Khazanahalquran.com – Kita telah membahas 8 pendapat islam tentang harta. Mulai dari harta adalah ujian. Harta hanyalah hiasan. Hingga sifat-sifat orang yang selalu disibukkan dengan hartanya. Nah, kali ini kita akan membahas tentang 5 nasehat Al-Qur’an kepada orang-orang yang kaya.

Islam tidak pernah menuntut pengikutnya untuk menjadi seorang miskin. Bahkan Rasulullah pernah bersabda,

“Ibadah itu ada 70 bagian, dan yang paling afdhol dari itu semua adalah mencari (harta) yang halal”

Kali ini kita akan mengambil pelajaran dari kisah Qorun. Sebelumnya dia adalah pengikut setia Nabi Musa as. Bukan hanya itu, dia juga kerabat dekat Nabi Musa. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa dia sepupu Musa dan menurut riwayat lain, dia adalah paman beliau.

Qorun begitu setia hingga termasuk 70 sahabat pilihan nabi Musa. Namun, ketika taraf hidupnya mulai naik, dia mulai berubah. Ketika telah bergelimang harta, dia mulai lupa. Dia seakan tidak pernah menjadi pengikut Musa as. Dia begitu sombong hingga menuduh dan memfitnah beliau. Dan ketika nabi Musa memerintahkan untuk membagi hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan congkak dia berkata,

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي-٧٨-

Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
(Al-Qashas 78)

Dia begitu kaya raya, gudang penyimpanan hartanya begitu banyak. Hingga kunci-kuncinya pun harus dipikul oleh 10 orang. Sampai suatu saat dia keluar dengan seluruh kemegahannya, dengan congkak dia berjalan ditengah orang-orang miskin. Para pecinta dunia silau dengan kekayaan Qorun dan berkhayal menjadi sepertinya. Sementara orang -orang berilmu yang mengharapkan akhirat tidak terpengaruh dan menasehati Qorun. Dan nasehat inilah yang akan kita ambil pelajaran untuk semua orang kaya.

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ -٧٦-

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah Menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”
(Al-Qashas 77)

Saat itu ada orang-orang mukmin yang tidak silau dengan gemerlap kemegahan Qorun, dan mereka menasehatinya, ada 5 pesan yang mereka berikan untuk si konglomerat ini.

إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ -٧٦-

“Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”

Pertama, janganlah kita berbangga diri atas kekayaan yang kita miliki. Dalam ayat ini Allah menggunakan kata Yafrohu yang artinya adalah “Janganlah engkau bergembira!”. Kata bergembira yang dimaksud adalah gembira yang membuat kita berbangga diri. Euforia yang membuat seorang lupa daratan. Lupa dari tuhannya, lupa dari masa lalunya. Dan para ahli tafsir bersepakat bahwa kata “Janganlah kau bergembira” dalam ayat ini memiliki arti “Janganlah kau menyombongkan diri!”.

Karena dalam ayat lain Allah memperbolehkan kita untuk bergembira. Kegembiraan dalam menyambut nikmat Allah swt. Karena Allah senang melihat hambanya menggunakan nikmat yang telah Dia berikan.

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ -٥٨-

“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(Yunus 58)

Imam Ali bin Abi tholib pernah berkata,

“Aku heran kepada orang yang sombong, padahal awalnya dia adalah air sperma sementara akhirnya adalah bangkai.”

Kedua, jadikanlah kekayaan kita untuk memakmurkan rumah kita di akhirat. Karena seseorang bisa membangun surganya dengan kekayaannya di dunia. Harta adalah pembantu terbaik untuk menemani kita menuju akhirat. Kita bisa meng-investasikan kekayaan kita untuk diambil nanti di surga. Dengan menitipkannya kepada anak yatim dan kepada orang-orang yang membutuhkan.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ-٧٧-

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Dianugerahkan Allah kepadamu.”

Jangan menjadi seorang yang sibuk memperindah rumahnya di dunia tapi tak pernah memperhatikan rumah abadinya nanti. Siapkah kita untuk berpindah dari rumah yang indah di dunia menuju gubuk yang menakutkan di akhirat sana? Semua itu karena kita tidak pernah membangunnya ketika kita hidup di dunia.

Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda bahwa harta yang sebenarnya milik kita adalah yang telah kita berikan kepada orang lain. Harta yang ada ditangan kita jika dimakan akan menjadi kotoran dan jika kita gunakan akan habis tak bersisa.
Ketiga, Jangan lupakan bagian kita di dunia.

وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا -٧٧-

“Janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia”

Nasehat yang ketiga ini memiliki dua makna. Makna yang pertama adalah jangan kita habiskan seluruh harta kita untuk diberikan kepada orang lain. Sehingga keluarga kita kekurangan demi mencukupi orang lain. Jangan habiskan semua harta kita untuk akhirat. Sisakan untuk kita nikmati di dunia. Karena Allah tidak pernah mengharamkan kebaikan yang akan kita nikmati.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ -٣٢-

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?”
(Al-A’raf 32)

Namun Imam Ali memiliki pandangan lain mengenai ayat ini, beliau berkomentar,

“Janganlah kamu lupakan kesehatanmu, kekuatanmu, waktu luangmu, masa mudamu dan semangatmu untuk memperoleh akhirat dengan semua itu.”

Menurut Imam Ali, ayat ini mendukung nasehat yang kedua untuk memperoleh akhirat dengan kesempatan di dunia.
Ke-empat, berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepada kita.

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ -٧٧-

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu.”

Sebagaimana kita ingin selalu mendapatkan kebaikan dari Allah begitupula orang lain yang mengharapkan kebaikan dari kita. Jangan pernah menganggap semua yang kita miliki karena hasil usaha kita sendiri. Bagaimana petani yang menganggap benih tumbuh karena usahanya, sementara air telah tersedia. Kesehatan dia miliki dan Sinar matahari terpancar dengan luasnya. Darimana semua itu jika bukan dari Allah swt.

أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ -٦٤-

“Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang Menumbuhkan?”
(Al-Waqi’ah 64)

Ironis sekali jika manusia selalu mengharap kebaikan dari Tuhannya namun dia tidak pernah memberikan kebaikan untuk sesamanya. Mulailah kita membuang sifat kikir, karena toh kita juga yang akan mendapat manfaat saat memberi orang lain.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا-٧-

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
(Al-Isra’ 7)

Kelima, jangan merusak bumi Allah dengan harta yang telah Dia berikan. Kini harta titipan Allah digunakan untuk merusak bumi-Nya. Menimbulkan perpecahan antar manusia dan menghilangkan rasa aman dari mereka. Sungguh benar jika kita mengatakan bahwa harta akan menjadi bencana jika dipegang oleh seorang yang tidak siap. Bahkan undang-undang pun bisa dirubah ketika uang telah berbicara.

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ -٧٧-

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

5 nasehat itu terangkum dalam Surat Al-Qashas ayat 76-77.

Komentar

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah Postingan ini membuat saya gembira…

    Semoga Allah Subhannahu Wa Ta’ala membalas kebaikan yang anda tulis di postingan ini… Amin…

LEAVE A REPLY