Khazanahalquran.com – Masih dalam seri tafsir ayat kursi, mari kita simak kajian lanjutan dari seri sebelumnya.

 

2. (لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ) Tidak ada tuhan selain Dia.

Inilah kalimat tauhid. Sebuah kalimat yang diserukan oleh seluruh nabi. Kalimat yang telah tertulis dan tertanam pada diri setiap manusia.

Kata tuhan (إِلَـهَ) didalam Al-Qur’an bersifat mutlak. Yaitu Tuhan yang sebenarnya dan tuhan-tuhan palsu yang disembah oleh manusia.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْاْ عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُواْ يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Dan Kami Selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS.al-A’raf:238)

Dalam kalimat tidak ada tuhan selain Dia bukan bertujuan untuk mengatakan bahwa tuhan itu tidak ada, baru kemudian menjelaskan Adanya Allah. Al-Qur’an tidak ingin hanya menjelaskan bahwa Allah itu Ada. Karena segala sesuatu disekeliling kita telah membuktikan Keberadaan-Nya.

Bahkan para nabi pun diutus bukan untuk menyampaikan Keberadaan Allah tapi untuk memberi tahu bahwa Allah itu Esa. Bukankan Allah Berfirman,

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (QS.Ibrahim:10)

 

Keberadaan Allah sebenarnya telah diyakini oleh setiap manusia. Buktinya, orang-orang yang menyembah berhala pun tidak meyakini bahwa berhala itu yang menciptakan segalanya.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). (QS.al-Ankabut:41)

 

Kaum musyrik Mekah pun beralasan bahwa mereka menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS.az-Zumar:3)

 

Bahkan Fir’aun pun tidak pernah mengaku sebagai pencipta. Ia hanya mengaku sebagai tuhan yang mengatur segalanya,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي

Dan Fir‘aun berkata. “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain aku.” (QS.al-Qashas:38)

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

(Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS.an-Nazi’at:24)

 

Manusia akan mengenal Allah dengan sendirinya. Dikisahkan bahwa ada seorang arab yang hidup di tengah padang pasir, sehari-hari ia hanya hidup dengan onta. Kehidupannya masih sangat primitif. Suatu hari, ia pernah ditanya bagaimana ia bisa mengenal Allah. Ia pun menjawab dengan jawaban yang singkat,

“Kotoran onta mengisyaratkan adanya onta”

Seluruh alam yang luar biasa ini mengisyaratkan adanya pencipta. Maka kalimat tauhid itu bukan untuk menjelaskan Keberadaan Allah tapi mengajak kita untuk membuang semua sesembahan, karena hanya Dia lah yang layak untuk disembah.

Kalimat ini ingin mengajarkan kebebasan mutlak agar jangan ada yang tunduk dan takut kepada makhluk. Tunduklah hanya kepada Sang Pencipta.

Dan kalimat ini tidak hanya menjelaskan bahwa tiada tuhan selain Allah. Tapi juga menjelaskan bahwa tiada yang layak disembah, tiada yang layak diikuti, tiada yang layak dimintai pertolongan kecuali Allah swt.

Ayat kursi menjadi agung karena didahului oleh kalimat tauhid. Dan kata (هُوَ) mengisyaratkan bahwa tidak ada yang bisa menjangkau Dzat Allah swt. Kita hanya bisa mengenalnya melalui sifat-sifat-Nya saja.

Komentar

LEAVE A REPLY