Khazanahalquran.com – Allah swt sebagai Pencipta adalah Dzat yang paling mengenal Rasulullah saw. Dia lah yang paling tau keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw. Karenanya, jika kita ingin lebih mengenal Rasulullah, bertanyalah pada Al-Qur’an !

Kali ini kita akan bertanya pada Al-Qur’an tentang apa tugas seorang mukmin yang telah menentukan pilihan untuk beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Sikap apa yang harus kita miliki dihadapan ketentuan Rasulullah? Apa yang harus kita lakukan ketika mendengar perintah dan larangan beliau? Dan bagaimana kita memposisikan Rasulullah dalam kehidupan kita? Mari kita lihat bersama, apa jawaban Al-Qur’an mengenai hal ini?

Ketika berbicara tentang agama, Allah swt tidak pernah sekalipun memaksa seseorang untuk memeluk agama tertentu. Allah mengutus para nabi-Nya untuk memberi penjelasan tentang jalan keselamatan dan jalan kesesatan. Tidak ada paksaan di dalam agama. Allah berfirman:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ -٢٥٦-

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.”

(Al-Baqarah 256)

Rasulullah pun tidak pernah sekalipun memaksa seseorang untuk menerima risalahnya. Beliau berusaha menyampaikan kebenaran agar semakin banyak umatnya yang terbebas dari api neraka. Tapi, walaupun tidak ada paksaan dalam menganut islam, tetaplah ada konskuensi bagi seorang yang telah menetapkan dirinya untuk menjadi muslim. Ketika dia telah menentukan untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia harus berkomitmen dengan apa yang dia pilih. Seorang yang telah memilih islam sebagai agamanya harus rela terhadap aturan agama yang mengikatnya. Dan salah satu aturan itu adalah bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan Rasulullah saw.

 

Rasulullah Lebih Utama dari Diri Sendiri

Allah swt berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ-٦-

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri”

(Al-Ahzab 6)

Di dalam ayat ini, Allah ingin mengajari kita cara berakhlak kepada Rasulullah saw. Allah ingin agar kita meletakkan posisi Rasul diatas diri kita sendiri. Artinya, perintah beliau melebihi perintah siapapun. Kecintaan kepada beliau harus melebihi kecintaan pada siapapun bahkan kepada diri sendiri. Jika kita berusaha menjaga diri kita dari segala bahaya, maka seharusnya kita harus menjaga Rasulullah melebihi diri kita.

Saat menafsirkan ayat ini, para ahli tafsir berpendapat bahwa hukum Rasulullah diatas seluruh hukum manusia. Seruan Rasulullah diatas seluruh seruan manusia. Bahkan, seruang beliau diatas seruan diri kita sendiri. Jiki diri ini menginginkan sesuatu sementara Rasulullah menginginkan sesuatu yang lain, kita harus mendahulukan keinginan Rasul dan membuang keinginan diri kita.

Dalam ayat ini, Allah ingin mengatakan bahwa Rasulullah saw diberi wewenang mutlak atas seluruh makhluk. Apapun perintah yang diberikan olehnya harus didahulukan walaupun itu berat dan menyulitkan diri kita. Seharusnya, seluruh makhluk Allah hanya berkata “iya” dihadapan Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda,

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai keinginannya mengikuti apa yang telah aku bawa.”

“Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, belum beriman salah seorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintai dari dirinya, hartanya, anaknya dan dari seluruh manusia.”

Seseorang yang memiliki iman yang sempurna adalah dia yang menjadikan keinginannya sesuai dengan keinginan Rasulullah saw. Kesempurnaan iman akan diraih ketika seseorang memposisikan Rasulullah sebagai orang nomor satu dalam hidupnya. Mencintai Rasulullah melebihi siapapun. Dan mengutamakan Rasulullah diatas siapapun. Jika kita ingin mengetahui bagaimana kedudukan kita dihadapan Rasulullah, lihatlah kedalam hati kita ! Seberapa besar kedudukan Rasulullah di hati kita, sebesar itulah kedudukan kita di hadapan Rasulullah.

 

 

 

Tidak ada Pillihan Lain dihadapan Rasulullah

Selain mengutamakan Rasulullah dalam segala sesuatu, kita juga diminta untuk tidak mencari pilihan lain ketika Rasulullah telah menentukan sesuatu. Allah swt berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ-٣٦-

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah Menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.”

(Al-Ahzab 36)

Bagi seorang mukmin, tidak ada pilihan lain selain pilihan Rasulullah saw. Seorang yang mengenal Rasulullah tidak akan mengajukan pendapat lain selain pendapat Rasul. Dia akan menghormati segala keputusan yang diberikan nabinya. Sementara meraka yang tidak mengenal posisi Rasulullah dan tidak mengetahui keagungan beliau, dia akan memberi pendapat lain diluar pendapat Rasulullah. Dia sering mengeluarkan alasan dan menganggap pendapatnya lebih baik daripada pendapat Rasulullah.

Padahal, dalam lanjutan ayat diatas, Allah menyebut mereka yang memilih pilihan lain selain pilihan Rasulullah sebagai orang yang durhaka dan berada dalam kesesatan yang nyata.

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً -٣٦-

“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”

(Al-Ahzab 36)

Kita akan melihat bagaimana sikap seorang yang mengenal Rasulullah saw ketika mendapat ketentuan dari nabinya. Dia adalah pintu kota ilmu Rasul, Ali bin Abi tholib. Ketika Rasullah hendak berhijrah ke Madinah, dia menyuruh Ali untuk tidur di tempat tidur Rasulullah agar musuh tidak mengetahui kepergiannya.

Kira-kira, apa jawaban Imam Ali? Apa jawaban dari seorang yang mengenal Rasulullah saat mendapat perintah darinya?

Imam Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku tidur di tempat tidurmu apakah engkau akan selamat?

Rasulullah menjawab, “Iya”

Saat itu pula Imam Ali bersujud dan menangis atas keselamatan Rasulullah.

Bagi seorang yang mengenal Rasulullah seperti Ali, tidak ada pilihan lain selain taat dan patuh kepada Rasulullah. Dia tidak sedikitpun mengkhawatirkan keselamatannya. Karena keselamatan Rasul adalah yang termahal. Dan dirinya tidak berharga sama sekali dihadapan Rasulullah. Kapan seorang budak memiliki dirinya? Budak adalah milik tuannya. Sementara Imam Ali dengan bangga berkata:

“Aku adalah budak dari budak-budak Muhammad”

Begitu juga dengan ayahnya yang bernama Abu tholib, paman Rasulullah saw. Dia selalu memikirkan keselamatan kepokannya ini. Bahkan ketika keluarga Bani Hasyim di boikot di suatu lembah. Abu tholib selalu sibuk menjaga Rasul dan menyuruhnya berpindah-pindah ketika ingin tidur. Semua itu dilakukan agar musuh tidak berhasil melukai Rasulullah. Biarkan anakku yang mati asal engkau selamat wahai Muhammad, katanya. Bahkan dalam bait syairnya yang terkenal, Abu tholib berkata:

“Demi Allah, mereka tidak akan pernah menyentuh (Muhammad) sampai mereka melangkahi mayatku terlebih dahulu”

Itulah orang-orang mulia yang mengenal kemuliaan dan keagungan Rasulullah saw. Mereka tidak akan pernah menolak dan selalu menghormati seluruh keputusan Rasulullah saw.

 

Jangan Memanggil Rasulullah seperti Memanggil Nama Orang Lain

Selanjutnya, Allah mengajari kita untuk tidak kurang ajar dihadapan Rasulullah. Tidak memanggil Rasul dengan namanya seperti kita saling memanggil satu sama lain. Allah berfirman:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضاً -٦٣-

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).”

(An-Nur 63)

Ayat ini turun bagi mereka orang-orang kasar dan berwatak keras yang selalu bersikap kurang sopan dihadapan Rasulullah. Mereka berlaku kasar karena tidak tau siapa yang ada dihadapannya. Mereka tidak tau bahwa mereka sedang berhadapan dengan kekasih Allah, yang karenanya seluruh alam ini diciptakan.

Berbeda dengan Fatimah putri Rasulullah saw. Ketika mendengar ayat ini, ia takut untuk memanggil ayahnya dengan panggilan “ayah”. Tak seperti biasanya, hari itu Fatimah memanggil ayahnya dengan panggilan “Wahai Rasulullah”. Mendengar itu Rasulullah tersenyum dan menyuruh putrinya untuk tetap memanggilnya dengan panggilan ayah. Karena ayat itu turun untuk mereka orang-orang kasar dan berwatak keras. Bukan untuk Fatimah dan putra-putrinya.

Tetaplah panggil aku dengan panggilan ayah karena itu lebih aku cintai dan di ridhoi Allah swt, kata beliau kepada putri tercintanya.

Fatimah begitu mengenal Rasulullah dan selalu menjadikan beliau lebih utama dari dirinya sendiri. Sehingga ketika mendengar ayat itu, dia takut untuk melanggar perintah Allah untuk bersikap sopan kepada nabinya.

Sebenarnya, mengapa kita tidak boleh memilih selain pilihan Rasulullah?

Kenapa kita harus tunduk patuh tanpa boleh berkomentar dihadapan Rasulullah?

Kenapa Allah memberikan wewenang penuh kepada Rasulullah sehingga kita harus mengutamakan beliau diatas semua orang?

Kenapa kita harus mencintai beliau melebihi seluruh keluarga kita bahkan diri kita sendiri?

Temukan jawabannya di Siapa yang Paling Berharga dalam Hidupmu? (Bag 2)

Komentar

LEAVE A REPLY