Khazanahalquran.com –
Ada dua ayat dalam Al-Qur’an yang awalnya sama namun akhirnya berbeda. Ayat pertama adalah:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ -٣٤-

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

(Ibrahim 34)

            Dan ayat kedua adalah:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ -١٨-

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar- benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(An Nahl 18)

Awal kalimat pada ayat ini sama, tiada siapapun yang mampu menghitung nikmat Allah. Namun ketika Allah menceritakan si penerima nikmat, ayat ini diakhiri dengan sifat manusia yang begitu zalim dan ingkar. Dan ketika menceritakan Sang Pemberi Nikmat, Allah akhiri ayat ini dengan sifat-Nya yang Maha Pengampun lagi Penyayang. Sungguh ironis, ketika Sang pemberi nikmat selalu mengampuni dan memberi kasih sayang-Nya. Sementara disana, si penerima nikmat selalu ingkar dan kufur atas pemberian-Nya. Seakan Allah selalu mengatakan

“Wahai hamba-Ku, walau kau selalu ingkar dan kufur tetaplah Aku Maha Pengampun. Kembalilah kepada-Ku dan akan Kuampuni segala kesalahanmu.”

Komentar

LEAVE A REPLY