai kenikmatan tanpa kita minta. Akankah Dia tidak memberi ketika kita berharap dan hanya meminta kepada-Nya? Sementara tanpa kita meminta pun Allah telah memberi berbagai kenikmatan sebelumnya.

وَمَا لَنَا أَلاَّ نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ -١٢-

“Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah Menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”
(Ibrahim 12)

Selain itu, kita meyakini bahwa semua sebab ini tidak akan bergerak tanpa ada Allah dibaliknya. Apapun usaha yang kita lakukan tidak akan menuai hasil tanpa restu dari Allah swt. Berapa banyak rencana yang telah sempurna diatas meja namun hancur berantakan ketika diterapkan dilapangan?

Kita tidak bisa hanya mengandalkan usaha kita saja. Dibalik semua sebab keberhasilan itu ada Allah swt yang menggerakkan sebab-sebab keberhasilan usaha kita.

Kita juga sering mengandalkan orang lain. Berharap penuh kepada seseorang yang bisa menyelesaikan masalah kita. Padahal berapa banyak orang yang kita harapkan ternyata malah menjadi penyebab kegagalan kita. Karena kita melupakan Allah saat itu.

“Hambaku, kau berharap pada selainku. Maka mintalah hasilnya pada mereka.” Kata Allah swt.

”Aku pernah berharap kepada selain Allah satu kali. Dan aku dapatkan sanksinya dengan 200 hal yang menghinakanku.”
(Iqbal – Pujangga Pakistan)

Ketika seseorang telah mendidik dirinya untuk bertawakal, hidupnya tidak akan sengsara. Dia akan bersyukur ketika usahanya berhasil. Dan dia juga bersyukur ketika keinginannya belum terwujud. Karena di benaknya telah tertanam bahwa Allah lebih tau mana yang terbaik dan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginannya.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ -٣٦-

“Bukankah Allah yang Mencukupi hambaNya?”
(Az-Zumar 36)

Apakah tawakal itu berarti kita tidak perlu berusaha?

Bagaimanakah Rasulullah dan keluarganya mencontohkan arti tawakal dalm kehidupan sehari-hari?

Apakah tawakal itu juga memiliki tingkatan?

Temukan jawabannya di Tawakal dalam Al-Qur’an (Bag 2)

Komentar

LEAVE A REPLY