Khazanahalquran.com – Kata Islam selalu terkait dengan Al-Qur’an. Seorang yang mengaku muslim tidak akan lengkap ke-islamannya tanpa hidup bersama Al-Qur’an. Kita akan menemukan berbagai riwayat yang menganjurkan manusia untuk sering membaca Al-Qur’an karena melalui kitab suci ini, pahala dan rahmat akan tercurahkan bagi si pembaca.

Ada tiga tipe orang yang membaca Al-Qur’an:


Pertama, orang yang sibuk memperhatikan tajwid dan makhraj (tempat keluarnya huruf). Orang  seperti ini fokus terhadap cara membaca Al-Qur’an tanpa menghiraukan makna dan kandungan yang tersimpan didalamnya.

Kedua, orang yang sibuk mendalami kandungan makna Al-Qur’an, sibuk mempelajarinya, namun tidak pernah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, orang yang memperhatikan cara membaca yang baik, juga menyempatkan waktu untuk mempelajari kandungan makna Al-Qur’an serta selalu berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Allah menurunkan Al-Qur’an bukan hanya sebagai Kitab bacaan yang berpahala. Allah juga tidak ingin Al-Qur’an hanya dipelajari sebagai ilmu. Namun, Allah swt menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang membimbing manusia untuk menjalani kehidupan dunia yang berliku ini.

Lalu, bagaimana adab membaca Al-Qur’an?

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ -٧٩-

“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.”
(Al-Waqi’ah 79)

Adab membaca Al-Qur’an yang pertama adalah At-Toharoh (kesucian). Untuk membaca Kitab suci disyaratkan harus bersuci terlebih dahulu. Bersuci secara dhohir maupun batin.

Bersuci secara dhohir adalah dengan berwudhu’. Tak layak bagi seorang yang ingin berbincang dengan Tuhannya datang dalam keadaan belum berwudhu’.

Bersuci secara batin adalah ketika kita ingin membaca ataupun mengkaji Al-Qur’an hendaknya kita berusaha untuk mensucikan diri. Bukan hanya mensucikan tubuh dengan berwudhu, namun jiwa ini perlu disucikan agar siap menerima petunjuk Al-Qur’an yang suci. Mustahil kandungan suci Al-Qur’an akan diterima oleh hati dan jiwa yang kotor.

Kedua, Allah mengajari kita untuk Al-Isti’adah (berlindung kepada-Nya) sebelum membaca Al-Qur’an. Sama seperti adab sebelumnya, cara berlindung kepada Allah pun memiliki dua bentuk. Berlindung secara dhohir dan berlindung secara batin. Allah berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ -٩٨-

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca al-Quran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(An-Nahl 98)

Cara berlindung secara dhohir adalah dengan mengucapkan kalimat ini sebelum membaca Al-Qur’an:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung dari setan yang terkutuk

Dan cara berlindung kepada Allah secara batin adalah dengan benar-benar melawan setan dan berlindung dalam semua perilaku kita dari perintah-perintah setan.

Ketiga, kita dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an dengan Tartil. Yang dimaksud dengan Tartil adalah membaca dengan tenang, menjaga bacaan serta makhrajnya dengan benar dan tidak terburu-buru. Imam Ali bin Abi tholib pernah berpesan:

لا يكونن هم احدكم اخر السورة

“Jangan sampai yang menjadi perhatian kalian (ketika membaca Al-Qur’an) adalah akhir dari surat (yang kalian baca).”

Namun tak cukup dengan memperhatikan bacaan, tempat berhenti, makhraj dan tidak terburu-buru. Kita juga dianjurkan untuk membaca dengan Tartil secara batin. Yaitu, ketika sampai pada ayat yang bercerita tentang surga, kita berhenti sejenak untuk meminta surga itu kepada Allah. Dan ketika kita melewati ayat yang menggambarkan pedihnya neraka, kita berhenti sejenak untuk merenung dan meminta perlindungan kepada Allah dari panasnya api neraka.

Keempat, Allah juga ingin kita ber-tadabbur ketika membaca Al-Qur’an. Allah tidak ingin melihat hambanya hanya membaca Al-Qur’an sambil lalu tanpa meresapi kandungan indah didalamnya. Karena Al-Qur’an diturunkan bukan hanya sebagai bahan bacaan namun terdapat berbagai petunjuk bagi jalan hidup manusia yang harus direnungkan. Allah swt berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً -٨٢-

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) al-Quran? Sekiranya (al- Quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”

(An-Nisa’ 82)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا -٢٤-

“Maka tidakkah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

(Muhammad 24)

 Kita telah mengetahui adab membaca Al-Qur’an, lalu bagaimana adab bagi seorang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an?
Allah swt mengajari kita melalui Firman-Nya:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ -٢٠٤-

“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”
(Al-A’raf 204)

Komentar

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY