Allah swt telah memberi berbagai nikmat kepada manusia. Memberi apa yang diminta oleh hamba-Nya. Membekali manusia dengan panca indra dan kesehatan. Menganugerahkan akal untuk berpikir. Dan memberikan bermacam nikmat yang mustahil dapat disebutkan satu per satu.

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ-٣٤-

“Dan Dia telah Memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.”

Bukan hanya permohonan yang dikabulkan, bahkan Allah memberi sesuatu yang tidak kita minta. Hingga Allah melanjutkan firman-Nya,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا-٣٤-

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

(Ibrahim 34)

Segala sesuatu yang kita miliki adalah nikmat Allah. Dari hal terkecil sekalipun, semua adalah pemberian Allah. Semua nikmat itu besar karena yang memberi adalah yang Maha Besar.

Semua yang kita nikmati di dunia ini terbagi menjadi dua. Ada kenikmatan yang kita nikmati di dunia kemudian nikmat itu hilang dan hanya bersisa pertanggung jawaban di akhirat. Kita akan dimintai pertanggung jawaban tentang kesehatan yang sering kita gunakan untuk hal yang tidak disukai Allah. Mata akan ditanya tentang apa yang dia lihat. Kekayaan akan di hisab, untuk apa dia digunakan.

Sementara ada nikmat yang tidak terbatas di dunia. Nikmat itu kita nikmati di dunia dan akan kita jumpai lagi sebagai nikmat yang lebih besar di akhirat. Nikmat yang jika kita gunakan dengan benar akan melahirkan kenikmatan baru. Nikmat tubuh yang sehat misalnya. Jika kita gunakan tubuh ini dijalan yang direstui Allah, maka perbuatan itu akan menjadi tabungan kenikmatan selanjutnya. Jika kita menikmati dan berbagi harta sesuai dengan perintah Allah, maka harta itu akan melahirkan kenikmatan baru di akhirat kelak.

Mungkin bentuk kenikmatannya sama, tapi cara kita menikmati kenikmatan yang diberikan Allah itu menentukan apakah nantinya harus dipertanggung jawabkan atau akan menjadi kenikmatan baru. Karena itu Rasulullah ketika menikmati sesuatu, beliau selalu berharap semoga kenikmatan ini bersambung dengan nikmat di akhirat. Sementara Allah swt selalu membandingkan kenikmatan yang hanya dapat dinikmati di dunia dan kenikmatan yang tersambung terus hingga kehidupan selanjutnya. Kenikmatan dunia itu sedikit masanya, namun berat tanggungannya.

مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ -١١٧-

“(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”

(An-Nahl 117)

قُلْ تَمَتَّعُواْ فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ -٣٠-

Katakanlah (Muhammad),“Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ke neraka.”

(Ibrahim 30)

Andai seseorang diberi umur 1000 tahun. Tubuhnya selalu muda dan sehat. Keinginannya selalu terwujud. Semua itu tidak akan berarti ketika dihadapkan pada malam pertama di dalam kubur. Begitulah pesan Imam Ali bin Abi tholib.

Kenikmatan sejati adalah kenikmatan yang Allah berikan di dunia sebagai bekal untuk memperoleh kenikmatan di akhirat. Karena itu Rasulullah bersabda,

“Kesempurnaan nikmat adalah masuk surga”

Seorang yang masuk ke surga telah mendapat kenikmatan sejati karena dia telah hidup dalam kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan dunia hanyalah fatamorgana. Seakan telah menikmati berbagai kenikmatan padahal semua itu akan segera sirna.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ-٦٤-

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya”

(Al-Ankabut 64)

Sehingga mereka yang masuk ke neraka akan menyesal karena tidak mempersiapkan diri untuk kehidupan yang sebenarnya ini. Seakan kehidupannya di dunia hanyalah bayang-bayang fatamorgana.

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي -٢٤-

Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”

(Al-Fajr 24)

     Kenikmatan Terbesar

Jika kesempurnaan nikmat adalah ketika manusia masuk surga, maka puncak kenikmatan adalah meraih kerelaan Allah swt.

وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ -٧٢-

“Dan keridaan Allah lebih besar.”

(At-Taubah 72)

Bagaimana kita dapat meraih puncak kenikmatan itu?

Satu-satunya jalan untuk meraih kenikmatan abadi di akhirat adalah melalui Baginda Rasulullah saw. karena dia lah yang telah memberi jalan kepada kita untuk menikmati kenikmatan dunia dan akhirat. Dia lah yang memberi petunjuk kepada kita agar tidak tersesat dalam perjalanan meraih kenikmatan sejati.

Jika hanya melalui Rasulullah kita akan meraih puncak kenikmatan, maka sebenarnya kenikmatan terbesar itu adalah Rasulullah saw itu sendiri. Allah berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ -١٦٤-

“Sungguh, Allah telah Memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) Mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

(Ali Imran 164)

Di awal ayat ini, Allah menggunakan kata manna yang berarti memberi. Namun kata manna ini tidak berbentuk pemberian biasa. Manna dalam ayat ini adalah pemberian Allah yang tidak dapat di syukuri. Artinya, Allah swt memberi karunia dan kenikmatan kepada kaum mukminin berupa diutusnya Rasulullah saw. Dan nikmat itu tidak akan pernah bisa terbayar dengan apapun. Sehingga orang-orang mukmin akan selalu mempunyai hutang budi yang tak pernah terbayarkan kepada Rasulullah saw.

Mengapa khusus untuk orang Mukmin?

Sebenarnya, Rasulullah saw adalah nikmat terbesar bagi seluruh manusia. Dan seluruh makhluk akan selalu mempunyai hutang budi kepada beliau karena mereka tercipta berkat Rasulullah saw. Namun, walaupun Rasulullah diutus untuk semua manusia, yang bisa mengambil manfaat dari nikmat ini hanyalah orang mukmin. Semua manusia memperoleh kenikmatan dengan adanya nabi, tapi mereka berpaling darinya.

Tugas Rasulullah saw adalah membacakan ayat-ayat Allah. Lalu menggiring manusia menuju puncak kesempurnaan dan membersihkan mereka dari kotoran-kotoran jahiliyah. Sementara saat itu mereka sedang terperosok dalam kubangan kebodohan dan kesesatan.

Kita akan merasakan nikmatnya Islam saat kita mengingat kehidupan jahiliyah. Saat manusia menyembah berhala ciptaan mereka sendiri. Terkadang berhala itu terbuat dari makanan. Mereka akan memakan tuhan mereka saat tiba musim paceklik. Adakah kesesatan yang lebih dari ini?

Mereka mengubur anak perempuan. Mengabaikan hak wanita. Hati mereka telah mati dari rasa kasih sayang. Semua itu terjadi di zaman jahiliyah hingga di utuslah Rasulullah saw. Nabi terakhir ini datang untuk menyelamatkan manusia dari kebengisan hidup dan kegelapan zaman.

Kiranya, apa yang diberikan Rasulullah saw hingga beliau disebut nikmat Allah yang terbesar?

Apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi Nikmat terbesar ini?

Temukan jawabannya di Tahukah Anda, Apa Nikmat Allah yang Terbesar? (Bag 2)

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY