Khazanahalquran.com – Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS.al-Baqarah:6-7)

Ayat ini menceritakan bahwa ada orang-orang yang hatinya telah dikunci oleh Allah, sebagai sanksi karena mereka telah menutup diri dari kebenaran sehingga ajakan dan dakwah model apapun tidak akan berpengaruh baginya. “sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”

Namun pertanyaannya, mengapa kita tetap harus mengajak dan berdakwah kepada mereka? Bukankah hatinya telah terkunci dari kebenaran?

Perlu kita ketahui bahwa siksaan Allah itu terwujud karena sikap dan perbuatan manusia, bukan karena kesesatan dan keburukan hati saja.

Dan keharusan untuk berdakwah kepada orang-orang yang hatinya tertutup ini adalah untukelihat sikapnya setelah diberi perimgatan dan mendapatkan informasi tentang kebenaran. Sikap inilah yang membuatnya layak untuk memdapatkan siksa dari Allah.

Dengan kata lain, dakwah kepada mereka adalah “itmamul hujjah” (menyempurnakan bukti) bahwa mereka benar-benar menentang dan menutup hatinya rapat-rapat dari seruan kebenaran.

Maka intinya, pahala dan siksa sangat bergantung pada perbuatan seseorang, tidak cukup dengan hanya niat dan pemikiran saja.

Semoga bermanfaat…

Komentar

LEAVE A REPLY