Khazanahalquran.com – Ketika semakin jauh mendalami kandungan ayat kursi, kita akan menemukan pelajaran tauhid yang begitu berharga. Ketika semakin dalam merenungi maknanya, kita akan mendapatkan ketenangan hati dan kemantapan jiwa.

Manusia sering lupa atau “pura-pura” lupa bahwa semua yang ia miliki sebenarnya bukan miliknya. Harta, tahta, keluarga dan semua yang ada digenggaman kita hanyalah titipan saja. Bahkan diri kita pun sebenarnya bukan milik kita dan bukan dalam kekuasaan kita. Imam Ali bin Abi tholib pernah ditanya, “Bagaimana engkau mengenal tuhanmu?”

Beliau menjawab, “Dengan gagalnya rencana-rencana, maka aku yakin bahwa diriku ada yang mengatur dan bukan dalam kekuasaanku.”

Semua ini hanyalah titipan, namun dalam Hadist Qudsi-Nya, Allah Berfirman,

“Wahai anak Adam, engkau selalu mengatakan hartaku hartaku. Bukankah harta itu ketika kau makan akan sirna, ketika kau pakai akan lapuk dan ketika kau berikan baru akan kekal.”

Mereka tidak sadar bahwa semua itu Milik Allah swt,

وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang Dikaruniakan-Nya kepadamu.” (QS.an-Nur:33)

Mereka tak sadar bahwa semua itu adalah amanah dari-Nya,

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah Menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah).” (QS.al-Hadiid:7)

 

Dengan jelas Al-Qur’an Menggunakan kata “harta Allah” sebagai simbol bahwa sebenarnya manusia tak memiliki apa-apa. Lalu jika kita ditanya, apa buktinya semua ini hanyalah titipan?

Buktinya sangat gamblang, bukankah kita sering melihat seseorang yang diwaktu pagi kaya raya dan sore harinya jatuh miskin tak bersisa? Bukankah kita menyaksikan seorang yang tubuhnya kekar tiba-tiba sakit tak berdaya?

Jika Allah Berkehendak, Dia dapat mencabut semua titipan itu dalam sekejap mata. Masihkah kita berpikir semua kenikmatan itu benar-benar milik kita?

Penggalan ayat kursi diatas ingin mengajarkan makna tauhid yang sebenarnya bahwa kita tidak memiliki apa-apa, semua adalah Milik Allah semata. Pelajaran jika benar-benar direnungkan akan memberikan efek yang luar biasa dalam hidup kita.

Dan pelajaran yang dapat kita ambil dari penggalan ayat kursi ini adalah :

1. Jika semua kenikmatan itu bukan milik kita, maka gunakanlah sesuai keinginan pemiliknya. Jika kita menggunakannya untuk sesuatu yang tidak disukai sang pemilik, maka sama saja kita sedang merampas sesuatu yang bukan milik kita.

2. Jika semua kenikmatan itu hanya titipan, maka kita akan berlomba untuk berbagi dan saling membantu. Karena semua itu bukan milik kita, lantas kenapa harus pelit untuk berbagi?

3, Jika semua anugerah itu hanya titipan, kita tidak akan merasa sombong. Untuk apa bangga diri dengan sesuatu yang bukan milik kita?

4. Jika semua itu hanya titipan, kita akan memiliki batasan untuk menggunakannya. Jika kita semena-mena, bukankah Allah Mampu Mencabut kenikmatan itu dalam sekejap?

 

Namun kita patut bersyukur karena memiliki Tuhan yang Arhamur Rahimin. Coba bayangkan, Dia hanya Menyuruh kita mengeluarkan sedikit dari harta titipan tersebut. Selebihnya silahkan gunakan dan nikmati.

Tak hanya itu, jika kita mau berbagi, Allah akan Menggantinya bahkan Melipatgandakan balasannya. Walaupun sebenarnya harta itu adalah Milik-Nya. Adakah yang lebih Penyayang dari Allah swt?

 

Makna Lain dari Penggalan Ayat diatas

Dan makna lain dari penggalan ayat kursi ini adalah :

1. Allah Ingin Menjelaskan bahwa Diri-Nya adalah Pemilik Langit dan Bumi. Maka ketika Allah Memberikan aturan dan undang-undang, semuanya untuk kebaikan makhluk-Nya. Karena Dia-lah Pemilik yang paling mengerti yang terbaik bagi hamba-Nya.

2. Jika manusia menentang Allah, ketahuilah bahwa penentangan itu tidak merugikan-Nya sedikitpun. Karena Dia adalah Pemilik Alam Semesta.

Maka siapapun yang menghadirkan ayat ini dalam kehidupannya, ia tidak akan pernah gentar ketika menghadapi siapapun. Karena ia sedang bersama Pemilik Alam Semesta. Siapa lagi yang akan ia takuti?

Semoga ayat ini dapat menjadi pegangan hidup kita sehingga tidak ada lagi kata takut dan sedih dalam menghadapi segala kondisi apapun.

Komentar

LEAVE A REPLY