Khazanahalquran.com – Ada satu perintah Allah dalam Al-Qur’an yang menarik untuk kita kaji pada kali ini, yaitu perintah untuk tahadduts bin ni’mah (menampakkan atau mengungkapkan nikmat yang diberikan oleh Allah swt). Perintah ini dapat kita temukan dalam firman Allah swt,

 فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ — وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhan-mu, hendaklah engkau ungkapkan.” (QS.ad-Dhuha:10-11)

Dalam ayat ini kita diperintahkan untuk menampakkan atau mengungkapkan kenikmatan yang kita dapatkan dari Allah swt. Tapi bukankah menampakkan nikmat yang kita miliki itu adalah bentuk kesombongan?

Tahaddus bin ni’mah berbeda dengan takabbur (kesombongan). Ayat diatas mengajak kita untuk mengingat kenikmatan apa saja yang telah diberikan oleh Allah swt kemudian menampakkannya. Karena banyak orang yang memiliki sesuatu namun merasa tidak memiliki apa-apa. Wajahnya memelas, penampilannya compang-camping seakan Allah tidak memberinya kenikmatan apapun.

Menampakkan kenikmatan yang diberikan oleh Allah adalah wujud rasa syukur kita agar selalu ingat dengan kebaikan dan pemberian-Nya.

Sementara kesombongan itu bentuknya berbeda. Orang yang sombong merasa memiliki sesuatu dengan usaha dan kepintarannya sendiri. Ia menampakkan nikmat yang ia miliki untuk berbangga dihadapan orang lain. Ia merasa paling mulia sementara yang lainnya rendah dihadapannya.

Karena itulah, orang-orang yang selalu mengingat nikmat Allah hatinya akan tenang. Ia tidak fokus dengan kekurangan yang ada. Misalnya disaat ada anggota tubuhnya yang kurang, ia bersyukur karena anggota tubuh yang lain selamat.

Orang semacam ini tidak mudah putus asa, karena ia selalu mengingat nikmat-nikmat Allah yang ia dapatkan, sementara semua masalah dan musibah yang menimpanya dapat ia hadapi dengan ketenangan.

Dan yang menarik dari ayat diatas, sebelum perintah untuk mengingat kenikmatan, Allah mendahuluinya dengan larangan untuk sewenang-wenang terhadap anak yatim dan membentak orang yang meminta. Karena salah satu bentuk mengingat dan mensyukuri nikmat Allah adalah peduli dengan mereka yang membutuhkan.

Semoga nikmat Allah selalu tercurah dan kita selalu menjadi orang-orang yang bersyukur atasnya.

Komentar

LEAVE A REPLY