Khazanahalquran.com – Anak-anak kita di zaman ini sudah terbiasa melihat alat penyimpanan file ataupun data. Mulai dari memory, flashdisk, kaset, hard disk dan bermacam alat penyimpanan lainnya. Hari ini kita begitu mudah menyimpan sebuah foto,video, tulisan dan berbagai kenangan yang ingin kita abadikan.

Bagaimana dengan zaman waktu kakek kita masih kecil dulu?

Untuk memiliki foto saja masih sulit, apalagi untuk menjaga dan menyimpannya. Jika tidak disimpan dengan benar, foto itu akan rusak dan memudar.

Dengan berkembangnya teknologi akhir-akhir ini, mulai beredar luas adanya media penyimpanan yang praktis. Awal kali ditemukan masih berbentuk besar dan berat. Tapi dengan berjalannya waktu, alat untuk menyimpan itu berkembang menjadi semakin kecil dan semakin praktis. Baru-baru ini ditemukan sebuah chip yang bisa menyimpan berbagai hal yang dilakukan manusia. Merekam semua pembicaraanya. Bahkan melacak kemana saja dia pergi. Kita pun semakin takjub melihat teknologi yang semakin berkembang pesat ini.

Jika teknologi itu baru ramai dibicarakan akhir-akhir ini, Al-Qur’an telah menceritakan chip yang Allah sisipkan di tubuh manusia sejak 1400 tahun yang lalu.

Jangan heran, Allah adalah Pencipta manusia. Dia lah Sang Maha Tahu yang selalu memperhatikan detik demi detik perjalanan hidup manusia. Tidak pernah lalai dan tertidur dari perbuatan hamba-Nya.

 

 

 

إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً -١-

“Sesungguhnya Allah selalu Menjaga dan Mengawasimu.”

(An-Nisa’ 1)

وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً -٥٢-

“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”

(Al-Ahzab 52)

Chip itu Allah sisipkan ke dalam tubuh manusia untuk mencatat semua kata yang diucapkan, semua langkah yang dijalani dan semua perbuatan yang dilakukan. Dan ketika seorang menghadap di pengadilan Allah, dia akan melihat semua perbuatan itu tanpa ada yang terlewatkan.

وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَآئِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَاباً يَلْقَاهُ مَنشُوراً -١٣- اقْرَأْ كَتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيباً -١٤-

Dan setiap manusia telah Kami Kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami Keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”

(Al-Isra’ 13-14)

Tidak ada satupun perbuatan yang tak tercatat. Tak ada satu pun kebaikan yang tak tersimpan dan keburukan yang terlewatkan. Bukan hanya itu, Allah juga menyertakan malaikat yang selalu mengawasi manusia kemanapun dia pergi.

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ -١٨-

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”

(Qaf 18)

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ -١٠- كِرَاماً كَاتِبِينَ -١١- يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ -١٢-

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Al-Infithor 10-12)

فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ -٩٤-

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kami-lah yang Mencatat untuknya.”

(Al-Anbiya’ 94)

هَذَا كِتَابُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنسِخُ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ -٢٩-

(Allah Berfirman), “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah Menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”

(Al-Jatsiyah 29)

Semua yang dilakukan akan tercatat rapi tanpa kesalahan. Dan semua catatan itu akan kembali pada diri mereka masing-masing. Bedanya, sebagian orang menerimanya dengan tangan kanan dan sebagian yang lain dengan tangan kirinya atau diberikan dari belakang. Perbedaan itu adalah kabar gembira bagi mereka yang selamat atau tanda bencana bagi mereka yang menanti siksaan.

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ -٧- فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً -٨- وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً -٩- وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ -١٠- فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً -١١- وَيَصْلَى سَعِيراً -١٢-

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang, maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

(Al-Insyiqaq 7-9)

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَؤُوا كِتَابِيهْ -١٩- إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيهْ -٢٠- فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ -٢١- فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ -٢٢- قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ -٢٣- كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئاً بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ -٢٤-

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

(Al-Haqqah 19-24)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ -٢٥- وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيهْ -٢٦- يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ -٢٧-

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku, Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu.

(Al-Haqqah 25-27)

Jika alat penyimpanan di dunia ini bisa terhapus atau rusak. Beda halnya dengan chip ciptaan Allah ini. Tak akan sekalipun ada yang terhapus atau rusak. Manusia akan terheran-heran ketika melihat semua yang dilakukannya tercatat detail dari awal usianya hingga ajalnya tiba.

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً-٤٩-

Dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhan-mu tidak menzalimi seorang jua pun.

(Al-Kahfi 49)

Dengan perhatian Allah yang begitu besar kepada manusia. Sebenarnya untuk apa Allah mencatat semua yang dilakukan manusia? Untuk apa ada hari perhitungan amal? Bukankah Allah Maha Tau atas semua yang dilakukan manusia?

Allah swt tidak butuh sama sekali kepada catatan-catatan itu. Allah bukanlah seperti manusia yang pelupa. Sebenarnya, adanya buku catatan, malaikat yang mengawasi, bahkan anggota tubuh yang akan bersaksi sementara mulut terkunci adalah sebagai bukti agar manusia tidak bisa beralasan lagi. Sifat manusia adalah mudah melupakan apa yang telah dia lakukan. Bisa saja dia lupa kesalahan apa yang dia lakukan sebulan yang lalu bahkan seminggu yang lalu. Tanpa adanya buku catatan yang lengkap ini, manusia akan mengingkari perbuatan yang pernah dia lakukan. Dengan jelas Allah berfirman:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ -٦-

“Pada hari itu mereka semuanya Dibangkitkan Allah, lalu Diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah Menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

(Al-Mujadalah 6)

Sebenarnya, Allah swt mengingatkan kita akan buku catatan amal agar kita selalu berpikir sebelum bertindak. Kita harus selalu sadar bahwa semua yang kita lakukan tidaklah menguap sia-sia. Semua itu dicatat dan akan dipertanggung jawabkan nanti di Hari Perhitungan. Selalu mengingat Hari Pertanggung Jawaban amal adalah rem yang sangat ampuh untuk mencegah kita berbuat dosa. Sementara melupakan Hari Perhitungan akan membuat seseorang berlaku sewenang-wenang. Karena melupakan Hari itu adalah awal dari semua keburukan yang kita lakukan.

لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ -٢٦-

“Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

(Shad 26)

إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً -٢٧-

“Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.”

(An-Naba’ 27)

Suatu hari, Imam Ali bin Abi tholib pernah ditanya seseorang tentang bagaimana Allah menghitung semua manusia yang begitu banyak mulai dari awal sampai akhir masa?

Imam menjawabnya dengan singkat, “Sebagaimana Allah memberi rezeki pada mereka sementara begitu banyak jumlah mereka.”

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY