Khazanahalquran.com – Rasulullah saw diutus untuk berdakwah, mengajak manusia untuk mengenal Tuhannya. Beliau dibekali dengan Mukjizat terbesar berupa Al-Qur’an.

Hari ini tugas itu dipikul oleh para ulama, ustadz dan orang-orang yang mengerti agama. Semakin tahun semakin banyak para pendakwah yang bermunculan.

Tentunya, sebagai masyarakat kita terkadang bingung memilih seorang Da’i. Bagi seorang Da’i pun, terkadang ia tidak mengerti bagaimana Al-Qur’an memberi aturan dalam berdakwah.

Kali ini kita akan melihat bagaimana pandangan Al-Qur’an tentang dakwah. Apa saja syarat-syarat seorang Da’i ? Dakwah termasuk pilihan yang terbaik dalam hidup, Allah berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ -٣٣-

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri)?” (Fussilat 33)

 

Syarat-Syarat Dakwah

 

♦ Menyebarkan hikmah dan nasehat yang baik

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ -١٢٥-

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (An-nahl 125)

 

♦ Menyeru seperti yang diserukan Rasulullah dalam ayat,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي -١٠٨-

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak kepada Allah dengan yakin.” (Yusuf 108)

 

♦ Mengajak hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain (madzhab, partai, golongan, dll.)

أَدْعُو إِلَى اللّهِ

“Mengajak kepada Allah” (Yusuf 108)

 

♦ Harus memiliki Bashirah dalam berdakwah

أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Mengajak kepada Allah dengan yakin” (Yusuf 108)

 

♦ Tidak boleh menyampaikan yang tidak ia ketahui

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً -٣٦-

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’ 36)

 

♦ Harus dengan lemah lembut

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ -١٥٩-

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Ali Imran 159)

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى -٤٣- فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى -٤٤-

“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (Thaha 43-44)

*Bayangkan saja, untuk berdakwah kepada orang sekejam Fir’aun pun, Allah tetap menyuruh untuk menggunakan cara yang lemah lembut.

♦ Dilarang berdebat, kecuali dengan cara yang terbaik

وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ -١٢٥-

“Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (An-Nahl 125)

 

♦ Ketika berdakwah harus sampai pada kesimpulan yang dia inginkan. Jangan sampai dialihkan oleh pertanyaan atau sanggahan pendengar hingga dakwahnya keluar dari tujuan utamanya.

Seperti kisah dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun. Walaupun Fir’aun hendak mengalihkan dakwah beliau dengan berbagai pertanyaan, tapi Nabi Musa tetap fokus dengan tujuan utamanya.

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ -٢٣- قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ -٢٤- قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ -٢٥- قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ -٢٦- قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ -٢٧- قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ -٢٨-

 

Fir‘aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhan-mu), jika kamu mempercayai-Nya.”

Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?”

Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan-mu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.”

Dia (Musa) berkata, “(Dia-lah) Tuhan (yang Menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.” (Asy-Syuara’ 23-28)

♦ Harus memiliki kesabaran

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ -٣-

“Saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-Ashr 3)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ -١٧-

“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (Luqman 17)

 

♦ Tidak boleh melanggar kata-katanya sendiri

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ -٢- كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ -٣-

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaff 2-3)

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ -٨٨-

“Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya.” (Huud 88)

 

♦ Berdakwah di setiap tempat dan waktu dengan melihat kondisi. Seperti apa yang dilakukan Nabi Yusuf as di dalam penjara.

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ -٣٩-

“Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa?” (Yusuf 39)

 

♦ Tidak boleh dikomersialkan.

اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ -٢١-

“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Yasiin 21)

 

Selain syarat-syarat diatas, ada tips-tips khusus bagi para Da’i yang terangkum dalam Surat Al-Muddatsir. Allah berfirman kepada Rasulullah saw,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ -١- قُمْ فَأَنذِرْ -٢-

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan.” (Al-Muddatsir 1-2)

  Dan berikut ini adalah pesan-pesan Allah untuk para Da’i ,

1. Hanya Mengagungkan Allah swt dan tidak mengagungkan yang lain.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ -٣-

“Dan agungkanlah Tuhan-mu.” (Al-Muddatsir 3)

 

2. Bersih secara dhohir maupun batin.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ -٤-

“Dan bersihkanlah pakaianmu.” (Al-Muddatsir 4)

 

3. Tinggalkan segala perbuatan keji.

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ -٥-

“Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji.” (Al-Muddatsir 5)

 

4. Tidak berharap untuk mendapat keuntungan dari dakwahnya.

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ -٦-

“Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”(Al-Muddatsir 6)

 

5.  Bersabar hanya karena Allah, bukan untuk memperoleh prestasi atau sanjungan manusia.

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ -٧-

“Dan karena Tuhan-mu, bersabarlah.” (Al-Muddatsir 7)

Komentar

LEAVE A REPLY