Khazanahalquran.com – Kita telah mendengar keterpurukan di zaman jahiliyah. Kesesatan manusia yang menyembah tuhan yang mereka ciptakan sendiri. Terkadang mereka membuat berhala dari makanan. Kemudian memakan tuhannya ketika kelaparan. Mereka mengubur anak perempuan yang dianggap aib. Mereka saling bermusuhan, berperang dan menyimpan dendam. Hingga datang utusan Allah yang terpilih. Manusia sempurna yang akan merubah keadaan. Menerangi kegelapan dengan cahaya. Dia lah yang disebut Allah sebagai nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia. Dia lah Muhammad Rasulullah saw.

Kiranya, apa yang telah diberikan oleh Rasulullah kepada manusia hingga disebut sebagai nikmat Allah yang terbesar?

Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا-١٠٣-

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah Mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah Menyelamatkan kamu dari sana.”

(Ali Imran 103)

Pada zaman jahiliyah, kita akan menemukan permusuhan yang tiada henti. Kefanatikan suku dan ras yang sangat dalam. Peperangan yang berkelanjutan. Ketika seorang ayah telah mati, permusuhan akan dilanjutkan oleh anak mereka. Bukankah kita pernah mendengar permusuhan antara suku Aus dan Khazraj. Mereka berperang selama 120 tahun. Generasi terus berlanjut untuk meneruskan peperangan.

Dalam kondisi perang yang tak berkesudahan ini, datanglah Rasulullah saw. Dengan keagungannya, beliau dapat menyatukan kedua suku yang bermusuhan ini. Dua suku yang berperang lebih dari satu abad dapat disatukan oleh manusia suci bernama Muhammad saw.

Bukankah terwujudnya persatuan adalah nikmat yang amat besar. Apa arti hidup jika selalu dalam peperangan. Tidak adanya ketentraman dan ketenangan. Hidup dalam perpecahan adalah bencana yang sangat mengusik ketenangan manusia.

Nabi Muhammad saw datang mendamaikan mereka yang bermusuhan. Mempersatukan kaumMuhajirin dan Anshor. Menjadikan mereka bersaudara satu dengan yang lain. Menciptakan kerukunan antar manusia. Ini adalah nikmat yang sangat besar.

Sebelum kedatangan nikmat Allah yang terbesar ini, manusia berada di tepian neraka. Mereka jauh dari harum surga. Kemudian Allah menyelamatkan mereka melalui kekasih-Nya, Muhammad saw. Dengan datangnya nabi terakhir ini, dia menarik manusia untuk menjauhi api neraka dan masuk ke dalam surga Allah swt. Adakah nikmat yang lebih besar dari terbebasnya manusia dari api neraka?

Jika kita selalu mengenang nikmat ini. Kita akan bercermin kepada diri kita sendiri. Apapun yang kita lakukan untuk membela Rasulullah saw adalah kecil. Walau nyawa adalah taruhannya. Semua itu tidak ada artinya karena yang kita bela adalah sumber nikmat Allah yang terbesar.

Rasulullah pernah bersabda bahwa banyak orang yang masuk islam tapi keimanan belum tertanam di hati mereka. Mendengar itu, sebagian orang mengungkit keislaman mereka dan usaha mereka dalam membela Rasulullah. Padahal, apa yang telah mereka lakukan untuk Rasulullah tidak sebanding dengan nikmat yang mereka peroleh dari beliau.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ-١٧-

“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang Melimpahkan nikmat kepadamu dengan Menunjukkan kamu kepada keimanan.”

(Al-Hujurat 17)

Sepanjang kehidupan, kita mendapat nikmat dari Rasulullah saw. Adakah perbuatan yang dapat kita banggakan dihadapan beliau?

Ketika ada orang bersikap keras dan tidak layak kepada Rasulullah saw. Allah langsung turun tangan untuk menegur mereka. Karena mereka telah bersikap tak pantas di hadapan nikmat Allah yang terbesar.

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَاء الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ -٤-

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak berakal.”

(Al-Hujurat 4)

Allah menegur mereka karena berani berteriak dan berlaku tidak sopan dihadapan nikmat-Nya yang terbesar. Ketika ada orang yang mengejek Rasul karena tidak memiliki penerus seorang anak laki-laki. Allah langsung menegur mereka dalam firman-Nya.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ -٣-

“Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

(Al-Kautsar 3)

Suatu hari. Rasulullah saw mengumpulkan orang-orang Anshor dan bersabda,

“Wahai orang-orang Anshor, apa yang akan kalian ungkit dariku? Bukankah aku datang sementara kalian berada dalam kesesatan dan Allah memberi hidayah kepada kalian melaluiku? Dan aku datang sementara kalian saling bermusuhan kemudian Allah menyatukan hati kalian?”

 

Ada beberapa Hadist dari Rasulullah saw yang menyebutkan tentang puncak kenikmatan. Rasulullah bersabda,

“Siapa yang menjumpai pagi dan sorenya dengan 3 hal maka telah sempurna kenikmatan dunianya. Dia yang pagi dan sorenya dalam keadaan sehat, aman dan memiliki kecukupan untuk hari itu. Tapi jika mereka memiliki yang keempat, maka telah sempurna kenikmatannya di dunia dan akhirat. Dan itu adalah Iman.”

Mungkinkah seseorang akan memiliki Iman tanpa melalui Rasulullah saw?

“Termasuk dalam kenikmatan adalah keluasan harta, dan yang lebik baik dari itu adalah kesehatan tubuh. Dan yang lebih baik dari kesehatan adalah ketakwaan hati.”

Mungkinkah seseorang akan mendapatkan ketakwaan hati tanpa melalui Rasulullah saw?

Ada seseorang yang berdoa agar Allah memberinya puncak kenikmatan. Rasulullah bertanya, “Tahukah engkau, apa puncak kenikmatan itu?” Dia menjawab, “Tidak, Wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Puncak kenikmatan adalah masuk surga.”

Mungkinkah seseorang akan masuk surga tanpa meminta izin kepada orang yang pertamamasuk surga? Bagaimana seorang akan masuk surga tanpa izin dari seorang yang karenanya Allah ciptakan surga?

Jika semua puncak kenikmatan itu tidak akan diraih tanpa melalui Rasulullah saw, maka kenikmatan terbesar itu sebenarnya adalah Rasulullah saw itu sendiri.

 

Bagaimana cara kita menyambut nikmat Allah yang terbesar ini?

Allah swt selalu mengajak kita untuk mengingat nikmat-Nya. Allah berfirman,

اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ-٤٠-

“Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku Berikan kepadamu.”

(Al-Baqarah 40)

وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ -٧-

“Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu”

(Al-Ma’idah 7)

Karena dengan selalu mengingat nikmat ini, kita akan selalu ingat dengan Sang Pemberi Nikmat. Kita akan menggunakan nikmat ini sesuai keinginan Sang Pemberi.

Jika Rasulullah saw adalah puncak kenikmatan, kita tidak boleh sekalipun melupakan beliau. Bahkan Allah sendiri mencontohkan dirinya untuk selalu mengingat Rasulullah dengan selalu bersolawat bersama para malaikat-Nya kepada Nabi Muhammad saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً -٥٦-

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(Al-Ahzab 56)

Setiap lisan kita menyebut nama Rasulullah, setiap itu pula Allah mementaskan kita dari kegelapan. Kita tidak boleh berpisah dengannya karena perpisahan dengan Rasulullah adalah bencana bagi kehidupan dunia maupun akhirat kita. Bukankah Allah telah berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ -٢-

“Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah Menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan Memperbaiki keadaan mereka.”

(Muhammad 2)

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ-٣٣-

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka.”

(Al-Anfal 33)

Bersama Rasulullah adalah bersama kenikmatan. Dan berpisah dengan beliau adalah mengundang bencana. Karena kenikmatan tidak akan pernah berkumpul dengan bencana.

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY