Khazanahalquran.com – Tidak ada anugerah yang lebih besar dari kemuliaan menjadi umat nabi Muhammad saw. Dan tidak ada kesedihan yang lebih besar dari terputusnya wahyu Allah ketika Rasulullah harus pergi meninggalkan kita. Sebelumnya kita telah mendengar banyak keagungan Rasulullah saw diatas para nabi yang lain. Kali ini kita akan lebih mendalami samudera kemuliaan Rasulullah saw.

      12. Ibrahim Meminta Agar Tergolong Orang yang Mewarisi Surga.

Allah berfirman,

وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ -٨٥-

“Dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”

(Asy-Syuara’ 85)

Jika Ibrahim meminta agar termasuk orang yang mewarisi surga maka Rasulullah saw telah diberi surga oleh Allah sebelum ia memintanya.

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَى -٤-

“Dan sungguh, yang kemudian itu (akhirat) lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).”

(Adh-Dhuha 4)

      13. Musa as Mendapatkan Khitob dari Allah swt.

Ingatkah anda ketika Musa mendapat kehormatan untuk memperoleh khitob langsung dari Allah? Allah berfirman,

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِي يَا مُوسَى -١١- إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى -١٢-

“Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Tuhan-mu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”

(Thaha 11-12)

Saat itu Musa mendapatkan khitob dari Allah di bumi, yaitu di gunung Tursina. Sementara Nabi Muhammad saw, beliau memperoleh kemuliaan mendapat khitob langsung dari Allah di Sidrotul Muntaha.

      14. Musa as Tidak Mampu melihat Keagungan Allah swt.

Al-Qur’an menceritakan kisah Musa as ketika berdialog dengan Allah swt dalam firman-Nya,

وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَـكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكّاً وَخَرَّ موسَى صَعِقاً-١٤٣-

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami Tentukan dan Tuhan telah Berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhan-ku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) Berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhan-nya Menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”

(Al-A’raf 143)

Musa as tidak mampu melihat keagungan Allah yang begitu besar sehingga ia pingsan dan gunung pun hancur. Sementara Rasulullah saw, beliau tidak hanya bisa menyaksikan kebesaran Allah saja. Bahkan Rasulullah saw dapat melihat tanda-tanda Allah yang terbesar.

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى -١٦- مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى -١٧- لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى -١٨-

(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhan-nya yang paling besar.”

(An-Najm 18)

Padahal saat itu Rasulullah berada di suatu kedudukan yang Jibril pun tidak mampuberada di posisi itu. Tidak ada satu makhluk pun dari yang awal sampai akhir yang dapat menjangkau kedudukan beliau di sisi Allah swt.

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى -٨- فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى -٩-

“Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).”

(An-Najm 8-9)

      15. Allah Menceritakan Isi Dialog Musa as.

Allah menceritakan dialog-Nya dengan Musa as. Allah berfirman,

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى -١٣-

“Dan Aku telah Memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).”

(Thaha 13)

Pada kelanjutan ayat ini, Allah swt menceritakan semua isi dialog-Nya dengan Musa as. Sementara ketika berdialog dengan Nabi Muhammad saw, Allah merahasiakan isi dialog tersebut.

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى -١٠- مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى -١١-

“Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”

(An-Najm 11)

      16. Musa as Meminta Dilapangkan Hatinya.

Ketika Musa as diperintahkan untuk pergi berdakwah kepada Fir’aun, dia meminta bekal agar Allah melapangkan hatinya.

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى -٢٤- قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي -٢٥-

Pergilah kepada Fir‘aun; dia benar-benar telah melampaui batas.” Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhan-ku, lapangkanlah dadaku..”

(Thaha 24-25)

Musa meminta Allah melapangkan dadanya karena akan menghadapi seorang yang dikenal kejam dan bengis seperti Fir’aun. Sementara Rasulullah saw, sebelum dia meminta dilapangkan dadanya, Allah telah melapangkan dada beliau. Allah berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ -١-

“Bukankah Kami telah Melapangkan dadamu (Muhammad)?”

(Asy-Syarh 1)

      17. Musa as Meminta Dimudahkan Urusannya.

Setelah meminta untuk dilapangkan hatinya, Musa as meminta kepada Allah agar memudahkan segala urusannya.

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي -٢٦-

“Dan mudahkanlah untukku urusanku”

(Thaha 26)

Lagi-lagi, sebelum Rasulullah saw meminta kepada Allah untuk memudahkan segala urusannya, Allah telah memudahkan urusan beliau.

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى -٨-

“Dan Kami akan Memudahkan bagimu ke jalan kemudahan.”

(Al-A’la 8)

      18. Daud as Melumerkan Besi.

Salah satu Mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Daud adalah dapat melumerkan besi. Allah berfirman,

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلاً يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ -١٠-

“Dan sungguh, telah Kami Berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami Berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,” dan Kami telah Melunakkan besi untuknya.”

(Saba’ 10)

Jika Daud dapat melunakkan besi maka Rasulullah saw dapat melunakkan hal yang lebih keras dari besi. Benda yang lebih keras itu adalah hati manusia. Jika hati ini telah keras, sangat sulit untuk melunakkannya. Bayangkan bagaimana Rasulullah bisa menghadapi Kaum Jahiliyah yang memiliki hati yang keras dan adat kekerasan. Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ-١٥٩-

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

(Ali Imran 159)

      19. Musa as Bersama Allah swt.

Ketika Musa as bersama Bani Israil berlari dari kejaran Fir’aun, sampailah mereka didepan lautan. Bani Israil mulai menyalahkan Musa karena mereka akan tertangkap oleh pasukan Fir’aun. Musa menjawab,

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ -٦٢-

Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhan-ku bersamaku, Dia akan Memberi petunjuk kepadaku.”

(Asy-Syuara 62)

Jika Musa as bersama Allah maka dalam ayat lain Al-Qur’an pernah bercerita tentang Rasulullah saw. Saat itu beliau dikejar oleh Kafir Quraisy dan berhenti didalam gua, kemudian beliau bersabda yang diabadikan dalam Al-Qur’an,

لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا-٤٠-

“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

(At-Taubah 40)

Jika kita jeli melihat dua ayat di atas, maka kita akan menemukan perbedaan dari keduanya. Musa mendahulukan kata ma’i yang berarti “aku bersama” sebelum kata Tuhan.

كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي

Sementara Rasulullah saw mendahulukan kata Allah sebelum dirinya. “Allah Bersamaku”

إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

Hal ini menunjukkan tingkatan tauhid yang berbeda antara Rasulullah saw dan Nabi Musa. Dari ayat itu kita dapat melihat bahwa Allah swt selalu menyertai Rasulullah saw.

 

      20. Para Nabi Termasuk dalam Golongan Muslimin.

Allah berfirman tentang Nuh,

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ -٧٢-

“Dan aku diperintah agar aku termasuk golongan orang-orang Muslim (berserah diri).”

(Yunus 72)

Allah berfimran tentang Ibrahim dan Ismail,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ -١٢٨-

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu.”

Allah berfiramn tentang Luth,

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ -٣٦-

“Maka Kami tidak mendapati di dalamnya (negeri itu), kecuali sebuah rumah dari orang-orang Muslim (Luth).”

(Adz-Dzariyat 36)

Allah berfirman tentang Yusuf,

تَوَفَّنِي مُسْلِماً -١٠١-

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim.”

(Yusuf 101)

Para nabi adalah termasuk dari golongan Muslimin atau dalam arti lain sebagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Lalu bagaimana dengan Rasulullah saw?

Rasulullah saw bukan hanya tergolong sebagai golongan Muslimin. Lebih dari itu, Rasulullah adalah awwalul muslimin. Beliau adalah orang pertama yang berserah diri kepada Allah swt. Bahkan ke-musliman beliau mendahului para nabi sebelumnya.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -١٦٢- لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ -١٦٣-

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).”

(Al-An’am 162-163)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ -١١- وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ -١٢-

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.”
(Az-Zumar 11-12)

Mengapa Allah swt Meng-abadikan Keagungan Rasulullah di dalam Al-Qur’an?

Mungkin kita akan bertanya, mengapa Allah memuliakan Nabi Muhammad saw diatas para nabi yang lain dan menceritakannya didalam Al-Qur’an?

Akhir-akhir ini, banyak kelompok yang mengklaim bahwa Rasulullah saw adalah manusia biasa. Mereka mengatakan hal ini berdasarkan pada ayat,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ -١١٠-

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu.”

(Al-Kahfi 110)

Karena itu, Allah menceritakan kemuliaan Nabi Muhammad saw diatas nabi yang lain di dalam Al-Qur’an. Agar tidak ada lagi seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah namun dengan mudah mengatakan Nabi Muhammad saw adalah mausia biasa.

Jika kemuliaan beliau dengan para nabi saja tidak sama, bagaimana kita akan mengatakan Nabi Muhammad sama dengan manusia biasa?

Jika Al-Qur’an memanggil Rasulullah dengan sebutan yang berbeda dengan para nabi lainnya, lantas bagaimana beliau akan dikatakan manusia biasa?

Itulah mengapa kita tidak boleh membaca ayat sepotong-potong. Satu ayat bisa ditafsirkan dengan ayat lain. Jika kita hanya membaca ayat “Celakalah Orang-orang yang sholat!” maka kita pasti akan meninggalkan solat. Semua ayat itu harus di tafsirkan secara utuh dengan melihat ayat-ayat yang lain.

Walaupun sebenarnya, ayat tentang Rasulullah adalah manusia seperti yang lainnya itu menunjukkan keagungan beliau. Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa namun ia mendapatkan wahyu. Dan menempati posisi sebagai seorang yang mendapat wahyu bukanlah hal remeh. Ayat diatas menunjukkan bahwa semua perbuatan beliau di kontrol oleh wahyu dan itu adalah kemuliaan yang amat besar.

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى -٢- وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى -٣-

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain (al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

(An-Najm 2-3)

Muhammad adalah manusia yang tidak seperti manusia.

Tetapi dia adalah permata sementara manusia adalah kerikil biasa.

Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY