Khazanahalquran.com – Manusia disebut sebagai makhluk sosial. Mereka tidak dapat hidup sendiri. Mereka memiliki akal yang dapat berkembang dengan adanya komunikasi, saling berbagi ilmu dan saling membantu. Tanpa ada komunikasi, akal manusia tidak akan berkembang. Agama pun selaras dengan hal ini. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, ia juga memperhatikan hubungan antar manusia. Hablun Minallahh, Hablun Minannas.

Menurut Rasulullah saw, manusia yang paling rugi di Hari Kiamat adalah mereka yang membawa pahala solat, puasa dan ibadah lain dihadapan Mahkamah Allah swt. Namun di waktu yang sama, mereka mencaci maki orang lain, merampas harta yang bukan miliknya dan menyakiti sesama hamba Allah swt.

Mengapa mereka begitu rugi? Karena kelak di Hari itu mereka harus menebus dosa yang dilakukan kepada sesama hamba Allah dengan memberikan pahala ibadahnya. Pahala itu dibayarkan kepada orang yang didzoliminya. Dan jika pahalanya telah habis, maka orang yang didzolimi itu akan memberikan dosanya kepada mereka. Dan inilah tipe orang yang paling bangkrut menurut Rasulullah saw.

Sebagai seorang muslim, kita tidak cukup berhubungan baik dengan Allah. Kita juga dituntut untuk berhubungan baik dengan sesama hamba Allah. Selain itu, kita juga tidak cukup meyakini dan menjalankan ajaran agama. Kita juga dituntut untuk mengabarkan islam yang sebenarnya kepada orang lain. Islam Rahmatan lil Alamin yang murni dari Rasulullah saw. Kemudian menyeru umat untuk berpegang teguh kepada islamnya.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ-١٠٤-

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran 104)

Persatuan Umat Islam

Sungguh ironis ketika kita melihat umat islam hari ini. Kesucian islam di nodai dengan umpatan dan cacian sesama pengikutnya. Kemuliaan islam dikotori dengan saling mengkafirkan. Padahal Allah swt berfirman,

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ -٩٢-

“Sungguh, inilah umat kalian, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan-mu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’ 92)

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ -٥٢-

“Dan sungguh, inilah umat kalian, umat yang satu dan Aku adalah Tuhan-mu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun 52)

Kalian adalah umat yang satu, kata Allah swt. Lalu kenapa kaum muslimin mendustakan Firman Tuhannya sendiri dengan mengkafirkan saudara sesama muslimnya? Allah berserta Rasul-Nya sangat menekankan persatuan diantara umat yang satu ini. Karena hanya dengan persatuan, islam akan mencapai kejayaannya. Hanya dengan persatuan, Islam akan berada pada posisi sebenarnya.

Sebelumnya, kita akan bertanya, bagaimana bentuk persatuan islam itu?

Persatuan Islam

Sebagian orang berpikir bahwa persatuan islam adalah menjadikan seluruh muslimin sama dalam segala hal. Sama dalam aqidah, fiqh, adat, keseharian dan lain sebagainya. Jika ada perbedaan sedikit saja, maka dia tidak akan pernah mau bersatu.

Apakah seperti ini yang disebut persatuan islam? Menjadikan seluruh kaum muslimin sama dalam segala sesuatu adalah hal yang mustahil. Jutaan kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda. Dibentuk dengan pemikiran yang bermacam-macam. Mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah dengan berbagai tafsiran. Lantas, mungkinkah menjadikan mereka semua berada dalam satu pemikiran dan madzhab tertentu?

Tentu, hal ini mustahil terjadi. Lalu bagaimana yang dimaksud dengan persatuan islam?

Umat yang Satu

Islam menyebut para pengikutnya dengan Ummatan Wahidah, Umat yang Satu. Selain itu ada umat-umat lain yang masuk kategori non-muslim. Sebelumnya kita telah menyebutkan Firman Allah dalam Surat Al-Anbiya’ 92 dan Al-Mu’minun 52 tentang umat yang satu. Dan pada ayat lainnya Allah berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ -٤٧-

“Dan setiap umat (mempunyai) rasul.” (Yunus 47)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً -٣٦-

“Dan sungguh, Kami telah Mengutus seorang rasul untuk setiap umat” (An-Nahl 36)

Dalam segi bahasa, umat memiliki beberapa makna.

  1. Kumpulan orang yang mengikuti sesuatu.
  2. Kumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama
  3. Kumpulan orang yang memiliki pemimpin

Ketiga makna ini bergabung menjadi satu, itulah yang disebut umat. Dan untuk menjadi umat yang bersatu harus memiliki kesamaan dalam ketiganya. Disini ada beberapa syarat agar umat islam bisa bersatu.

1. Kesamaan dalam Aqidah (وحدة العقيدة)

Untuk menjadikan umat ini bersatu, mereka harus memiliki keyakinan yang sama. Tapi bukankah mustahil menjadikan seluruh kaum muslimin memiliki akidah yang sama? Yang dimaksud kesamaan akidah disini adalah kesamaan dalam pokok dasar Islam. Seluruh madzhab sepakat bahwa seseorang dikatakan muslim saat meyakini 3 hal.

  1. Tauhid (Meyakini Tuhan yang Esa)
  2. An-Nubuwwah (Meyakini Kenabian Muhammad saw)
  3. Al-Ma’ad (Meyakini Hari Akhir)

Dengan kesamaan 3 dasar islam ini, umat islam bisa bersatu. Tidak ada satu madzhab pun yang mengingkarinya. Karena mengingkari salah satu dari 3 pokok islam itu berarti tidak masuk dalam golongan kaum muslimin. Seorang yang meyakini 3 hal ini telah masuk kedalam Ummatan Wahidah.

Sementara jika ada hal lain yang diyakini, maka itu bukan termasuk Ushuluddin (Dasar Agama) tapi masuk kedalam Usulul Madzhab (Dasar suatu Madzhab). Seperti keyakinan akan Imamah menurut salah satu madzhab. Bukan berarti yang tidak meyakini imamah itu bukan muslim, karena menjadi seorang muslim hanya butuh keyakinan akan 3 hal diatas.

Tidak perlu pemahaman yang detail mengenai tiga hal diatas untuk menjadi seorang muslim. Cukup keyakinan yang umum saja sudah menjadikan dia sebagai Ummatan Wahidah. Perselisihan masalah sifat Allah, urusan kenabian dan proses Hari Kiamat itu tidak membuat seseorang keluar dari agama islam. Cukup dengan meng-Esakan Tuhan, meyakini Muhammad Rasulullah saw sebagai Nabi Terakhir dan meyakini adanya Hari Kiamat maka dia adalah seorang muslim yang wajib dilindungi.

 

2. Kesamaan dalam Mengikuti Syariat Islam

Syarat kedua untuk mewujudkan persatuan islam adalah harus ada kesamaan dalam menjalankan syariat. Mengapa harus sama? Bukankah golongan-golongan dalam islam memiliki perbedaan dalam cara-cara ibadah? Seperti dalam cara solat misalnya. Ada yang bersedekap di perut, ada yang di dada, ada yang menjulurkan tangannya. Apakah mereka harus menjadi sama ketika ingin mewujudkan persatuan islam?

Lagi-lagi bukan itu yang dimaksud kesamaan dalam mengikuti syariat islam. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan dalam meyakini dan menjalankan syariat yang menjadi Asas Islam. Seperti solat, puasa, zakat dan haji. Tidak ada satu madzhab pun yang menolak kewajiban ibadah itu. Karena mengingkari solat berarti keluar dari islam. Begitu juga ketika mengingkari kewajiban lain yang menjadi Asas Islam.

Dengan meyakini dan mengamalkan kewajian ini sudah cukup bisa menjadikan umat islam bersatu. Kan sama-sama solat. Sama-sama menjalankan puasa dibulan Ramadhan. Mengeluarkan zakat dan berhaji bersama. Kesamaan ini sudah cukup untuk mewujudkan persatuan islam. Perkara cara solatnya atau cara ibadah yang lain tidak harus menjadi perselisihan dan permusuhan. Yang penting sama-sama meyakini bahwa solat itu wajib dengan rokaat tertentu dan menghadap kiblat yang satu. Bukankah rujukan mereka adalah sama yaitu Rasulullah saw?

Perbedaan pandangan dalam cara beribadah tidak lantas menggugurkan keimanan seseorang kepada kewajiban ibadah itu. Perbedaan cara tidak boleh menjadi perselisihan jika kita ingin menggalang persatuan dalam Ummatan Wahidah ini.

 

3. Kesamaan dalam Kepemimpinan.

Untuk mewujudkan persatuan umat, kita harus memiliki satu pemimpin. Bagaimana akan bersatu jika pemimpinnya banyak? Bagaimana akan bersatu jika setiap pemimpin memberikan perintah yang berbeda-beda? Berarti, mustahil umat islam akan bersatu karena setiap golongan dari muslimin memiliki pemimpin sendiri-sendiri. Begitukah yang dimaksud?

Tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap kelompok dalam islam memiliki ketua atau pemimpin sendiri-sendiri. Namun dari semua pemimpin itu ada pemimpin tertinggi yang diyakini semua golongan. Ada satu pemimpin yang dijadikan rujukan oleh setiap madzhab. Dan kesamaan pemimpin inilah yang bisa menjadikan umat muslimin bersatu. Pemimpin dalam islam memiliki 2 arti,

  1. Pemimpin yang Diam
  2. Pemimpin yang Hidup

 

Pemimpin yang Diam

Tidak ada satu pun madzhab yang mengingkari bahwa pemimpin tertinggi mereka yang diam adalah Al-Qur’an. Kitab suci ini menjadi rujukan semua madzhab dalam islam. Bahkan semua golongan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Firman Allah yang masih orisinil dan tidak pernah dirubah oleh siapapun. Sesuai dengan janji Allah swt dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ -٩-

“Sesungguhnya Kami-lah yang Menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang Memeliharanya.” (Al-Hijr 9)

  Bahkan Al-Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai “imam” bagi umat.

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ -١٢-

“Dan segala sesuatu Kami Kumpulkan dalam Kitab yang jelas.” (Yasiin 12)

وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَاماً وَرَحْمَةً -١٢-

“Dan sebelum (al-Quran) itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat.”

(Al-Ahqaf 12)

Yang dimaksud Al-Qur’an sebagai Imam (pemimpin) adalah sebagai rujukan seluruh kaum muslimin. Tidak ada satu pun madzhab yang menolak Al-Qur’an sebagai rujukan paling utama dalam agama. Seharusnya, kesamaan dalam meyakini pemimpin dan kitab rujukan yang sama menjadikan muslimin mudah untuk bersatu.

Selain Al-Qur’an, kaum muslimin juga memiliki pemimpin yang diam yaitu Sunnah Rasulullah saw. Seluruh madzhab meyakini bahwa rujukan kedua setelah Al-Qur’an adalah sunnah Nabi saw. Mengapa dengan berbagai kesamaan ini, umat muslimin belum bisa bersatu? Toh, pemimpin dan rujukannya sama. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

Memang ada perbedaan dalam memahami penafsiran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Tapi perbedaan dan perselisihan itu tidak serta merta menjadikan seseorang dianggap mengingkari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi. Perbedaan pemahaman atas ayat atau hadist tidak harus menjadikan goyangnya islam dan kesatuan muslimin.

Kita harus merubah mindset kita. Jika selama ini perbedaan digunakan sebagai alasan untuk berpecah belah. Hari ini kita harus memikirkan islam yang besar. Kita harus bersatu, dengan dalih bahwa rujukan utama kaum muslimin itu sama. Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Pemimpin yang Hidup

Setiap golongan dalam islam memiliki pemimpin masing-masing. Bagaimana mereka akan bersatu jika syarat persatuan adalah kesamaan pemimpin? Memang setiap golongan memiliki pemimpin masing-masing. Namun tidak ada satu pun yang mengingkari bahwa pemimpin utama mereka di zaman turunnya Al-Qur’an adalah Rasulullah saw. Beliau lah yang menjelaskan makna Al-Qur’an dan mengatur kehidupan manusia.

Nabi Muhammad saw adalah pemimpin sepanjang kehidupan. Perselisihan terjadi setelah wafatnya beliau. Umat berselisih tentang siapa pengganti Rasulullah setelah wafatnya. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadi ajang pertengkaran karena kita sama-sama memiliki pemimpin utama yang satu yaitu Rasulullah saw.

Dan kesamaan ini sudah cukup untuk menjadi alasan umat muslimin untuk bersatu. Karena pilihan apapun yang dipilih pasti berdasarkan Hadist Nabi, tinggal bagaimana kita bisa menghormati pilihan orang lain. Toh, semua pilihan itu atas dasar ketaatan kepada Nabi Muhammad saw. Karena tugas kita dihadapan Rasulullah hanya dengan berkata Sami’na wa Atho’na (Kami mendengar dan kami taat).

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٥١-

“Hanya ucapan orang-orang Mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung.” (An-Nur 51)

 

4. Kesamaan dalam Tujuan

Untuk menjalin persatuan, umat islam harus memiliki tujuan yang satu. Harus memiliki tujuan bersama yang tidak diperselisihkan. Sehingga seluruh elemen muslimin dari berbagai golongan dapat bahu membahu untuk mewujudkan tujuan besar itu. Ada beberapa tujuan yang harusnya menjadi fokus umat muslimin saat ini.

Pertama, saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Seluruh umat muslimin meyakini tugas mereka adalah menyebarkan benih-benih kebaikan dan mencegah tumbuhnya benih kerusakan. Hanya saja perlu pemahaman yang mendalam tentang cara ber-amar ma’ruf nahi munkar yang benar-benar islami. Allah berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ -١١٠-

“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran 110)

 

Kedua, menjadi pribadi yang sukses dunia akhirat. 

Tujuan utama dari penciptaan manusia adalah agar mereka mencapai kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Otomatis, tujuan bersama bagi kaum muslimin menjadikan diri mereka sukses dihadapan Tuhannya. Dengan berlomba-lomba dalam kebaikan.

وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٨٩-

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Al-Baqarah 189)

 

Ketiga, menegakkan sendi-sendi Islam di bumi Allah.

Dalam arti, sendi-sendi keislaman yang syarat dengan keindahan, kesejahteraan dan keadilan harus bersama-sama kita tanam dalam tubuh masyarakat. Kita berusaha mewujudkan tujuan diutusnya Rasulullah saw, yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kita tampakkan kembali wajah islam yang sesungguhnya. Islam Rahmatan lil Alamin yang dibawa oleh Rasul yang penuh rahmat.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ -٣٣-

“Dia-lah yang telah Mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama.” (At-Taubah 33)

Apalagi, sesuai dengan janji-Nya, Allah akan mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.

أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ -١٠٥-

“Bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Al-Anbiya’ 105)

 

Keempat, menyelamatkan umat tertindas.   Kesadaran untuk membantu umat tertindas semakin memudar. Semakin tahun, manusia semakin tidak perduli dengan orang lain. “Biarkan mereka terganggu, yang penting saya aman!”, kata mereka. Jangan sampai kita menikmati ketika melihat orang lain mendapat gangguan. Mungkin hari ini mereka yang tertindas, bisa saja besok kita yang akan mendapat gangguan.

وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَـذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيّاً وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيراً -٧٥-

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (An-Nisa’ 75)

 

Kelima, Menghilangkan fitnah dari muka bumi.

Fitnah adalah biang instabilitas. Karenanya kita harus bersatu untuk menghapusnya bersama-sama.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ -١٩٣-

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.” (Al-Baqarah 193)

Walaupun kata “fitnah” dalam ayat ini memiliki beberapa arti. Bisa bermakna penyebaran isu, pemutarbalikan fakta atau menyembunyikan kebenaran.   Keenam, memikirkan nasib islam dan kaum muslimin.     Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, bukan dari golongan kami”

Kita harus perhatian dengan masalah kaum muslimin. Bukan malah menikmati konflik yang ada. Karena mereka adalah saudara kita. Sungguh keji seorang saudara yang menikmati kesesngsaraan saudaranya. Sesuai dengan pesan Rasulullah saw,

“Seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan jasad yang satu. Jika ada satu bagian yang terluka maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.”

“Cintailah saudara muslimmu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.”

 

Ketujuh, selalu membicarakan dan mengembangkan ukhuwah islamiyah.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ -١٠-

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih).” (Al-Hujurot 10)

 

Kedelapan, memberikan contoh yang indah dengan akhlak mulia.

Tujuan yang tidak kalah penting adalah mewujudkan salah satu tugas Rasulullah saw untuk menyempurnakan akhlak mulia. Kaum muslimin harus kompak dalam mencontohkan budi pekerti yang luhur. Selalu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih kecil. Karena akhlak adalah media terbaik untuk mewujudkan persatuan.

Karena itu, berulang kali Rasulullah saw menekankan pentingnya berakhlak mulia. Rasulullah bersabda, “Yang paling berat timbangannya di Hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” “Yang paling dekat denganku di Hari Kiamat adalah yang paling baik budi pekertinya.”  

Apa Faktor yang Menyebabkan Muslimin Sulit Bersatu?

Dengan melihat kesamaan-kesamaan diatas, mestinya persatuan kaum muslimin adalah hal yang mudah. Meskipun perbedaan akan selalu ada, tapi kita masih memiliki pondasi kokoh yang tetap menjadi perekat. Masalahnya, ada kerja besar yang dilakukan musuh islam untuk merusak persatuan islam. Berikut ini adalah virus-virus yang menyebabkan umat islam sulit bersatu.

1. Kebodohan

Kebodohan adalah pangkal kerusakan umat. Karenanya, ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, Allah memulainya dengan IQRO’ (Bacalah !) untuk mengikis kebodohan manusia. Pangkal dari perpecahan adalah kebodohan. Dan yang membuat islam seakan menjadi momok yang menakutkan adalah karena kebodohan umat akan agamanya.

Akibatnya, mereka akan selalu melampaui batas dalam beragama. Apakah berlebihan dalam menjalankan agama atau berlebihan dalam meninggalkannya. Sekedar KTP beragama islam tidaklah cukup. Seorang muslim harus belajar, kenapa saya memilih islam? Karena yang selama ini mencoreng nama baik islam adalah kebodohan muslimin terhadap islamnya. Imam Ali bin Abi tholib pernah berpesan,

“Andai orang bodoh itu diam, maka tidak akan ada lagi perselisihan.”

 

2. Cepat menghukumi sebelum mengkaji.

Masalah kedua, kaum muslimin mudah menuduh dan memvonis sebelum mengetahui masalah sebenarnya. Padahal Al-Qur’an selalu menekankan untuk jangan menuduh sebelum mengkaji kebenarannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا -٦-

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (Al-Hujurot 6)

Selagi masih menerima berita mentah-mentah dan langsung menghukumi, maka keresahan akan selalu muncul. Dan ukhuwah tidak akan pernah terwujud.

3. Menggunakan bahasa yang kasar kepada sesama muslim.

Allah dan Rasul-Nya menyebut kaum muslimin sebagai saudara. Tapi mereka saling berdebat dengan bahasa yang menusuk dan menyakitkan. Dialog ilmiah menjadi bahkan hujatan dan makian. Mereka lupa bahwa mereka bersaudara, seperti satu tubuh yang tak terpisahkan. Kaum muslimin harus melatih diri untuk bersabar dan menjaga lisannya. Apalagi kepada saudaranya sendiri. Jika kata-kata yang menyakitkan selalu terlontar diantara muslimin. Bagaimana akan mewujudkan persatuan?

4. Memancing konflik dengan membahas perbedaan.

Salah satu virus yang paling berbahaya adalah adanya oknum yang selalu membahas perbedaan dan memancing konflik. Mereka selalu ingin menampakkan perbedaan dan menutupi kesamaan yang ada. Jika terus dibiarkan, akan menimbulkan keresahan yang ditengah umat. Hal ini muncul dari sifat kekanak-kanakan yang tak kunjung sembuh. Mereka belum dewasa untuk menerima perbedaan yang ada. Padahal perbedaan itu adalah hal yang pasti ada.

5. Kesalahan individu dianggap kesalahan kelompok.

Jika kita melihat satu orang sedang meminum minuman keras, pantaskah kita menuduh madzhabnya menghalalkan minuman keras? Jika kita menemukan satu orang berzina, adilkah jika kita memvonis madzhabnya mengajarkan zina?

Kita jangan pernah menuduh satu golongan lain karena perbuatan seseorang. Perilaku individu tidak mencerminkan ajaran kelompoknya. Jika hal ini dipahami dengan benar, maka tidak ada lagi saling tuduh antar kelompok. Karena semua memahami bahwa perbuatan satu orang tidak bisa menggambarkan keseluruhan kelompok tertentu.

6. Keuntungan Duniawi.

Disadari atau tidak, seluruh virus yang merusak persatuan diatas sedang mendukung agenda ini. Dibalik konflik antar muslimin ada oknum yang sedang meraup keuntungan duniawi. Dibalik pertumpahan darah muslimin ada kekuasaan yang diperebutkan. Dibalik kelemahan islam ada keuntungan yang dipertaruhkan.

Kita harus sadar bahwa ada musuh yang tertawa melihat muslimin saling bunuh. Ada setan yang gembira melihat muslimin saling caci. Jangan sampai kita tergolong sebagai orang-orang yang membahagiakan musuh-musuh Allah dengan membantu agenda mereka. Mari kita mencoba untuk berusaha membahagiakan Rasulullah saw. suatu hari, ketika Rasul melihat Ka’bah, beliau bersabda,

“Allah memberikanmu (Ka’bah) satu kemuliaan. Tetapi Allah menjaga muslim dalam tiga hal: hartanya, jiwanya dan kehormatannya.”

Akankah perbedaan politik, pemikiran atau golongan menyebabkan kita melupakan kewajiban untuk menjaga harta, jiwa serta kehormatan seorang muslim? Untuk mengakhiri kajian ini, kita akan tutup dengan dua ayat dalam Al-Qur’an yang membicarakan tentang perbedaan.

Ketika membicarakan perbedaan pandangan diantara manusia, Allah selalu mengakhirinya dengan perintah “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” Karena siapa yang selalu berlomba untuk berbuat baik tidak punya waktu lagi untuk mempermasalahkan perbedaan dan mencari kelemahan orang lain.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -١٤٨-

“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan Mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah 148)

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ -٤٨-

“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (Al-Ma’idah 48)

Kaji Islam lebih dalam dan bahagiakan hati Rasulullah saw dengan persatuan. Semoga Allah menyatukan kaum muslimin dan menjadikan Islam sebagai agama yang paling unggul di bumi Allah swt.

Komentar

LEAVE A REPLY