Khazanahalquran.com – Terkadang kata Khusron (kerugian) digunakan untuk membicarakan kerugian duniawi, seperti rugi dalam bisnis, rugi dalam kekuasaan dan lain sebagainya. Namun kata ini juga sering digunakan untuk kerugian yang non materi, seperti hilangnya iman, pahala, akal, kesehatan ataupun keselamatan.

Nah, semua kalimat “kerugian yang nyata” dalam Al-Qur’an selalu mengarah kepada arti kedua yaitu kerugian maknawi (non materi). Karena kerugian duniawi masih bisa diusahakan kembali sementara di akhirat nanti tidak ada kesempatan untuk kembali.

Seperti firman Allah swt,

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُم مِّن دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Maka sembahlah selain Dia sesukamu! (wahai orang-orang musyrik). Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi, ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS.az-Zumar:15)

 

Al-Qur’an sering mencontohkan kehidupan dunia ini seperti pasar. Para pedagang memulai pekerjaan mereka dengan modal yang besar. Sebagian meraup untung yang banyak sementara sebagian yang lain mengalami kerugian dan modalnya habis.

Banyak ayat yang menjelaskan makna kehidupan seperti contoh diatas. Yakni keselamatan kita dari siksa Allah tidak akan diraih dengan duduk manis dan menanti. Satu-satunya jalan untuk selamat adalah dengan menggunakan modal yang telah diberi oleh Allah swt. Karena surga dan seluruh kenikmatan akhirat harus ditebus dengan harga yang sangat mahal, bukan dengan kemalasan dan angan-angan.

Sebagian bertanya, “Mengapa kerugian kaum musyrikin dan para pendosa pada ayat diatas disebut sebagai kerugian yang nyata?”

Jawabannya adalah :

1. Karena mereka menjual modal yang sangat berharga (berupa umur, akal dan kemampuan) dengan sesuatu yang sama sekali tak bernilai.

2. Andai para pendosa dan kaum musyrikin menjual modal mereka dengan sesuatu yang tidak berharga saja tanpa mendapatkan siksa dari Allah, mungkin kerugiannya biasa-biasa saja. Akan tetapi masalahnya, setelah modal mereka habis tak tersisa tanpa ada keuntungan sedikitpun, masih ada siksa Allah yang menanti dihadapan mereka.

3. Kerugian ini tidak bisa dibayar dengan harga sebanyak apapun, karena itulah kerugian ini disebut dengan kerugian yang nyata.

4. Selain itu, mereka tidak hanya merugikan diri sendiri saja, namun juga merugikan keluarga mereka. ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat..”

 

Karena itu, mari kita pergunakan modal yang telah diberi oleh Allah dengan sebaik mungkin. Selamatkan diri kita beserta keluarga kita dari api neraka. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi dan merugikan keluarga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS.at-Tahrim:6)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari ganasnya api neraka.

Komentar

LEAVE A REPLY