Semua manusia memiliki keinginan. Semua orang memiliki cita-cita. Ada yang ingin memiliki banyak harta, ingin memiliki jabatan tinggi, banyak anak dan berbagai keinginan yang lain. Tapi tak cukup dengan mendapatkan keinginan itu, fitrah manusia ingin semua yang dimiliki kekal. Tidak akan hilang dan pergi darinya.

Semua manusia ingin kekal. Mereka ingin semua yang dimilikinya abadi. Bahkan ketika Iblis merayu Nabi Adam as untuk memakan buah dari pohon yang dilarang Allah swt, apa yang dikatan Iblis kepadanya?

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى -١٢٠-

Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
(Thaha 120)

Keabadian lah yang ditawarkan kepada Nabi Adam hingga beliau memakan buah Khuldi tersebut. Ini menunjukkan bahwa fitrah dan nurani manusia selalu mencari keabadian dan ke-kekalan.

Kita ingin apa yang kita miliki kekal dan tidak segera habis, tapi itu mustahil karena dunia ini hanya sementara. Entah kita yang meninggalkannya atau dunia meninggalkan kita. Sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, pasti akan segera berpindah tangan ke ahli waris atau habis kita gunakan. Dalam Hadist Qudsi-Nya, Allah berfirman,

“Wahai anak Adam, kalian selalu mengatakan hartaku hartaku. Bukankah ketika kau makan akan sirna, ketika kau pakai akan lapuk dan ketika kau berikan baru akan kekal.”

Kali ini kita akan belajar bagaimana cara mengelola dunia yang fana’ ini menjadi kekal dan terus menjadi milik kita. Allah swt berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً -٤٦-

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(Al-Kahf 46)

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ مَّرَدّاً -٧٦-

“Dan Allah akan Menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu dan lebih baik kesudahannya.”
(Maryam 76)

Pada dua ayat ini akan kita temukan kata “Al-Baqiyatus Sholihat” yang bermakna amalan baik yang kekal. Sementara Allah menyebut kenikmatan berupa harta serta anak-anak itu hanyalah hiasan dunia.

Kita akan berhenti sejenak pada kata “hiasan dunia”. Fitrah dan naluri manusia itu senang dengan berhias dan hiasan. Dan orang yang tidak suka dengan penampilan indah telah bertolak belakang dengan naluri kemanusiaannya. Karena itu Allah ciptakan seluruh ciptaan ini dengan indah dan penuh hiasan. Dan Allah swt tidak pernah melarang hambanya untuk mempercantik diri dengan berhias.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا-٣٢-

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang- orang yang beriman dalam kehidupan dunia.”
(Al-A’raf 32)

Rasululllah tidak pernah tampil dihadapan orang kecuali dalam keadaan rapi dan indah. Beliau begitu memperhatikan kerapian tubuhnya, bahkan saat tidak ada cermin, beliau merapikan janggutnya dengan bercermin pada air. Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa beliau mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk minyak wangi daripada untuk makan dan minum. Karena menjaga keindahan itu sangat penting baginya.

Begitupula dengan cucu Rasulullah saw yang bernama Hasan Al-Mujtaba. Beliau tidak pernah tampil kecuali indah dan rapi. Hingga suatu saat ada seorang yahudi dengan pakaian compang-camping berkata kepadanya, “Hai cucu Muhammad, bukankah kakekmu telah berkata bahwa dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Tapi lihatlah, aku seorang kafir hidup dalam kemiskinan sementara engkau cucu Muhammad dengan kemegahan?”

Imam Hasan menjawab, “Benar kata kakekku Muhammad, tapi maknanya bukan seperti yang kau fahami. Yang dimaksud dalam perkataan itu adalah jika aku kelak mendapatkan apa yang dijanjikan Allah swt (kepada orang mukmin) di surga dengan segala kenikmatannya, maka aku akan melihat seluruh kenikmatan dunia ini adalah penjara. Sementara jika engkau melihat apa yang dijanjikan Allah berupa neraka dan segala siksanya. Maka kau akan melihat dunia ini sebagai surga.”

Di waktu lain ada yang menuduh beliau congkak karena keindahan pakaiannya. Cucu Rasulullah ini hanya menjawab, “Ini bukanlah kecongkakan, ini adalah kemuliaan (seperti firman Allah)

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ-٨-

“Dan kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin.”
(Al-Munafiqun 8)

Semua jagat ini dihias oleh Allah swt. Langit dan bumi semuanya dipenuhi dengan hiasan.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا-٧-

“Sesungguhnya Kami telah Menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya”
(Al-Kahf 7)

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ -٥-

“Dan sungguh, telah Kami Hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang.”
(Al-Mulk 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ -٦-

“Sesungguhnya Kami telah Menghias langit dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang.”
(Ash-Shoffat 6)

Bahkan ketika ada sahabat yang mendatangi Rasulullah dengan pakaian yang tidak layak, beliau bertanya apakah dia tidak memiliki pakaian? Ternyata dia adalah orang mampu. Lalu mengapa dia tidak memakai pakaian yang indah? Seakan dia menunjukkan bahwa Allah tidak memberinya nikmat. Padahal Allah suka melihat kenikmatan-Nya jika digunakan oleh hambanya. Kemudian Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang indah”

Ada hiasan yang digemari manusia. Seakan mereka tidak bisa berpisah dengan hiasan-hiasan ini karena itu adalah naluri mereka. Allah berfirman,

“زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ -١٤-

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(Ali Imran 14)

Semua manusia menyukai apa yang disebutkan pada ayat ini. Dan itu adalah hal yang alami dan sesuai dengan naluri mereka. Dan Allah tidak mengharamkan semua itu. Tapi khusus untuk orang mukmin, mereka punya hiasan yang lebih dicintai dari sekedar harta dan kenikmatan dunia. Allah berfirman,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ -٧-

“Tetapi Allah Menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”
(Al-Hujurat 7)

Hiasan itu sifatnya Fana’, mudah sirna dan hilang. Tidak pernah kekal. Berbeda dengan hal-hal yang Baqo’, kekal dan abadi. Karenanya, Allah mensifati Dirinya dengan Al-Baqi. Selalu kekal dan abadi. Dan selain-Nya akan pudar dan sirna.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ -٢٦- وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ -٢٧-

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhan-mu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
(Ar-Rahman 27)

Hiasan itu seperti cincin yang menempel. Suatu saat tidak akan digunakan lagi. Semua yang kita miliki tidak akan pernah kekal. Jadi jangan habiskan waktu kita untuk memikirkan hal yang sementara ini. Jangan habiskan umur kita untuk mengumpulkan sesuatu yang akan segera sirna ini.

Kita akan terheran melihat seorang yang sibuk mengurusi hiasan bunganya diatas meja dan meninggalkan pekerjaanya diluar. Hai, itu hanyalah hiasan dan akan segera layu. Pekerjaan lebih penting.

Sama halnya dengan orang yang sibuk menghabiskan waktu mencari hiasan dunia. Tapi lupa dengan tujuan aslinya. Lupa dengan rumah abadinya.

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ -٩٦-

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
(An-Nahl 96)

وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا -٣٦-

“Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman.”
(Asy-Syuro 36)

Tapi jangan khawatir, hiasan itu bisa menjadi kekal milik kita. Apapun yang kita miliki bisa menjadi abadi dan dapat kita nikmati sampai di akhirat. Namun hati-hati, kenikmatan ini bisa menjadi musuh yang menghancurkan kita. Salah menggunakan hiasan ini akan berakibat fatal. Berapa banyak orang yang patuh kepada hiasan-hiasan dunia ini hingga meremehkan hukum Allah bahkan menentang-Nya?

Hiasan ini akan menjadi musuh ketika terlalu kita agungkan hingga lupa tujuan hidup sebenarnya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ -١٤-

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati- hatilah kamu terhadap mereka.”
(At-Taghobun 14)

Lalu bagaimana cara menjadikan hiasan dunia ini menjadi kekal?

Bagaimana agar bisa selalu bisa kenikmati sampai di akhirat kelak?

Temukan jawabannya di Baqiatussolihat dalam Al-Qur’an (bag 2)

Komentar

LEAVE A REPLY