Khazanahalquran.com – Sebelumnya, kita telah sedikit mengenal keluasan rahmat Allah swt. Rahmat yang meliputi segala sesuatu. Rahmat yang jika terputus sedetik saja maka hancurlah seluruh alam semesta. Hingga kita sampai pada pertanyaan, siapakah simbol rahmat Allah di bumi ini? Siapakah penghubung rahmat Pencipta dengan makhluk-Nya? Siapakah yang menjadi gambaran keluasan rahmat Allah swt di alam ini?

Jika rahmat Allah meliputi segala sesuatu, maka simbol rahmat-Nya harus memiliki rahmat dan kasih sayang terluas hingga tak terikat dengan suatu alam. Alam Manusia, binatang, jin bahkan malaikat sekalipun harus memperoleh sentuhan rahmat darinya. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٧-

“Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

(Al-Anbiya’ 107)

Jika ada rahmat Allah swt di setiap sesuatu maka ada pula percikan Nur Muhammad di dalamnya. Karena dari cahaya itulah segala sesuatu tercipta. Bukankah dalam Hadist Qudsi-Nya, Allah pernah berfirman:

لولاك يا محمد ما خلقت الافلاك

“Jika bukan karenamu Wahai Muhammad, tidak Aku Ciptakan alam semesta”

Seluruh makhluk menjadi ada karena rahmat Muhammad saw yang Allah berikan kepadanya.

Simbol rahmat itu Allah berikan kepada seorang yang hatinya dipenuhi dengan rahmat dan kasih sayang. Tidak ada satu makhluk pun yang tidak mendapat sentuhan rahmat darinya. Karena Allah swt hanya akan menurunkan rahmat dan kasih sayang-Nya melalui kekasih-Nya ini.

Ketika Jibril membawakan ayat ini, Rasulullah saw bertanya padanya, “Apakah engkau juga memperoleh rahmat ini?”

Kemudian Jibril menjawab, “Iya, wahai Rasulullah. Aku memperoleh percikan rahmatmu itu. Bahkan hanya itulah yang dapat kuandalkan.”

Bukan hanya malaikat, binatang pun memperoleh rahmat dan kasih sayang dari Rasulullah saw. Tahukah kita bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia pertama yang mengumumkan untuk tidak berbuat keji terhadap binatang. Bukankah Rasulullah telah berpesan untuk menajamkan pisau ketika hendak menyembelih binatang. Agar mereka tidak tersiksa saat di potong lehernya. Bukankah Rasulullah saw yang melarang anak-anak kecil yang sedang asyik melempari burung dengan batu.

Di zaman ketika hati manusia keras dan tak memiliki kasih sayang, Rasulullah datang dengan hati penuh rahmat bahkan kepada binatang sekalipun.

Suatu hari, ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya. Ada seekor unta yang menunduk dan mendekati Rasulullah saw. Unta itu semakin dekat hingga berada tepat dihadapan Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah mendekatkan telinganya dan mendengarkan apa yang dikatakan unta tersebut. Ternyata unta itu mengadukan majikannya yang berlaku keras kepadanya. Sang majikan selalu memaksa dia untuk bekerja keras tanpa memberi makanan yang cukup. Saat itu juga, Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk memanggi pemilik unta ini dan menasehatinya. Bayangkan, seekor unta juga mendapatkan kasih sayang dari Rasulullah saw.

Simbol rahmat itu Allah berikan kepada seorang yang berlaku lemah lembut walau kepada orang yang menentangnya.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ -١٥٩-

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

(Ali Imran 159)

Kita akan terheran ketika melihat Rasul teramat sedih saat memikirnya umatnya yang berpaling darinya. Padahal jika mereka mengikuti Rasulullah saw, tidak akan menambah kemuliaan beliau sedikitpun.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفاً -٦-

“Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Quran).”

(Al-Kahf 6)

Saat melihat umatnya berpaling, Rasulullah saw seperti seorang ayah yang sakit ketika melihat anaknya berpaling darinya. Bahkan kasih sayang Rasulullah kepada umatnya melebih kasih sayang orang tua pada anaknya. Hingga kecemasan Rasul ini bisa mencelakakan dirinya sendiri. Adakah hati yang memiliki kasih sayang semacam ini?

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ -٨-

“Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

(Fathir 8)

Beliau benar-benar memikirkan umat ini. Hingga kekasihnya yaitu Allah swt menegurnya agar tidak berlebihan dalam memikirkan umatnya yang berpaling. Inilah simbol rahmat Allah di muka bumi ini. Tidak ada satupun makhluk yang mampu memikul keluasan rahmat Allah ini kecuali Muhammad Rasulullah saw.

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ -٣-

“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman.”

(Asy-Syuara’ 3)

Mungkin kita akan bertanya, jika rahmat Rasulullah meliputi orang mukmin maupun kafir, rahmat apakah yang dirasakan orang kafir dari Rasulullah saw?

Di zaman para nabi sebelumnya, orang-orang yang berpaling dari Allah akan di adzab seketika ketika di dunia. Banjir melanda Kaum Nuh dan membinasakan mereka. Angin menghancurkan Kaum Ad. Hujan batu membumi hanguskan Kaum Luth. Sementara itu, berkat rahmat Nabi Muhammad saw, umatnya yang berpaling tidak dihancurkan seketika seperti umat terdahulu. Mereka diberi kesempatan taubat yang panjang hingga ruh berada di tenggorokan.

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ-٣٣-

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka.”

(Al-Anfal 33)

Keberadaan Rasulullah saw adalah simbol rahmat Allah maka tidaklah adzab akan turun ketika ada simbol keluasan rahmat Allah ditengah mereka.

Selain itu, Rasulullah juga telah membawakan konsep kehidupan yang terbaik untuk mereka. Konsep kehidupan yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang. Jalan hidup yang menjajikan kebahagiaan bagi yang memilihnya. Rahmat itu telah sampai kepada mereka, namun mereka menolak. Seperti seorang lapar yang ditawarkan makanan yang lezat kepadanya namun dengan angkuh ia menolak. Sang pemberi makanan tetaplah orang yang mulia walau makanannya ditolak.

 

Bagaimana rahmat Rasulullah saw bagi orang mukmin?

Jika Allah swt menyebut dirinya Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia juga memberikan sifat itu kepada kekasih-Nya, Muhammad saw.

إِنَّ اللّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٤٣-

“Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

(Al-Baqarah 143)

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٢٨-

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

(At-Taubah 128)

Jika orang kafir saja mendapatkan rahmat dari Rasulullah, maka orang-orang yang beriman pasti akan mendapat rahmat yang jauh lebih besar. Seluruh syariat yang beliau berikan adalah rahmat. Lihatlah perintah dan larangan beliau, semuanya adalah untuk kebahagiaan dan keselamatan umatnya. Karena itu, salah besar ketika ada seorang yang menawar syariat yang telah ditetapkan Rasulullah. Sama saja dia menawar rahmat yang akan dia dapatkan.

Bagi orang mukmin, Allah telah memberi keistimewaan pada nabi Muhammad saw dengan solawat. Hanya dengan menyebut namanya, Allah akan mengucurkan rahmat-Nya yang luas. Karenanya, Allah mengajak seluruh orang mukmin untuk bersolawat kepada Nabi Muhammad saw agar rahmat itu selalu turun kepada mereka. Karena rahmat-Nya hanya akan turun melalui Nabi Muhammad saw.

Akhirnya, sebagai umat yang mengaku mencintai Nabi Muhammad saw, kita dituntut untuk memiliki sifat rahmat dan kasih sayang. Sungguh malu saat kita berteriak cinta pada Mustofa sementara tidak ada kasih sayang di hati kita. Bukankah Allah pernah berfirman tentang para pengikut Rasulullah,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ-٢٩-

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap tegas terhadap orang-orang ka-fir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

(Al-Fath 29)

Suatu hari, ada seorang sahabat yang menanyakan tips agar rahmat Allah tidak pernah putus kepada kita. Rasulullah menjawab,

“Sayangilah dirimu dan sayangilah makhluk Allah, maka Allah akan memberikan kasih sayang padamu (merahmatimu)”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw pernah berpesan,

“Sayangilah yang penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangimu”

 

Jika Allah sebagai Pencipta Alam menyebut dirinya Arhamur Rohimin. Dia adalah sumber rahmat Alam semesta.

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ -١٥٦-

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

Kemudian Rasulullah saw diutus sebagai simbol rahmat bagi seluruh Alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٧-

“Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٢٨-

“Penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

Dan syariatnya pun (Al-QUr’an) adalah rahmat.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ -٨٢-

“Dan Kami Turunkan dari al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat.”

Karenanya, para pengikut Rasulullah saw harus memiliki hati yang rahmat dan penuh kasih sayang.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ-٢٩-

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY