Khazanahalquran.com – Allah memiliki cara yang indah agar hati hambanya tergugah untuk berbuat baik. Melalui Al-Qur’an sebagai Kitab Motivasi terbaik, Allah mengajak manusia untuk berbuat baik dengan cara yang sangat menyentuh hati. Hingga tak ada lagi alasan untuk tidak berbuat baik.

Setelah Allah menggugah hati kita dengan pesan-Nya, berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik kepadamu. Lalu dengan penekanan bahwa kebaikan itu berbeda jauh dengan keburukan walau keburukan itu menarik hati kita. Sampailah kita pada janji Allah untuk membalas perbuatan hamba-Nya dengan balasan yang jauh lebih baik.

Suatu hari Rasulullah saw mendapat wahyu dengan firman-Nya,

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ -٨٤-

Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu.”

(Al-Qashas 84)

Setelah menerima ayat ini, Rasulullah berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tambahlah (balasannya)”. Rasul meminta tambahan untuk umatnya agar mendapat balasan yang lebih banyak ketika berbuat kebaikan. Allah mengabulkan doa Rasulullah dengan firman-Nya:

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا-١٦٠-

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.”

(Al-An’am 160)

Rasulullah berdoa kembali, “Ya Allah, tambahlah (balasannya)”.

Allah mengabulkannya lagi dengan firman-Nya,

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً-٢٤٥-

“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah Melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak.”

(Al-Baqarah 245)

Mendengar ayat ini Rasulullah merasa cukup dan berkomentar bahwa “banyak” di sisi Allah tidak terbatas dan tidak dapat dihitung lagi.

Cara keempat, jika balasan yang berlipat itu belum cukup. Allah punya janji lain yang lebih agung dari balasan kebaikan yang berlipat ganda. Seorang yang mau berbuat baik, Allah akan jadikan dia kekasih-Nya. Sesuai firman-Nya,

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ -١٩٥-

“Sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

(Al-Baqarah 195)

Budak mana yang tidak ingin dicintai oleh Tuannya? Hamba mana yang tidak ingin tergolong sebagai kekasih Tuhan-Nya?

Layaknya seorang kekasih, pasti dia akan menyayangi, melindungi dan membahagiakan kekasihnya. Sekarang kita tak lagi membicarakan tentang bilangan ganjaran Allah atas perbuatan baik kita. Lebih dari itu, perbuatan baik yang kita lakukan bisa mengantarkan kita menuju maqam kekasih-Nya.

Teringat kisah perang Khaibar, ketika Rasulullah berkata bahwa bendera perang ini akan dibawa esok hari oleh seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Keesokan harinya, para sahabat harap-harap cemas menanti siapa yang akan ditunjuk oleh Rasulullah. Sahabat mana yang tidak ingin mendapat predikat mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya?

Hari yang dijanjikan telah tiba, Rasulullah mencari Imam Ali yang saat itu sedang sakit mata. Beliau mengusap mata Imam Ali dengan ludahnya dan seketika itu sembuhlah mata beliau. Kemudian beliau maju dan berhasil mendobrak pintu Khaibar saat itu.

Cara kelima, kekasih mungkin tak selalu bersama. Bagi seorang yang mau berbuat baik, Allah menjajikan posisi yang lebih tinggi dari seorang kekasih. Allah berjanji kepada seorang yang selalu berbuat baik bahwa Allah selalu menyertainya. Allah selalu bersamanya.

Selalu bersama Allah adalah posisi yang amat agung diatas orang yang dicintai Allah. Lihatlah ketika Musa diperintahkan untuk pergi menghadapi Fir’aun. Nabi Musa merasa khawatir saat akan menghadapi Fir’aun karena dia adalah raja yang terkenal dengan kebengisannya. Musa sangat mengetahui kejahatan dan kebengisan Fir’aun karena dia tinggal bersamanya sejak kecil. Namun kekhawatiran itu segera sirna karena Allah berjanji akan selalu bersama Musa. Fir’aun yang kejam itu adalah kecil jika Musa bersama Allah.

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى -٤٦-

Dia (Allah) Berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua,Aku Mendengar dan Melihat.”

(Thaha 46)

Sama halnya ketika Bani Israil takut pasukan Fir’aun dapat menyusul mereka ketika telah sampai di depan lautan. Musa menjawab mereka dengan bersabda,

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ -٦٢-

Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhan-ku bersamaku, Dia akan Memberi petunjuk kepadaku.”

(As-Syuara 63)

Bersama Allah adalah posisi yang amat tinggi. Bukankah ketika Rasulullah saw berada di gua dalam keadaan genting, beliau selalu tenang karena Allah selalu bersamanya.

لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا-٤٠-

“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

(At-Taubah 40)

Cara keenam, pada puncaknya Allah swt memberikan kebar gembira kepada mereka yang selalu berbuat baik. Tidak ada lagi yang pelu ditakuti dan dikhawatirkan.

وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ -٣٧-

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

(Al-Hajj 37)

Orang semacam ini sudah berada di surga sebelum mereka memasuki surga. Karena hati mereka selalu gembira, tak pernah gelisah dan takut. Karena hati itu selalu dipenuhi dengan kabar gembira dari Allah swt.

 

 

 

Apakah semua janji Allah ini hanya untuk di Alam Akhirat?

Islam tidak datang hanya untuk menjanjikan balasan di akhirat. Islam datang untuk menata kehidupan dunia dan akhirat manusia. Orang yang berbuat baik akan dibalas oleh Allah di dunia sebelum nanti di akhirat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -٩٧-

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

(An-Nahl 97)

Di dalam ayat itu Allah jelas menjanjikan balasan di dunia dengan kehidupan yang baik di dunia sebelum balasan yang lebih besar di akhirat. Memang kita selalu menghitung kebaikan Allah dengan hitungan materi. Padahal banyak pemberian Allah yang lebih mahal dari itu. Ada seorang yang 40 tahun selalu berdoa untuk diberi kekayaan namun tidak juga terkabul. Sebenarnya bukan karena Allah tidak ingin mengabulkan. Allah akan mengabulkan jika apa yang diminta itu baik untuk hambanya. Seperti sering kita lihat seorang ibu yang tidak memberi permen kepada anaknya yang terus meminta karena ibunya tau permen itu akan membuatnya sakit.

Saat kita meminta sesuatu seperti harta misalnya. Kita merasa tidak dikabulkan karena harta itu tak kunjung datang. Padahal, bisa saja doa itu Allah kabulkan dengan menghindarkan bahaya dari kita. Andai Allah memberikan harta yang kita minta dan bencana itu tetap menimpa kita, maka semua harta yang kita miliki akan habis karena bencana itu. Berbagai bencana yang Allah hindarkan ini tidak pernah masuk dalam logika materi kita. Padahal itu lebih mahal dari sekedar harta. Sebenarnya, pemberian terbesar dari Allah adalah kita diberi keyakinan untuk selalu menuju kepada-Nya.

Pahala yang kita dapat di dunia sebelum nanti di akhirat adalah berupa kemudahan dalam setiap urusan, kesehatan, harta dan hal-hal yang mungkin tak pernah kita ketahui bahwa itu adalah hasil dari kebaikan kita.

 

Cara ketujuh, ini adalah cara terakhir yang membuat seseorang tidak bisa mencari alasan lagi untuk tidak berbuat baik. Seorang yang berakal pasti mencintai dirinya. Seorang yang mencintai dirinya pasti ingin selalu berbuat baik untuk dirinya sendiri. Sedangkan Allah telah menjelaskan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan untuk orang lain akan bermanfaat untuk diri kita sendiri. Kebaikan yang kita berikan akan kembali pada diri kita sendiri.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا-٧-

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

(Al-Isra’ 7)

Untuk mengakhiri kajian ini, ada hal yang unik di dalam ayat-ayat yang disebutkan diatas. Di ayat-ayat itu Allah selalu menyebutkan “Siapa yang datang dengan membawa kebaikan maka…”. Ayat-ayat itu sering menggunakan kata “datang” bukan “Siapa yang melakukan kebaikan maka…”.

Mengapa demikian?

Karena perbuatan yang kita lakukan bisa saja habis sebelum kita bertemu dengan Allah. Berapa banyak kebaikan yang kita lakukan terbakar sia-sia oleh dosa yang kita lakukan setelahnya?

Siapa yang datang membawa kebaikan adalah siapa yang bisa menjaga kebaikannya agar tidak hangus terbakar oleh dosa-dosa selama di dunia, maka dia layak mendapat ganjarannya di dunia maupun di akhirat kelak.

Sering kita membangun surga dengan dzikir, beramal, berpuasa, bersedekah. Namun semua itu kita hancurkan dalam sekejap dengan dosa yang kita lakukan. Oleh karenanya, jagalah kebaikan itu agar tetap hidup hingga kita bertemu dengan Allah swt dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY