Khazanahalquran.com“Semoga anakku menjadi anak yang sholeh.” Adalah kalimat yang begitu ringan terucap. Hampir setiap orang tua muslim selalu melantunkan doa ini.

Walau dalam doa mereka berharap memiliki anak yang sholeh, tapi nyatanya, sedikit orang tua yang mendidik anaknya untuk menjadi anak sholeh. Mereka lebih fokus mendidik anak agar menjadi sarjana, sukses dengan harta dan tinggi dalam jabatan. Padahal, setiap kesuksesan itu tiada berarti tanpa memiliki gelar “sholeh”.

Berharap memiliki anak soleh bukanlah hal yang remeh. Para Nabi pun diajari oleh Allah untuk berdoa agar memiliki anak soleh. Seperti doa Nabi Ibrahim as,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ -١٠٠-

“Ya Tuhan-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (As-Shaffat 100)

 

Dan seperti doa Nabi Zakaria as,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً -٣٨-

Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhan-nya. Dia berkata, “Ya Tuhan-ku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu.” (Ali Imran 38)

 

Begitu juga ketika Allah memberi kabar gembira tentang putra kedua Nabi Ibrahim, Allah menyebutnya putra yang soleh.

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مِّنَ الصَّالِحِينَ -١١٢-

“Dan Kami Beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” (As-Shaffat 112)

 

Juga kabar gembira kepada Nabi Zakaria as,

 أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقاً بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّداً وَحَصُوراً وَنَبِيّاً مِّنَ الصَّالِحِينَ -٣٩-

“Allah Menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (Ali Imran 39)

 

Begitu pula dengan Nabi Isa as,

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَمِنَ الصَّالِحِينَ -٤٦-

“Dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang saleh.” (Ali Imran 46)

 

Kata Sholeh selalu ditekankan oleh Allah swt. Karena semua prestasi dunia tidak akan berarti tanpa memiliki kriteria sholeh. Sholeh adalah tingkatan kemuliaan yang tinggi. Bukankah Ishaq as adalah nabi, tapi Allah masih menyebutnya termasuk orang yang sholeh. “seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Dan manusia-manusia suci yang telah mendapat kedudukan sebagai nabi pun masih mendapat gelar sholeh.

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ -٨٥-

“Dan Zakariyya, Yahya, ‘Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-An’am 85)

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ -٨٥- وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُم مِّنَ الصَّالِحِينَ -٨٦-

“Dan (ingatlah kisah) Isma‘il, Idris dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar, dan Kami Masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Anbiya’ 85-86)

 

Begitu pula ketika Allah menyebutkan para nabi satu per satu. Mereka disifati dengan sifat sholeh karena derajat kesholehan itu memiliki kedudukan yang begitu tinggi di sisi-Nya. Nabi Luth as

وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ -٧٥-

“Dan Kami Masukkan dia ke dalam rahmat Kami; sesungguhnya dia termasuk golongan orang yang saleh.” (Al-Anbiya’ 75)

 

Nabi Syuaib as

سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ -٢٧-

“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang soleh.” (Al-Qashas 27)

 

Nabi Yunus as

فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ -٥٠-

“Lalu Tuhan-nya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh.” (Al-Qalam 50)

 

Nabi Ibrahim as

وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ -١٣٠-

“Kami telah Memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.” (Al-Baqarah 130)

 

Bahkan ada Kekasih Allah yang telah menjadi Nabi masih meminta kepada Allah untuk digabungkan bersama orang-orang yang sholeh. Seperti doa Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman as. Nabi Yusuf as

تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ -١٠١-

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (Yusuf 101)

 

Nabi Sulaiman as

وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ -١٩-

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba- hamba-Mu yang saleh.” (An-Naml 19)

 

Seluruh Nabi berharap untuk menjadi golongan orang-orang yang sholeh. Karena derajat ini bukanlah kedudukan biasa. Saking besarnya kedudukan mereka, setiap muslim ketika solat harus mengakhiri solatnya dengan memberi salam kepada mereka.

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْن

“Salam atas kami dan atas hamba-hamba-Mu yang soleh.”

 

Dari ayat-ayat diatas, ternyata derajat sholeh itu memiliki tingkatan. Bahkan para Nabi pun ingin meraihnya. Dan kita semua meyakini bahwa satu-satunya manusia yang menempati derajat sholeh tertinggi adalah Nabi kita Muhammad saw.

إِنَّ وَلِيِّـيَ اللّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ -١٩٦-

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (al-Quran). Dia Melindungi orang- orang saleh.” (Al-A’raf 196)

 

Karena itu kita patut bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad saw, Pemimpin orang-orang yang sholeh. Semoga kita digolongkan bersama mereka di Hari Akhir kelak.

Komentar

LEAVE A REPLY