Khazanahalquran.com – Banyak orang mengeluh, “Hidup sekarang tidak seperti dulu. Keberkahan sudah hilang. Hidup serba susah.”

Ya, banyak orang merasakan hidup ini semakin carut-marut dan keberkahan menjadi barang yang langka. Kira-kira apa penyebab hilangnya keberkahan ini?

Kita akan temukan jawabannya dalam firman Allah,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْض

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS.al-A’raf:96)

Langkanya keberkahan disebabkan karena minimnya takwa dan tersebarnya maksiat. Jika dulu masih ada rasa malu untuk berbuat maksiat secara terang-terangan, hari ini kemaksiatan telah berubah menjadi tren dan kebanggan.

Andai manusia mau beriman dan bertakwa maka Allah akan menurunkan hujan berkah dan kenikmatan. Tapi bagaimana dengan mereka yang penuh maksiat tapi tetap mendapat kenikmatan yang besar?

Rasulullah saw bersabda,

“Jika engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba sesuai keinginannya, sementara ia  terus berada dalam kemaksiatan maka itu adalah Istidraj.”

*Istidraj adalah kondisi ketika seorang terus bermaksiat namun Allah membalasnya dengan nikmat, sehingga ia lupa untuk beristighfar . Akhirnya sedikit demi sedikit dia semakin dekat dengan adzab. Dan selanjutnya Allah berikan semua hukumannya.

 

Kemudian beliau membaca sebuah ayat,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.al-An’am:44)

 

Yakni karena kemaksiatan dan pelanggaran yang terus diulang-ulang maka Allah sengaja menghujaninya dengan kenikmatan sehingga mereka tenang dan lalai dengan akhirat.

Kenikmatan seperti ini jauh lebih berbahaya dari musibah. Karena musibah dapat menyadarkan kita namun uluran kenikmatan ini menjadikannya lupa, sementara siksaan yang lebih dahsyat telah menantinya. Hingga tiba saatnya, mereka hanya bisa berputus asa karena tidak ada tabungan kebaikan yang telah disiapkannya.

Semoga bermanfaat…

Komentar

LEAVE A REPLY