Khazanahalquran.com – Kita melihat ada jarak yang memisahkan antara manusia yang baik dan mereka yang jahat. Dalam kajian sebelumnya, kita juga telah mendengar banyak ayat yang memuliakan manusia setinggi-tingginya. Di sisi lain, kita temukan ayat-ayat yang begitu merendahkan manusia. Seakan, dua macam ayat ini penuh dengan kontradiksi. Yang satu meninggikan dan yang lain menjatuhkan.

  • Sebenarnya bagaimana hakikat makhluk yang disebut “manusia” itu?

Kali ini kita akan belajar kepada Imam Ja’far As-Shodiq.

Suatu hari ada seorang yang bertanya pada beliau, “Wahai Imam, mana yang lebih mulia, manusia atau malaikat?”

Imam menjawab,

“Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberi syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih sesat dari binatang.”

Manusia diciptakan dengan 2 unsur. Dia tercipta dari jasad dan ruh. Jasad adalah unsur yang terlihat sementara ruh itu abstrak dan tak kasat mata.

Setiap hari manusia selalu dalam keadaan berperang. Perang antara keinginan jasmaninya dengan kehendak ruhnya. Terkadang jasad bisa mengalahkan ruh dan terkadang ruh menjadi pemenangnya. Syahwat selalu terkait dengan keinginan jasmani sementara akal selalu beriringan dengan keinginan rohani kita.

Suatu hari, Rasulullah saw berjalan melewati sekumpulan anak muda yang sedang adu kekuatan mengangkat batu. Rasul memuji kekuatan mereka lalu bersabda,

“Manusia yang paling kuat adalah dia yang bisa mengalahkan hawa nafsunya.”

Dua unsur manusia itu sama-sama membutuhkan makanan. Jasad akan sakit jika jarang diberi makanan, sementara ruh juga bisa sakit jika jarang diberi asupan. Banyak orang yang hanya fokus untuk memberi makan tubuhnya sementara dia lalai kepada ruhnya yang kelaparan.

Kita melihat manusia memiliki hobi yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang mempengaruhi hobi seseorang adalah cukupnya makanan ruh. Seseorang yang memberi makanan yang cukup pada ruhnya akan memiliki hobi yang positif. Seperti Imam Ali bin Abi tholib yang sering menggali sumur untuk masyarakat. Puncak kesenangan beliau adalah ketika sumur itu mengeluarkan sumber air sehingga orang-orang bisa memanfaatkan air darinya.

Beda dengan mereka yang ruhnya sekarat karena tak pernah diberi makan. Dia cenderung memiliki hobi yang negatif. Ada seorang yang hobinya melihat orang dibunuh. Seperti seorang bernama Hajjaj. Dia adalah pembunuh para ulama’ yang berseberangan dengannya. Dia juga gemar membunuh para pecinta Ahlulbait Nabi. Bahkan, saat dia ingin menaikkan selera makannya, dia menyuruh anak buahnya untuk membunuh seseorang didepannya. Hal seperti ini yang bisa menaikkan selera makannya.

Manusia bisa melakukan hal-hal yang binatang pun enggan melakukannya. Manusia juga bisa melakukan hal yang membuatnya terbang lebih tinggi dari derajat Malaikat.

Semuanya bergantung pada akal dan hawa nafsu. Ayat-ayat yang memuliakan manusia adalah untuk mereka yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dan ayat yang berisi tentang kerendahan manusia adalah untuk mereka yang patuh pada perintah hawa nafsu. Bahkan, orang yang kalah dengan hawa nafsunya adalah makhluk terburuk menurut Al-Qur’an.

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ -٢٢-

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak berakal.”

(Al-Anfal 22)

Telinga mereka telah dibuat tuli dari kebenaran. Mulut mereka telah dibisukan dari menyampaikan kebenaran. Dan akal mereka telah dikalahkan. Semua adalah karena hawa nafsu.

Manusia selalu merasa dirinya paling mulia di muka bumi ini. Tapi tunggu dulu, bukankah Allah perbah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ -١٧٩-

“Dan sungguh, akan Kami Isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”

(Al-A’raf 172)

Dalam ayat ini, Allah tidak ingin mendzalimi binatang dengan menyamakan mereka dengan manusia yang hina. Allah menyebut manusia seperti ini lebih hina dari binatang ternak. Bayangkan saja, binatang ketika kenyang tidak akan menjadi beringas dan memangsa lagi. Sementara manusia tidak pernah kenyang, selalu merasa kurang.

Karena itu, kita bisa melihat manusia dalam dua kelompok. Ada yang selalu naik menuju Allah. Mereka sering disebut Insan Malakuti. Mereka begitu mulia di mata Allah karena selalu menggunakan akal dalam setiap perbuatan.

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ -١٠-

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan Mengangkatnya.”

(Fathir 10)

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إ -١٣-

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(Al-Hujurat 13)

Allah lah yang memuliakan manusia yang selalu menggunakan akalnya. Allah pula yang menghinakan manusia ketika dia selalu menyembah syahwatnya.

وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ -١٨-

“Barangsiapa Dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya.”

(Al-Hajj 18)

  • Bagaimana cara agar kuat melawan hawa nafsu?

Salah satu cara agar kita mampu melawan hawa nafsu adalah dengan menghargai hukum Allah. Orang-orang bengis tidaklah langsung menjadi orang bengis. Dia butuh proses untuk menjadi se-buruk itu. Berawal dari meremehkan solat, melalaikan puasa dan meremehkan hukum-hukum Allah yang lain. Dari situlah dia memutus hubungan dengan Allah. Sampai hatinya dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisa melakukan hal-hal keji.

Sering membaca Al-Qur’an juga membantu kita menjadi kuat melawan hawa nafsu. Bukankah kita melihat di awal Surat Ar-Rahman.

الرَّحْمَنُ -١- عَلَّمَ الْقُرْآنَ -٢- خَلَقَ الْإِنسَانَ -٣-

(Allah) Yang Maha Pengasih, Yang telah Mengajarkan al-Quran. Dia Menciptakan manusia,

(Ar-Rahman 1-3)

Dalam Surat ini kita akan temukan hal yang aneh. Kenapa Allah mendahulukan “mengajarkan Al-Qur’an” sebelum “menciptakan manusia”?

Dalam Surat ini, Allah seakan ingin mengisyaratkan bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengikuti Al-Qur’an. Jika dia tidak berpegang pada Al-Qur’an, maka tak layak lagi disebut manusia.

Komentar

2 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah bersyukur dengan keberadaan website ini, banyak manfaat yang kita bisa ambil dari Al Qur’an sebagai sumber ilmu yang paling otentik yang hanya berpihak kepada kebenaran yang bersumber dari Yang Maha Benar, dijelaskan oleh orang mumpuni, seimbang dalam analis nya, nyata keikhlasan nya disertai ketakwaan demi meraih keridhaan-Nya. Salam penuh berkah.

LEAVE A REPLY