Khazanahalquran.com – Manusia sibuk menata masa depannya. Seluruh tenaga ia habiskan untuk mempersiapkan “masa depan yang cemerlang”. Waktu ia korbankan untuk mengumpulkan modal demi kebahagiaan di masa yang akan datang.

Tapi Allah swt hanya mengingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ -١٨-

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr 18)

Sayangnya, manusia hanya sibuk menata masa depan yang amat dekat. Dia habiskan waktunya untuk meraih “kebahagiaan” yang amat singkat. Walaupun sangat penting menata masa depan kita, keluarga dan anak-anak kita di dunia.

Tapi jangan lupa, perjalanan masih panjang. Masa depan masih jauh. Dan kehidupan baru akan dimulai setelah kematian.

Ketika anak Adam meninggal. Manusia bertanya, “Apa yang ia tinggalkan?” sementara malaikat bertanya, “Apa yang ia bawa?”

 

Karena siapa yang melupakan masa depan abadinya hanya bisa menyesal dan menjerit lirih,

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي -٢٤-

Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr 24)

 

Mereka baru sadar bahwa sekarang adalah kehidupan yang sebenarnya. Dunia hanyalah kehidupan singkat dan semu. Tiada kenikmatan yang abadi disana.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ -٦٤-

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Al-Ankabut 64)

Komentar

LEAVE A REPLY