Khazanahalquran.com – Sampailah kita pada seri terakhir dari ayat kursi. Sebelumnya kita telah membahas bahwa Allah adalah Sang Pemilik langit dan bumi. Dia lah yang Mengatur seluruh ciptaan-Nya tanpa pernah alpa sedikitpun. Dia lah yang Mengetahui yang lalu dan akan datang. Dia lah Dzat yang tidak pernah terbawa rasa kantuk ataupun tertidur. Dia lah Allah, yang Kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Mungkin benak kita bertanya-tanya, apakah Allah tidak kesulitan untuk mengurusi semua ini ciptaan-Nya? Apakah Allah tidak kewalahan untuk menjaga langit dan bumi? Akan kita temukan jawabannya dalam Firman Allah berikut ini,

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Dia tidak merasa berat Memelihara keduanya.”

 

Tidak ada kata berat, sulit ataupun lelah bagi Dzat Allah swt. Semua yang Dikehendaki spontan akan tewujud, Kun Fayakuun.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

“Dan sungguh, Kami telah Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun.” (QS.Qaf:50)

 

Sebagian orang mempertanyakan bagaimana Allah akan Menghidupkan mayat yang telah hancur, Allah menjawab keraguan mereka dengan Firman-Nya,

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

“Dan Dia-lah yang Memulai penciptaan, kemudian Mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya.” (QS.ar-Rum:27)

Sebenarnya tidak ada yang lebih mudah atau lebih sulit bagi Allah swt. Semuanya sangat mudah dan tidak menyusahkan-Nya. Namun ayat ini ingin memahamkan manusia melalui logika mereka. Karena menciptakan yang belum ada lebih susah dari menyusun kembali sesuatu yang sudah ada. Lalu kenapa manusia mempertanyakan bagaimana Allah Menghidupkan yang sudah mati dan tidak memikirkan bagaimana Allah Menciptakan alam semesta ini?

Mencipta, Mengatur, Menjaga dan Membagi rezeki adalah hal yang sangat mudah bagi Allah swt. Seperti dikutip dalam Firman-Nya,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah Mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS.al-Hajj:70)

 

Kemudian Allah Menutup ayat kursi ini dengan Firman-Nya,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”

Dua sifat ini adalah penutup bagi sifat-sifat Allah sebelumnya. Dia lah yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Yang dimaksud Maha Tinggi dan Maha Besar bukanlah lebih tinggi atau lebih besar dari yang lain, tapi lebih tinggi dari yang dapat dibayangkan. Lebih besar dari yang dapat dipikirkan.

Jika kita ditanya, dalam hal apa sifat Maha Tinggi ini? Maka jawabannya adalah dalam semua hal. Dalam semua sifat Allah tersimpan sifat Maha Tinggi. Dalam ilmu-Nya, dalam kasih sayang-Nya, dalam kuasa-Nya dan dalam semua sifat selalu berada di puncaknya. Tak terbatas dan tak mampu dijangkau oleh siapapun.

Maka sebagai penutup, jadikanlah ayat kursi ini sebagai bekal kehidupan. Bukan hanya sebagai sumber pahala saat dibaca, tapi juga menjadi spirit yang kuat bahwa “aku selalu bersama Allah”. Jadikan ayat ini sebagai kekuatan untuk menghadapi segala rintangan di dunia ini.

Tidak ada lagi kata takut dan cemas bagi mereka yang berpegang pada ayat kursi. Karena ayat ini mengantarkan kita untuk menjadi pribadi yang bertauhid dan hanya berpegang kepada Sang Pemilik langit dan bumi.

“Duhai tuhanku, bagaimana aku akan merasa miskin padahal tuhanku adalah Engkau.”

(Al-Habib Ali Al-Habsyi, Pengarang Maulid Simthud Dhuror)

 

 

Komentar

LEAVE A REPLY