Khazanahalquran.com – Zaman telah mendekati detik-detik terakhirnya. Bumi mulai menua. Kerusakan merajalela. Kemajuan tekhnologi tak terbendung lagi. Manusia telah mampu terbang menembus langit dan menyelam ke dasar lautan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi bersama dengan moral manusia yang semakin luntur. Banjir informasi begitu dahsyat hingga kebenaran dan kebatilan semakin samar terlihat. Bersama dengan itu semua, benih-benih fitnah ditaburkan. Api perpecahan tampak disetiap penjuru.

Musuh-musuh Allah bekerja 24 jam untuk menghancurkan para kekasih-Nya. Sejuknya pagi disambut dengan panasnya api fitnah di media televisi. Aib orang diumbar dan konflik dibesar-besarkan.

Zaman ini memang zaman fitnah. Zaman ketika hati seorang dipenuhi dengan keimanan di pagi hari, kemudian kembali membuang keimanan itu disaat malam. Zaman ketika malam harinya dipenuhi dengan munajat dan tangisan sementara paginya kembali mencampakkan iman.

Sebenarnya, apa fitnah itu? Darimana dia berasal? Siapa yang mencetuskan fitnah? Apa bahayanya? Perlahan kita akan membuka sedikit demi sedikit tabir fitnah sesuai dengan penjelasan Al-Qur’an.

♦ Arti Fitnah

Dalam Kitab Mufrodat, fitnah berasal dari kata Fatana-Yaftunu yang memiliki arti meletakkan emas di tempat yang panas hingga terpisah emas yang murni dengan logam yang lain.

Jika kita perhatikan, proses fitnah dalam kehidupan nyata pun demikian. Kondisi yang begitu panas sehingga memisahkan orang yang berpegang teguh dengan kebenaran dan orang yang hanyut dalam fitnah itu.

Fitnah adalah sesuatu yang panas yang masih samar dan kabur. Sulit mengenali hakikat aslinya. Dan Allah swt menyebut kata fitnah dengan segala bentuknya sebanyak 56x di dalam Al-Qur’an.

 

Namun, fitnah disini memiliki arti yang bermacam-macam.

Pertama, fitnah memiliki arti ujian. Allah swt berfirman,

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ -٢٨-

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.” (Al-Anfal 28)

 

Kedua, tipu daya.

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ -٢٧-

“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga.” (Al-A’raf 27)

 

Ketiga, bencana dan siksaan.

ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ -١٤-

(Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah azabmu ini. Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan.” (Adz-Dzariyat 14)

 

Ke-empat, kesesatan.

وَمَن يُرِدِ اللّهُ فِتْنَتَهُ فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللّهِ شَيْئاً -٤١-

“Barangsiapa Dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya).” (Al-Ma’idah 41)

 

Ke-lima, syirik, kufur dan penyembahan berhala.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ -١٩٣-

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.” (Al-Baqarah 193)

 

Ke-enam, menghalangi agama Allah swt.

وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ-٤٩-

“Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah Diturunkan Allah kepadamu.” (Al-Ma’idah 49)

 

Jika kita perhatikan, semua arti di atas adalah efek dari fitnah. Ia dapat menjadi cobaan, bencana bahkan dapat memalingkan seseorang dari agama Allah swt. Begitulah gambaran Al-Qur’an mengenai fitnah.

♦ Bahaya Fitnah

Fitnah adalah sesuatu yang amat berbahaya. Ia tidak hanya merusak seseorang tapi bisa merusak masyarakat. Karenanya, jangan heran jika fitnah disebut lebih kejam dari pembunuhan.

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ-١٩١-

“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al-Baqarah 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ-٢١٧-

“Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al-Baqarah 217)

 

Sebelumnya kita pernah membahas betapa besar dosa dari pembunuhan. Namun ternyata ada dosa lebih parah dari sekedar pembunuhan. Hal yang mudah terucap namun berat timbangan dosanya. Fitnah adalah kondisi disaat seorang harus menghadapi situasi yang samar, penuh dengan kebingungan. Bagaimana fitnah bisa lebih berbahaya dari pembunuhan?

Pembunuhan hanya memisahkan ruh seorang dari jasadnya, setelah itu selesai. Namun fitnah itu adalah upaya membunuh agama. Membunuh ruh seseorang, bukan hanya jasadnya. Sementara tidak ada sesuatu termahal yang dimiliki manusia melebihi ruhnya.

Fitnah dapat merupah sikap, akhlak, akidah bahkan agama seseorang. Fitnah dapat merenggut keyakinan seseorang akibat samarnya kebenaran dan kebatilan. Jika pembunuhan hanya merugikan korbannya di dunia, maka fitnah bisa merugikan seseorang di dunia dan akhirat. Siapa yang lebih rugi dari seorang yang merugi di alam abadinya?

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ -١١-

“Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (Al-Hajj 11)

 

Akibat dari pembunuhan bisa selesai setelah kejadian berlangsung. Tapi akibat dari fitnah bisa berdampak pada generasi ke generasi. Fitnah terhadap keyakinan, agama dan pegangan hidup itu amat keji karena penabur fitnah sedang ingin menginjak-injak ruh manusia.

◊ Apakah fitnah itu ??

Segala bentuk penyimpangan, ancaman, bisikan yang menyesatkan, adu domba, membuka aib orang agar saling bermusuhan dan segala sesuatu yang membuat orang berpaling dari agamanya disebut fitnah. ◊ Kapan fitnah itu mulai muncul?

Allah swt menceritakan dalam Al-Qur’an, bahwa fitnah di zaman Rasulullah saw muncul di perang tabuk. Bahkan sebelum itu yaitu di perang Uhud. Allah berfirman,

لَقَدِ ابْتَغَوُاْ الْفِتْنَةَ مِن قَبْلُ وَقَلَّبُواْ لَكَ الأُمُورَ حَتَّى جَاء الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ -٤٨-

“Sungguh, sebelum itu mereka memang sudah berusaha membuat kekacauan dan mengatur berbagai macam tipu daya bagimu (memutarbalikkan persoalan), hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah urusan (agama) Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (At-Taubah 48)

 

Ayat ini bercerita tentang adanya upaya fitnah di perang tabuk, namun Allah mengatakan bahwa sebelum itu (yaitu di perang Uhud), orang-orang munafiqin telah menebar benih fitnah.

Ingatkah kita tentang 300 pasukan yang diketuai oleh pemimpin kaum munafiqin, Ubay bin Salul yang bergabung bersama Rasulullah dalam perang Uhud lalu tiba-tiba mereka berpaling saat hendak memasuki front peperangan. Tujuan mereka adalah melemahkan pasukan Rasulullah saw.

Pada ayat sebelumnya Allah berfirman,

لَوْ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلاَّ خَبَالاً ولأَوْضَعُواْ خِلاَلَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ -٤٧-

“Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu); sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah Mengetahui orang-orang yang zalim.” (At-Taubah 47)

 

Ayat ini berlaku sepanjang kehidupan. Setiap masa ada orang-orang yang menabur fitnah dan ada yang hobi mendengarkan. Dia melahap fitnah itu mentah-mentah kemudian ikut andil dalam api fitnah itu. Ada pula yang sok suci dengan beralasan untuk tidak ikut perang karena takut melihat wanita di pihak musuh kemudian muncul syahwatnya. Mereka berkata,

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي-٤٩-

Dan di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah.” (At-Taubah 49)

 

Namun Allah menjawab mereka,

أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُواْ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ -٤٩-

“Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Jahannam meliputi orang-orang yang kafir.” (At-Taubah 49)

 

Sebenarnya siapa yang pertama kali memunculkan fitnah? Apa yang mereka lakukan untuk penyebaran fitnah? Bagaimana cara kita menghadapi zaman fitnah ini?

Temukan jawabannya dalam Fitnah dalam Al-Qur’an (Bag 2)

Komentar

LEAVE A REPLY